Relief Cerita Dinding Borobudur


Chandi Borobudur merupakan salah satu bangunan peribadatan umat Budha yang masuk dalam situs Warisan Budaya Dunia di Indonesia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga membuat seluruh mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya yang mempunyai nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung dalam dan luar negeri.

Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati wisata sejarah, mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam kesempatan menarik ini dengan memberikan narasi dan penjelasan yang bertujuan untuk mengenal dan mempelajari lebih jauh tentang Borobudur. Jelajahi literatur sejarah keberadaan Candi Borobudur pada masa Jawa Kuno dalam tur tematik, dan belajar mendalami keindahan seni rupa ukiran Borobudur.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus, bahkan dianggap paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir adalah relif-relief Karmawibangga, Lalitavistara, Jataka Awadana, dan Gandavyuha pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Cerita

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan.

Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Relief cerita pada dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, terdiri dari hiasan relief (ornamen) sebanyak 1.212 bingkai, dan semuanya tersusun dalam 11 baris mengelilingi bangunan. Kebanyakan relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai alur cerita yang terdiri dari gambar dewa, manusia, binatang, pohon, rumah, dan lain sebagainya.

Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bak kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual mulai dari kaki candi hingga dinding utama di tingkat 1-4. Gambaran ukiran relief yang terpahat pada relief Karmawibhangga diperoleh dari realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuno abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga banyak memuat informasi antara lain keadaan flora dan fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan perempuan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Menjelaskan ciri-ciri yang terdapat pada Borobudur sebagai warisan budaya dunia antara lain sebagai berikut: Struktur batu andesit sebagai monumen keagamaan Buddha yang dibangun pada abad VIII – IX M dari Dinasti Sailendra, arsitektur candi dan stupa, motif pahatan, relief narasi dan simbolik pada candi area, dan lorong galeri, Konsep filosofi Budha pencapaian nirwana pada 10 tingkat struktur candi, Hubungan ketiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon dalam satu barisan imajiner dan prosesi yang masih ada hingga saat ini, bentang alam dan budaya (sungai, sawah, danau purba, rumah pedesaan dan lingkungan pedesaan).

Ciri-ciri masyarakat pedesaan pada masa Jawa Kuna antara lain meliputi beberapa macam bentuk lingkungan sebagai berikut: Atribut bentang alam pedesaan pada masa Jawa Kuna berupa sawah (savah), sawah pasang surut (rénék), sawah tadah hujan (gāga), ladang/tegalan (tgal), kebun (kbuan), hutan (alas), gunung dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, serta pembuatan gerabah. Alat yang digunakan untuk mengenali penafsiran atribut tersebut adalah relief dan prasasti.

Sekilas tentang budaya kehidupan masyarakat pada masa Jawa Kuno, mencakup aktivitas-aktivitas seperti pertanian, pengolahan makanan dan minuman. Ciri-ciri lanskap pedesaan Jawa Kuno mencakup beberapa kawasan yang lebih spesifik terdapat pada lingkungan pertanian dalam hal pengolahan sawah/lahan.

Pada Candi Borobudur terdapat panel-panel relief yang menceritakan tentang aktivitas dalam pertanian. Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan, antara lain: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah Hujan, Sawah/tegalan, Kebun dan Hutan. Pada lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan persawahan dijelaskan dalam pengelolaannya yaitu bahwa sawah masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X Masehi mempunyai tujuan tidak hanya untuk dikelola sebagai kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk kebutuhan menunjang bangunan suci yang ditunjuk sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah.

Relief kapal Borobudur
Gambaran terkenal dari kapal cadik ganda Asia Tenggara abad ke-8 adalah Kapal Borobudur Samudra Raksa, berlayar dari Indonesia ke Afrika. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. photo arisguide.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha.

Relief Borobudur

Chandi Borobudur memang istimewa di kalangan candi-candi Indonesia, bukan hanya karena arsitekturnya yang luar biasa, namun juga kaya akan ukiran relief yang indah dan menakjubkan. Bahkan pahatan dan ukiran relief yang menutupi dinding dan langkan merupakan gambar artistik yang memiliki nilai estetika luar biasa sebagai bangunan suci bagi umat Buddha.

Ukiran relief Borobudur dibedakan menjadi dua jenis yaitu naratif dan dekoratif. Panel 1460 tersebut merupakan relief naratif yang disusun dalam sebelas baris, semuanya dipahat pada batu dan mengelilingi monumen dengan panjang total lebih dari 3000 m. Panel dekoratif 1212, meskipun disusun berjajar, diperlakukan sebagai relief tersendiri.

Tampilan relief seri pertama berasal dari 160 panel naratif yang berada di kaki tersembunyi sehingga tidak terlihat. Untungnya, satu set foto lengkap dibuat tidak lama setelah penemuan kembali, dan foto-foto tersebut dapat diidentifikasi sebagai gambaran kerja hukum karma menurut teks Mahakarmavibhangga.

Sepuluh rangkaian relief naratif lainnya tersebar di seluruh Rupadhatu pada dinding dan langkan keempat galeri. Galeri pertama diapit oleh empat seri; tiga galeri pemasangan berturut-turut lainnya hanya memiliki dua seri. Dinding galeri pertama, setinggi lebih dari 3,5 m, mempunyai dua rangkaian relief yang saling bertumpukan, masing-masing terdiri dari 120 panel.

Para arkeolog menemukan pigmen warna biru, merah, hijau, hitam, serta potongan-potongan kertas emas, dan menyimpulkan bahwa terdapat pada monumen yang merupakan suatu kumpulan batu vulkanik berwarna abu-abu gelap, kurang berwarna atau mungkin pernah dilapisi dengan plester putih varjalepa dan kemudian dicat dengan warna-warna cerah, mungkin berfungsi sebagai mercusuar ajaran Buddha. Plester vajralepa yang sama juga dapat ditemukan di Candi Sari, Kalasan, dan Sewu. Kemungkinan besar relief dasar Borobudur awalnya berwarna-warni, sebelum curah hujan tropis yang deras selama berabad-abad menghilangkan pigmen warnanya.

Panel naratif di dinding dibaca dari kanan ke kiri, sedangkan di langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini sesuai dengan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi yang dilakukan oleh peziarah yang bergerak searah jarum jam dengan tetap menjaga tempat suci di sebelah kanannya.

Relief Dinding Borobudur

Pada dinding-dinding candi di setiap tingkatan, kecuali pada teras-teras lingkaran Arupadhatu, dipahatkan panel-panel relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.

Relief Borobudur juga menerapkan disiplin seni rupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari ataupun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.

Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti.

Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala yang dibuat berdasarkan relief Borobudur dengan nama kapal Samudra Raksa.

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jataka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri daberakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Lokasi relief
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Relief Cerita Borobudur

Relief cerita pada dinding - dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, yang terdiri dari relief dekoratif (hiasan) berjumlah 1.212 pigura, dan seluruhnya tersusun dalam 11 deret yang mengelilingi bangunan. Sebagian besar seluruh relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai jalan cerita yang terdiri atas gambaran dewa, manusia, binatang, pohon, bangunan rumah, dan lain-lain.

Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bagaikan kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual dimulai dari bagian kaki candi sampai dengan dinding lorong tingkat 1-4. Gambaran yang dipahatkan pada relief Karmawibhangga diperoleh dari kenyataan realita hidup sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga menyimpan banyak informasi, diantaranya kondisi flora fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan wanita, dan masih banyak lainnya.

Menjelaskan atribut-atribut Borobudur sebagai warisan budaya dunia meliputi sebagai berikut: Struktur batu andesit sebagai bangunan monumen agama Buddha yang dibangun pada abad VIII – IX M dari Dinasti Sailendra, Arsitektural candi dan stupa, motif pahatan, relief naratif dan simbolis pada bidang candi, dan lorong galeri, Konsep filosifis Buddha untuk mencapai nirwana pada 10 tingkatan struktur candi, Hubungan dari ketiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon dalam satu garis imajiner beserta prosesi yang masih ada sampai sekarang, Lanskap alam dan budaya (sungai, sawah, danau purba, rumah pedesaan, dan lingkungan pedesaan).

Sebagaimana atribut-atribut masyarakat pedesaan pada masa Jawa Kuna meliputi beberapa hal sebagai berikut: Atribut lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuna berupa sawah (savah), sawah pasang surut (rénék), sawah tadah hujan (gāga), ladang/ tegalan (tgal), kebun (kbuan), hutan (alas), gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar, Alat yang digunakan untuk mengenali interpretasi atribut tersebut adalah relief dan prasasti.

Menengok kehidupan masyarakat Jawa Kuno, dalam budaya pertanian dan pengolahan makanan dan minuman. Atribut lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian.

Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan, diantaranya menyebutkan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan. Pada lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya, yaitu bahwa sawah oleh masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X Masehi, mempunyai tujuan tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi saja, tetapi juga untuk kebutuhan dalam menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.

Susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut:
Kaki candi - Karmawibhangga - 160 Pigura.
Tingkat I
Dinding Utama a. Lalitawistara - 120 Pigura. b. Jataka/Awadana - 120 Pigura.
Langkan a. Jataka/Awadana - 372 Pigura. b. Jataka/Awadana - 128 Pigura.
Tingkat II
Dinding - Gandawyuiha;- 128 Pigura.
Langkan - Jataka/Awadana - 100 Pigura.
Tingkat III
Dinding - Gandawyuha - 88 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 88 Pigura.
Tingkat IV
Dinding - Gandawyuha - 84 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 72 Pigura.
Jumlah - 1460 Pigura.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Karmawibhangga pada dinding Kaki Tersembunyi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Kaki Candi Karmawibhangga

Kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta bernilai seni tinggi. Ukiran pada dinding Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha adalah cerita tentang kehidupan duniawi. Kisah ini sangat indah dalam budaya Budha, cerita ini diambil dari naskah/teks Karmawibhangga.

Kamadhatu merupakan bagian kaki atau alas melambangkan dunia yang masih didominasi oleh kama atau nafsu rendah. Bagian ini sebagian besar tidak terlihat dan tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada kaki aslinya terdapat 160 panel relief cerita yang diambil dari teks Karmawibhangga yang saat ini tersembunyi. Sebagian kecil bangunan tambahan di sudut tenggara dibuka sehingga terlihat beberapa relief di bagian ini. Struktur kaki andesit tambahan yang menutupi kaki asli mempunyai volume kurang lebih 13.000 meter kubik.

Kaki candi (Hidden Foot). Relief  Karmawibhangga
Keindahan seni ukir relif Karmawibhangga naskah yang menggambarkan ajaran-ajaran mengenai karma dinding kaki tersembunyi Kamadhatu, Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief pada 'kaki tersembunyi' ini dikhususkan untuk hukum karma yang tidak dapat dielakkan. Ke-160 panel relief tersebut tidak menceritakan kisah atau narasi yang saling berkesinambungan, namun masing-masing memberikan gambaran lengkap tentang sebab dan akibat. Terdapat 117 panel relief pertama menunjukkan berbagai tindakan yang menghasilkan atau menghasilkan akibat yang sama, sedangkan 43 panel relief lainnya menunjukkan banyak hasil yang dapat diperoleh dari satu jenis tindakan.

Menyalahkan aktivitas yang layak, mulai dari gosip hingga pembunuhan, dengan hukuman api penyucian yang pantas, dan aktivitas terpuji, seperti amal dan ziarah ke tempat suci, dan pahala berikutnya, keduanya ditampilkan. Penderitaan neraka dan kenikmatan surga, serta pemandangan kehidupan sehari-hari terwakili dalam panorama samsara yang utuh, siklus kelahiran dan kematian yang tiada akhir, rantai segala bentuk keberadaan khayalan yang menjadi tempat pelarian agama Buddha.

Kaki candi yang tersembunyi terdapat deretan relief yang tertulis dalam teks Karmawibhangga yang menjelaskan ajaran karma. Secara keseluruhan merupakan gambaran kehidupan manusia dalam siklus kelahiran – kehidupan – kematian (samsara) yang tidak ada habisnya, dan menurut agama Budha, rantai ini akan berakhir pada jalan menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara saja yang terbuka dan bisa dilihat pengunjung.

Salah satu cerita pada relief Borobudur, kaki candi yang tersembunyi terdapat ukiran Karmawibhangga pada dinding sudut tenggara, relief tersebut tertulis pada teks Karmawibhangga. Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief-relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung menggambarkan hukum karma, yaitu cerita tentang kehidupan duniawi dan hukum sebab akibat.

Karmawibhangga merupakan teks yang menguraikan ajaran tentang karma, yaitu sebab akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukanlah rangkaian cerita, melainkan setiap bingkainya menggambarkan sebuah cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief ini tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan tercela manusia disertai hukuman yang akan diterimanya, namun juga perbuatan baik dan pahala manusia.

Relief cerita Karmawibhangga menggambarkan sesuai dengan makna simbolik pada kaki candi, panel-panel relief yang menghiasi dinding Batur yang saat ini tertutup dan tersembunyi menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga merupakan teks yang menguraikan ajaran tentang karma yaitu sebab akibat dan perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukanlah rangkaian cerita, melainkan setiap bingkainya menggambarkan sebuah cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief-relief tersebut tidak hanya menggambarkan perbuatan tercela manusia yang disertai hukuman yang akan diterimanya, namun juga perbuatan baik manusia serta imbalan yang akan diterimanya.

Kaki candi Kamadhatu
Relief Karmavibhangga 'kaki tersembunyi'. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Mengeksplorasi narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa dalam mengenal peninggalan budaya leluhur Candi Borobudur pada zaman Jawa Kuno. Kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpahat pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta bernilai seni tinggi. Ukiran pada dinding utama Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha merupakan cerita tentang kehidupan Sidharta Gautama. Kisah ini sangat indah dan indah dalam budaya Budha, cerita ini diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Lalitavistara pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dinding Utama Lalitawistara

Chandi Borobudur kaya akan cerita relief, terdapat 1.460 ukiran cerita dan 1.212 ukiran dekoratif yang indah dan anggun. Yang menggambarkan nilai seni estetis budaya Buddha adalah cerita di dinding utama tentang riwayat hidup Sidharta Gautama yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lalitavistara adalah cerita atau naskah tentang penggambaran sejarah Sidharta Gautama dalam rangkaian relief (tetapi bukan sejarah lengkap), yang digambarkan dan dipahat pada dinding Borobudur, dimulai dari turunnya Sang Buddha dari Surga Tushita, dan diakhiri dengan khotbah atau ceramah pertama di Taman Rusa (Taman Kijang) dekat kota Banaras.

Relief Lalitavistara terdiri dari 120 panel relief yang berjejer mulai dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief tersebut pengunjung berjalan melalui rangkaian lorong dinding utama dengan menggunakan metode Pradaksina yaitu berjalan memutari lorong tersebut searah jarum jam. Berjalan ke arah selatan, dimulailah panel-panel relief pada selasar lantai 2 tembok utama Borobudur pada panel-panel relief deretan cerita paling atas.

Sutra Lalitavistara sendiri ditulis sekitar abad pertama hingga ketiga Masehi. Dalam buku ini terdapat beberapa aspek lama yang berasal dari legenda lisan, dan juga unsur-unsur yang berkembang belakangan ini yang tidak ditemukan dalam sejarah Buddhis versi lama.

Sutra Lalitawistara adalah cerita tentang penggambaran riwayat hidup Sang Buddha Sidharta Gautama dalam rangkaian relief (namun bukan sejarah lengkap) dimulai dari turunnya Sang Buddha dari kayangan Tushita, dan diakhiri dengan khotbah pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras.

Relief tersebut melapisi tangga di sisi selatan, setelah melewati deretan 27 bingkai relief yang dimulai dari tangga di sisi timur. Ke-27 bingkai tersebut menggambarkan kesibukan, baik di surga maupun di bumi, dalam persiapan menyambut kedatangan inkarnasi terakhir Bodhisattva sebagai calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu.

Relief tersebut terdiri dari 120 frame yang diakhiri dengan khotbah pertama yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma. Ajaran Buddha disebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan dengan roda.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur

Keindahan seni ukir relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sutra Lalitavistara sendiri ditulis sekitar abad pertama hingga ketiga Masehi. Dalam buku ini terdapat beberapa aspek lama yang berasal dari legenda lisan, dan juga unsur-unsur yang berkembang kemudian yang tidak ditemukan dalam sejarah Buddhis versi lama. Kitab ini sangat terkenal di kalangan umat Buddha Mahayana dan Vajrayana, namun tidak dikenal di kalangan Buddha Theravada. Diantara seluruh rangkaian relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara merupakan yang paling lengkap.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum beliau dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya adalah pokok-pokok yang menonjolkan perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Bodhisattva dengan makhluk lainnya.

Beberapa cerita Jataka menampilkan fabel, yaitu cerita yang melibatkan tokoh binatang yang bertindak dan berpikir seperti manusia. Padahal, akumulasi pahala atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam upaya mencapai tingkat Kebuddhaan.

Sedangkan Awadana pada dasarnya hampir sama dengan Jataka, namun pelakunya bukanlah Bodhisattwa, melainkan orang lain dan cerita-ceritanya dikumpulkan dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan ketuhanan yang mulia, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam satu baris tanpa dibedakan. Kumpulan kisah hidup Bodhisattva yang paling terkenal adalah Jatakamala atau rangkaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup pada abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Deretan relief yang menghiasi dinding lorong ke-2, merupakan kisah Sudhana yang melakukan perjalanan tanpa mengenal lelah dalam pencariannya akan Pengetahuan Hakiki Kebenaran Sejati karya Sudhana. Penggambaran dalam 460 bingkai berdasarkan kitab Buddha Mahayana berjudul Gandawyuha, dan bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lain yaitu Bhadracari. Rancangan cerdik ini menjelaskan konsep peralihan ke keadaan tanpa tubuh, yaitu patung Buddha ada tetapi tidak terlihat.

Candi Borobudur

Chandi Borobudur, candi yang megah dan kurang dikenal merupakan gunung kebajikan dan untuk pertama kali merupakan sebuah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, menarik perhatian mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang dicita-citakan semua umat Buddha.

Sejarah menyebutkan bahwa Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Borobudur atau dikenal juga dengan nama Barabudur, merupakan candi suci umat Buddha. Nama Candi Borobudur berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' yang berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari kata Bali 'beduhur' yang berarti ' di atas' atau 'bukit'. Sehingga arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke 8 atau 9 Masehi, pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.

Borobudur merupakan candi Buddha Mahayana yang terdiri dari enam teras persegi dan tiga teras melingkar, serta terdapat stupa terbesar di tengahnya, dikelilingi oleh 72 stupa yang saling bertautan, serta dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Menilik sejarah Chandi Borobudur, bangunan suci ini terletak di atas bukit dan dibangun di tengahnya serta dikelilingi oleh beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terlihat Gunung Merbabu dan Merapi. Ke arah utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur.

Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam Borobudur Pamong Carita.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments

Popular Posts