Menyelamatkan Candi Borobudur dengan Pemugaran
Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Borobudur merupakan bagian dari salah satu situs warisan budaya dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan menyampaikan penuturan dan penjelasan sebagai bentuk apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Mempelajari budaya Borobudur bersama pemandu wisata merupakan langkah yang tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam perjalanan wisata yang menarik ini dengan memberikan penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan perjalanan yang menarik untuk mengeksplorasi secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolik yang terkandung dalam relief dan teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin sulit dipahami jika Anda hanya melihatnya sendiri.
Candi Borobudur dan sekitarnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena bangunan ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Kemegahan dan keindahan warisan budaya ini mempunyai nilai dan makna sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung domestik dan mancanegara.
Candi Borobudur beserta kawasannya menarik minat wisatawan untuk berwisata dan memperdalam wawasan yang luas tentang sejarah, budaya, dan arsitektur seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, keunikan, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menghargai, dan mendukung upaya pelestarian cagar budaya guna menjaga warisan budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas bagi pengunjung dalam dan luar negeri. Pembukaan kembali Borobudur untuk pariwisata telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, sebagai apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.
Jelajahi narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa peninggalan budaya leluhur Candi Borobudur pada zaman Jawa Kuno. Ini adalah kesempatan yang menyenangkan untuk menelusuri beberapa sumber narasi tentang sejarah awal Borobudur. Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia, merupakan kesempatan menyenangkan untuk menggali beberapa sumber sastra dan literasi tentang keberadaan Borobudur.
PEMUGARAN BOROBUDUR
Kemegahan dan keindahan arsitektur Candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Buddha telah mengundang perhatian dunia international, sehingga bangunan ini pernah menyandang sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Berbagai upaya penyelamatan Borobudur telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan juga dunia internasional melalui UNESCO. Dalam pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan bangunan ini dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur.
Menengok masa kejayaan Borobudur tidak lepas dari perhatian yang menyeluruh untuk mengembalikan kemegahan Borobudur seperti dulu pada saat masa pembangunan oleh wangsa Syailendra. Perhatian dan kepedulian pemerintah Indonesia secara nyata diwujudkan dalam bentuk pemugaran, dan Borobudur pernah mengalami beberapa pemugaran. Pemugaran yang paling besar dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dan kerjasama dengan UNESCO.
Membayangkan tentang kemegahan arsitektur candi Borobudur, dengan bentuk bangunan yang besar dan mempunyai sembilan lantai serta tersusun dari dua juta blok batu, maka diperlukan untuk pemeliharaan dan konservasi demi kelangsungan bangunan ini. Menyikapi bagaimana untuk membuat Borobudur tetap kuat, kokoh dan bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama.
Berpikir juga Borobudur berada cukup dekat dengan gunung Merapi, gunung yang masih aktif dan letusannya berdampak pada bangunan ini. Kerusakan pada bangunan ini berhubungan dengan akibat bencana erupsi ini akan berdampak pada gempa yang dapat mengakibatkan kerusakan seperti runtuhnya dinding dan lantai melesak, serta debu vulkanik yang bersifat asam dapat menimbulkan korosi pada batu.
Melihat dari dekat bahwa tempat untuk membangun Borobudur, berada pada daerah atau tempat rawan bencana seperti yang dijelaskan dalam sejarah bahwa bangunan ini pernah terkubur debu vulkanik. Sekitar abad 8-9 Masehi bangunan suci umat Buddha pernah mengalami masa dimana tidak terurus, terbengkalai dan terabaikan, sehingga mengalami keruntuhan, kerusakan dan banyak batu-batu yang hilang.
Akibat bencana alam dan letusan gunung Merapi, Borobudur tertutup abu vulkanik dan ditumbuhi semak belukar, hal ini telah menyebabkan Borobudur tidak digunakan lagi sebagai bangunan suci tempat peribadatan bagi pemeluk agama Buddha. Borobudur ditinggalkan dan tidak terurus sebagaimana yang tertulis dalam sejarah menyebutkan buku "Babad Tanah Jawi" tahun 1709 dan "Babad Tanah Mataram" tahun 1757.
Setelah sekian lama Borobudur terisolir dan terkubur didalam bukit, hingga pada tahun 1814, penduduk yang tinggal didaerah sekitar bangunan ini menyebutkan dan memberitahukan tentang adanya bangunan suci yang tertimbun tanah serta berada didalam bukit sehingga hal ini menarik perhatian untuk diteliti. Keberadaan Borobudur mulai mendapat perhatian yang sangat serius untuk di investigasi pertama kali oleh Thomas Stanford Raffles, pada saat menjabat sebagai seorang Gubernur Jenderal Inggris yang berada di Jawa.
Menurut sejarah Raffles adalah orang pertama yang menemukan Candi Borobudur. Dalam upaya pembukaan bangunan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Raffles merupakan salah satu kesempatan yang sangat penting dalam penemuan kembali dan untuk mengenalkan serta membuka kembali Borobudur kepada dunia internasional. Kemudian pada tahun 1815, aktivitas selanjutnya dilakukan oleh seorang insinyur Belanda H.C Cornelius yang dibantu oleh sekitar 200 orang selama 45 hari, bekerja untuk membersihkan, memindahkan tanah dan semak-semak yang menutupi Borobudur.
Upaya pembersihan selanjutnya untuk membuka Borobudur dilakukan pada tahun 1835 yang di komandani oleh Hartman seorang Residen Kedu. Pada waktu itu dilakukan juga untuk lebih detil dalam mendiskripsikan tentang bangunan ini. Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh Brumun dan untuk mengambil sketsa gambar Borobudur dilakukan oleh Wilson.
Pada tahun 1885 Jan Willem Ijzerman, seorang insinyur yang pada saat itu menjabat sebagai kepala dari Archeologische Vereniging Yogyakarta atau Sarekat Arkeologi, melakukan penelitian pada bagian struktur kaki dasar Borobudur. Dalam penelitian tersebut dilakukan penggalian pada bagian dasar kaki dan menemukan struktur lantai dasar Borobudur dalam bentuk deretan ukiran relief yang lebih dikenal sebagai cerita relief yang diambil dalam naskah Karmawibhangga. Pada waktu itu yang mempunyai kesempatan dalam dokumentasi pengambilan gambar dan foto-foto seluruh ukiran relief adalah seorang fotografer bernama Kassian Cephas, yang diminta untuk membuat keseluruhan foto dari 160 panil relief yang ada di lantai dasar tersebut.
Susunan batu pada struktur Borobudur menggunakan bahan material yang berada pada tempat terbuka, sehingga rawan terhadap kondisi lingkungan. Beberapa dampak pada batu-batu bangunan ini seperti sinar matahari, air hujan, temperatur dan cuaca mempunyai pengaruh yang besar terhadap kondisi keawetan batu. Aktifitas dalam pembersihan batu-batu dari lapisan tanah, debu vulkanik, semak belukar dan pepohonan akan membiarkan bagian struktur batu terbuka dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan. Selain perubahan temperature, cuaca, dan kelembaban udara, hal yang cukup serius dan merupakan ancaman terhadap kerusakan bangunan ini berkaitan dengan adanya interaksi dan pengaruh air.
Air pada dasarnya mempunyai pengaruh yang dapat meningkatkan kelembaban dan mempercepat pelapukan batu. Selain dari bahan materi batu itu sendiri, air yang masuk dan berada didalam tanah akan menyebabkan tanah menjadi air jenuh dan sehingga daya dukung penyerapan air menjadi menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelongsoran dan penurunan stabilitas daya dukung tanah, mengingat letak susunan batu Borobudur yang berada dan dibangun diatas bukit.
Selain berbagai faktor alam yang menyebabkan kerusakan pada susunan batu Borobudur, aktifitas-aktifitas yang dilakukan sebelum pemugaran juga memberikan dampak dan pengaruh terhadap susunan batu. Seperti yang diketahui dari beberapa penjelasan, bahwa bagian atas yang berbentuk stupa besar Borobudur pernah dibuka dengan tujuan untuk mengetahui dan mencari kemungkinan adanya temuan benda-benda antik dan juga perhiasan yang tersimpan didalam stupa tersebut.
Akan tetapi didalam stupa besar bukan benda berharga yang dapat ditemukan, melainkan satu patung Buddha yang belum selesai atau tidak utuh yang lebih dikenal dengan nama arca unfinished Buddha yang berada didalam stupa besar tersebut. Selain hal itu, dalam penelitian bagian atas stupa besar tersebut juga pernah digunakan sebagai gardu untuk tempat melihat pemandangan disekitar Borobudur.
Beberapa hal yang menyebabkan tingkat pelapukan dan kerusakan batu pada bangunan ini, bukan hanya berasal dari lingkungan seperti cuaca, temperature dan kelembaban, akan tetapi upaya penelitian dan observasi, pembuatan dokumentasi percetakan dan konservasi yang dilakukan pada waktu itu, telah memberikan dampak pada Borobudur.
Dalam upaya konservasi yang pernah dilaksanakan seperti pembersihan gula pada pori-pori batu dan pembersihan akar pohon yang tumbuh pada struktur batu Borobudur, menggunakan bahan kimia yang ramah lingkungan. Upaya dalam menduplikasi, membuat salinan relief menggunakan metode teknik abklats juga pernah dilakukan, akan tetapi dalam pembuatan cetakan relief tidak menggunakan pelapis khusus, sehingga meninggalkan kerak sisa semen dan bahan-bahan kimia yang digunakan masih menempel pada dinding relief, bahkan sampai saat ini beberapa diantaranya masih dapat ditemukan di Candi Borobudur.
Pada tahun 1899, dalam penelitian ditemukan bekas lapisan plester yang menempel pada sejumlah relief-relief Borobudur. Lapisan plester ini sulit dihilangkan dan menjadi pertanyaan apakah lapisan plester ini berasal dari awal pembangunan Borobudur atau hal ini dilakukan hanya untuk melapisi beberapa bagian tertentu dari relief-relief tersebut. Diketahui bahwa plester yang menempel pada dinding relief merupakan sisa-sisa dari bahan untuk pembuatan salinan gambar relief yang menggunakan plester sebagai media cetak. Pada waktu itu beberapa panil relief telah dicetak dengan tujuan sebagai salah satu media yang akan digunakan untuk pameran di Paris pada tahun 1900.
PEMUGARAN BOROBUDUR
Candi Borobudur mulai mendapatkan perhatian setelah pada tahun 1885, Yzerman menemukan bagian dasar yang disebut kaki tersembunyi pada bangunan ini. Sehingga penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah-langkah dalam menjaga kelestarian bangunan ini melalui pemugaran.
Berawal pada tahun 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri dari tiga pejabat untuk meneliti Borobudur yaitu Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, seorang insinyur ahli dalam konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Selanjutnya pada tahun 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah untuk rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang sangat mendesak harus segera diatasi dengan cara mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain disebelahnya, memperkuat dinding pada bagian pagar langkan pertama, dan membongkar serta memugar beberapa relung, pintu gerbang, stupa dan stupa utama.
Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran talang air. Ketiga, semua batuan yang lepas dan longgar harus dipindahkan, bangunan ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Penggunaan keseluruhan biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir kurang lebih sekitar 48.800 Gulden.
PEMUGARAN I THEODORE VAN ERP
Theodor Van Erp merupakan salah satu tokoh yang tidak lepas dari perjalanan panjang keberadaan Candi Borobudur sampai saat ini. Tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Van Erp ini, adalah merupakan perintis pemugaran dan restorasi Borobudur yang pertama dari tahun 1907 – 1911.
Van Erp lahir di Ambon pada 26 Maret 1874 ini, tidak hanya dikenal dalam dunia purbakala dan arkemiiologi saja, namun juga dikenal oleh masyarakat luas. Latar belakang Van Erp sendiri merupakan seorang militer yang berjasa dan telah meluangkan sebagian besar waktunya dengan gagasan untuk menyelamatkan melalui pemugaran Candi Borobudur.
Rintisan pertama kali pembersihan dan pembukaan batu-batu Borobudur yang tertutup debu vulkanik berada didalam bukit yang dilakukan oleh Cornelius atas perintah Raffles sebagai Gubernur Jenderal Inggris pada tahun 1814, telah mengantarkan bangunan peninggalan Wangsa Syailendera ini, pada keadaan tidak terurus dan terbengkalai selama kurang lebih 93 tahun. Kemudian pada akhirnya upaya penyelamatan awal Candi Borobudur dimulai pada tahun 1907, melalui pemugaran yang dipimpin oleh Van Erp dengan waktu penyelesaian selama 4 tahun.
Pelaksanaan pemugaran Van Erp dilakukan pada tahun 1907 - 1911, dan menggunakan prinsip anastilosis. Pada tujuh bulan pertama dilakukan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala Buddha yang hilang dan panel-panel batu. Van Erp saat itu membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak.
Proses pemugaran pertama yang dipimpin oleh Van Erp, dilakukan secara terperinci dan menggunakan alur yang sistematis. Pemugaran ini dilakukan melalui beberapa tahapan persiapan seperti pembentukan panitia untuk proses pemugaran, melakukan pembersihan bangunan, pengumpulan data-data yang berhubungan dengan Borobudur, melakukan penelitian teknis yang berkaitan dengan aspek fisik, serta pembuatan perencanaan secara teknis dan metode pemugaran yang akan dilakukan dengan estimasi perincian kebutuhan anggaran dan biaya yang diperlukan.
Permasalahan teknis yang terdapat dalam proses pemugaran Van Erp ini adalah air dan deformasi tanah bukit tempat dimana bangunan ini dibangun. Sebagian besar masalah air ini, telah memberikan dampak yang cukup besar dan serius terhadap proses pelapukan batu-batu bangunan penyusun candi, terutama pelapukan pada batu dinding-dinding panil relief.
Letak batu-batu pada sebagian besar dinding, terutama yang berinteraksi dengan lapisan tanah bukit akan sangat rentan terhadap aliran rembesan air tanah bukit yang kemudian keluar melalui sela-sela batu, dan meninggalkan material-material yang dapat merusak batuan, seperti terjadinya penggaraman pada struktur batuan. Upaya dalam pemugaran ini, secara umum adalah penanganan permasalahan air, yang menjadi salah satu konsentrasi pekerjaan pada pemugaran Van Erp.
Sebelum dilakukan penanganan pada permasalahan air ini, terlebih dahulu dilakukan upaya pengembalian batu pada tempat semula. Proses pencocokan batu lepas ini, lebih banyak disebut dengan istilah Anastilosis yaitu cara pengembalian batu-batu yang lepas ke tempat awal batu itu disusun ke dalam tata letak bangunan. Pada metode anastilosis, memperhatikan bagaimana batu yang akan dipasang, tidak diperkenankan untuk melakukan interpretasi bentuk struktur tanpa menemukan material aslinya. Perbandingan yang dilakukan berdasar pada struktur dan susunan batu yang sudah ada. Metode ini pada masa itu dikerjakan oleh pekerja-pekerja dengan sebutan para “ngawulo watu” (dalam bahasa Jawa) atau para pemerhati batu yang dikenal karena keahlian dalam konstruksi batu.
Pemugaran pada era Van Erp melalui metode anastilosis ini pada dasarnya merupakan upaya mengembalikan komponen struktural dan arsitektural Borobudur dengan tetap menjaga prinsip otensitas dan integritas, keutuhan dan kemegahan bangunan ini. Upaya pemasangan spesi mortar pada bagian celah-celah batu ini dimaksudkan untuk mengurangi volume air yang masuk kedalam struktur tanah bukit Borobudur. Air yang masuk kedalam struktur tanah bukit berlebih akan menyebabkan jenuh air dan daya dukung tanah menurun sehingga rawan terjadi kelongsoran. Upaya menanggulangi pengaruh air pada perawatan batuan dan dampak yang terjadi pada struktur Borobudur dipusatkan juga pada bagian selasar dan undag.
Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar hampir ke seluruh bagian bangunan dan merusak batuan. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.
TEHNIK REKONSTRUKSI VAN ERP
Dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun, keberhasilan pemugaran Candi Borobudur yang pernah dilakukan oleh Van Erp masih bertahan dan dapat dilihat sampai saat ini, khususnya pada bagian selasar dan lantai plateau. Hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp merupakan satu bentuk respon yang cepat untuk menyelamatkan bangunan peninggalan masa lalu yang mempunyai nilai universal luar biasa. Upaya dalam mengembalikan bentuk komponen struktural dan arsitektural Candi Borobudur terbilang cukup sukses hingga bertahan sampai saat ini. Prinsip pengembalian bentuk sesuai dengan desain aslinya dan intervensi penggunaan material baru seminimal mungkin sudah diterapkan pada masa Van Erp, dan metode ini akan menjadi langkah awal bagi pemerintah untuk menerapkan dalam prinsip pemugaran cagar budaya di Indonesia.
Pemugaran Van Erp telah menjadi titik awal dalam memperkenalkan dan menerapkan metode pencocokan batu yang sampai saat ini masih digunakan dan banyak dipelajari dalam setiap workshop, pelatihan maupun diklat-diklat pelestarian yang dikenal dengan METODE ANASTILOSIS. Dari mulai tahap persiapan, perencanaan awal yang dilakukan dengan skema terperinci dan mendetail, pemugaran Van Erp telah memperhitungkan segala sesuatunya secara cermat. Prinsip untuk mempertahankan bentuk asli bangunan menjadi hal pokok yang mendasari semua penanganan dan rekonstruksi Candi Borobudur.
Upaya penyelamatan Borobudur tetap dilakukan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana dan minimal setelah pemugaran pertama. Selain itu upaya penyelamatan Borobudur juga dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga purbakala pada kurun waktu 1960-1965.
PEMUGARAN II CANDI BOROBUDUR
Dari beberapa catatan disebutkan Pemerintah melalui Dinas Purbakala melakukan penelitian dan penggalian arkeologi disekitar Borobudur. Sebagai bangunan tempat peribadatan umat Buddha, Candi Borobudur pada awalnya merupakan tempat untuk aktivitas keagamaan dan pernah dilakukan disekitar bangunan ini. Penggalian yang dilakukan di halaman sebelah barat laut Borobudur, telah ditemukan dua pondasi bangunan dari batu bata, merupakan sisa-sisa bekas pondasi suatu bangunan.
Di dalam area sisa bangunan pertama ditemukan berbagai artefak-artefak penting, salah satu artefak adalah genta yang cukup besar. Menurut Soekmono, genta tersebut merupakan genta terbesar di Indonesia, sehingga kemungkinan dahulu terdapat wihara yang dibangun cukup dekat dengan Candi Borobudur. Hal ini bisa diasumsikan keberadaan genta tersebut dapat dijadikan dasar penafsiran bahwa sisa bangunan yang ditemukan di bawah permukaan tanah itu diduga sebagai wihara dengan gaya arsitektur kayu yang memiliki lonceng wihara yang besar.
Mengulas dan mencermati pemugaran yang pernah dilakukan oleh Van Erp, menyebutkan beberapa permasalahan belum ada penanganan terutama pada kerusakan batu dan air. Pemugaran Van Erp lebih menangani bangunan ini secara umum dengan konsentrasi pada bagian kaki (Kamadhatu) dan bagian atas (Arupadhatu), sedangkan pada bagian tubuh (Rupadhatu), belum sepenuhnya dilakukan pemugaran secara tuntas. Disamping kondisi umur batuan dan perubahan klimatologi lingkungan, aktivitas dokumentasi yang pernah dilakukan pada pemugaran Van Erp juga meninggalkan beberapa hal-hal yang serius, seperti sisa semen dan lapisan 'oker', yaitu pewarna yang digunakan untuk menambah nilai estetika dan keindahan hasil foto.
Pemerintah pada masa itu melalui Presiden Sukarno juga memiliki perhatian yang sangat serius dalam penanganan Candi Borobudur. Pemerintah dalam hal ini berencana untuk memberikan dana khusus sebagai biaya perbaikan pemugaran Borobudur sebesar Rp. 500.000.000,00.
Hingga pada tahun 1960 mulai dirintis ide dan gagasan untuk mengatasi permasalahan air pada bangunan ini yang menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya kerusakan batu pada struktur Borobudur. Muncul gagasan untuk membongkar, dan mendesain ulang saluran air dengan pola aliran satu arah, namun dalam pelaksanaan masih terkendala secara teknis. Pada akhir periode 1963 beberapa pekerjaan persiapan mulai dilakukan. Perekaman data Borobudur mulai dilaksanakan melalui beberapa pendokumentasian dalam pengukuran, pembuatan sketsa-sketsa gambar dan pengambilan foto bangunan ini untuk mengidentifikasi kerusakan dan deformasi struktur yang terjadi.
Pada bulan Agustus 1967 ketika Soekmono menghadiri ”International Congress of Orientalists” yang ke-27, dalam kesempatan tersebut telah disampaikan paper tentang problem – problem di Borobudur (New light on some Borobudur Problem). Hal ini ternyata mendapat respon yang luar biasa, seluruh peserta sepakat untuk mendesak UNESCO membantu Indonesia dalam usaha penyelematan Candi Borobudur. Kemudian UNESCO mengirim beberapa ahli ke Borobudur seperti Grosliar ahli pemugaran candi dari Perancis yang sedang mengadakan pemugaran di Angkor (Kamboja) dan C. Voute ahli hydrogeology dari Belanda.
Akhirnya proyek pemugaran ini direspon yang cepat, mulai tahun 1968, para ahli dari beberapa negara datang secara bergiliran untuk melakukan penelitian di tempat, dan bekerja sama erat dengan Institut Arkeologi dan juga berbagai lembaga-lembagai pemerintah.
Selain beberapa tenaga ahli dari seluruh dunia yang dkirim UNESCO, dalam program kerja perencanaan pemugaran juga disiapkan oleh tenaga ahli dari Indonesia, didampingi oleh NEDECO (Nederlands Engineering Consultants). Setelah draff pedoman kerja rencana pemugaran Borobudur selesai disusun oleh NEDECO dan pemerintah Indonesia, kemudian pada tanggal 10 Agustus 1973 dimulailah pemugaran Candi Borobudur yang diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Chandi Borobudur menghadapi suatu kehancuran yang akan segera terjadi akibat runtuhnya struktur dan hancurnya batu-batu bangunan. Satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghentikan infiltrasi adalah dengan melakukan rekonstruksi lengkap bangunan ini dan memperkenalkan sistem drainase yang dirancang dengan baik, dan upaya penanganan pada batu tidak akan menghentikan proses pembusukan namun sebaliknya dapat menyebabkan kerusakan tambahan.
PERSIAPAN PEMUGARAN II
Beberapa persiapan teknis pada proyek pemugaran kedua ini, Pemerintah Indonesia dan UNESCO mempersiapkan pengadaan peralatan, bahan serta tenaga ahli. Dalam pelaksanaannya, menggunakan peralatan modern seperti crane, dan alat transportasi serta peralatan teknis lainnya. Langkah yang pertama, pembongkaran batu dan memindahkan ke tempat pembersihan. Pembuatan prasarana penyimpanan batu-batu yang berada di sebelah barat daya Borobudur (sekarang lapangan gunardarma).
Pada tahun 1973, rencana induk untuk memulihkan Candi Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh bangunan ini dalam suatu proyek pemugaran yang besar antara tahun 1975 dan 1982.
PELAKSANAAN PEMUGARAN II
Pondasi bangunan diperkukuh dan sejumlah 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam candi. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan.
Lebih dari satu juta batu dibongkar dan dipindahkan selama pemugaran, dan disisihkan seperti potongan-potongan puzzle besar untuk diidentifikasi secara individual, dikatalogkan, dibersihkan, dan diolah untuk pelestarian dan pemeliharaan. Borobudur menjadi tempat uji coba teknik konservasi baru, termasuk prosedur baru untuk melawan mikroorganisme yang menyerang batu tersebut. Fondasinya distabilkan, dan seluruh 1.460 panel dibersihkan. Pemugaran tersebut meliputi pembongkaran lima teras persegi dan perbaikan drainase dengan memasang saluran air ke dalam susunan bangunan. Lapisan kedap air dan lapisan filter ditambahkan kemudian.
Proyek pemugaran ini melibatkan sekitar 600 orang tenaga ahli untuk membongkar bangunan tersebut dan membutuhkan jumlah biaya total sekitar US$6.901.243. Sangat penting bagi UNESCO untuk memberikan dukungan dan mulai berupaya dalam mengumpulkan dana untuk pemugaran. Dari tahun 1968 hingga 1983, penelitian hingga pemugaran dilakukan di bawah UNESCO. Para ahli dari seluruh dunia datang untuk membantu pembongkaran dan rekayasa ulang situs tersebut. Banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan prosedur-prosedur untuk mencegah kerusakan akibat mikroorganisme yang menggerogoti batu Borobudur.
KAKI CANDI SUDUT TENGGARA (HIDDEN FOOT) SETELAH PEMUGARAN II Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur - arisguide. |
Pada akhirnya, UNESCO mendaftarkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.
Hal ini tercantum dalam kriteria Budaya (i) "mewakili mahakarya kejeniusan kreatif manusia", (ii) "menunjukkan pertukaran nilai-nilai kemanusiaan yang penting, dalam kurun waktu tertentu atau dalam wilayah budaya dunia, mengenai perkembangan di bidang budaya." arsitektur atau teknologi, seni monumental, perencanaan kota atau desain lanskap", dan (vi) "secara langsung atau nyata dikaitkan dengan peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan, atau dengan kepercayaan, dengan karya seni dan sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".
No Past No Future
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - Wisata bersama Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments
Post a Comment