Menelusuri Sejarah Prasasti Borobudur
Selamat datang di Candi Borobudur, senang dengan perjalanan wisata budaya, mengunjungi kemegahan dan keindahan bangunan ini, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Mempelajari budaya Borobudur bersama pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam perjalanan wisata yang menarik ini dengan memberikan penjelasan-penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk berwisata guna menelusuri secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang terkandung dalam relief serta teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin sulit dipahami jika Anda hanya melihatnya sendiri.
Kemegahan dan keindahan Borobudur menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan spiritual yang tinggi. Pemandu wisata akan memberikan perspektif yang berbeda dan memperkaya pengalaman berkunjung, termasuk cerita-cerita lokal dan fakta-fakta menarik yang ada di Candi Borobudur. Dengan belajar bersama pemandu wisata, memiliki tujuan untuk menghargai keunikan dan nilai-nilai luhur, serta berkontribusi mendukung upaya pelestarian warisan budaya ini.
Candi Borobudur dan sekitarnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena bangunan ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Kemegahan dan keindahan warisan budaya ini mempunyai nilai dan makna sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung domestik dan mancanegara.
Candi Borobudur beserta kawasannya menarik minat wisatawan untuk berwisata dan memperdalam wawasan yang luas tentang sejarah, budaya, dan arsitektur seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, keunikan, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menghargai, dan mendukung upaya pelestarian cagar budaya guna menjaga warisan budaya leluhur.
Menjelajahi narasi sejarah, peninggalan budaya leluhur pada masa Jawa Kuno, menelusuri tentang sejarah keberadaan prasasti Borobudur merupakan suatu yang menarik dan menyenangkan untuk menggali sumber pustaka dan literasi tentang keberadaan Borobudur.
Prasasti Candi Borobudur
Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang keberadaannya banyak dijelaskan oleh ahli-ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur terutama pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan beragama dan melatarbelakangi keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.
Banyak ahli sejarah yang mempelajari Candi Borobudur dan mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno, khususnya kebudayaan pada masa Hindu-Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap tradisi kehidupan beragama dan latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu. Pengaruh kebudayaan India di Jawa mengenal beberapa teori yang dikemukakan oleh beberapa sejarawan.
Menjelaskan keberadaan bangunan suci Candi Borobudur sebagai situs cagar budaya, melalui prasasti yang menjadi sumber data tentang keberadaan situs-situs peninggalan purbakala, terutama bangunan suci yang berlatarbelakang agama Budha. Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya peninggalan Dinasti Syailendra yang dibangun pada abad ke 8 oleh Samaratungga dan bangunan ini merupakan candi Budha Mahayana.
Seperti yang ditemukan dalam jenis tulisan/aksara yang tertulis pada bagian dasar kaki Candi Borobudur, sebelah tenggara pada relief Karmawibhangga, merupakan jenis tulisan/aksara yang secara umum digunakan dalam prasasti kerajaan pada abad ke–8 dan ke–9.
Menengok sejarah Candi Borobudur, merupakan candi atau bangunan suci agama Buddha, peninggalan kerajaan Mataram yang saat itu berkuasa di Jawa pada abad VIII – X Masehi, pada puncak masa kejayaan wangsa Syailendra. Kurun waktu antara tahun 760 dan 830 Masehi, merupakan puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh kerajaan Sriwijaya.
Meskipun tidak ada dokumen yang pasti tentang kapan bangunan ini dibangun dan apa kegunaannya, akan tetapi hal ini berhubungan dengan yang disebutkan dan dijelaskan dalam dua prasasti yang telah ditemukan, sebagai sumber data narasi sejarah di Indonesia.
Sebagian besar sejarah menjelaskan tentang prasasti yang ditemukan, pada umumnya merupakan penjelasan dalam sejarah dan narasi tentang keberadaan suatu bangunan kuno atau candi. Menelusuri sejarah prasasti Jawa kuno, dan menyebutkan awal mula keberadaan Candi Borobudur, menurut sejarah disebutkan dalam prasasti Karangtengah/Kayumwungan tahun 824 M dan prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan tahun 842 M. Kedua prasasti tersebut menjelaskan asal usul nama bangunan suci Buddha dan awal mula dibangunnya Borobudur.
Prasasti Karangtengah / Kayumwungan 824 M
Menyebutkan sejarah prasasti dalam pembangunan Borobudur yang pertama kali dijelaskan, sesuai dengan apa yang tertulis pada prasasti Karangtengah/Kayumwungan. Prasasti ini sesuai dengan namanya ditemukan di Dusun Karangtengah. Merupakan prasasti yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta. Kemudian prasasti bagian kedua berbeda, karena dikatakan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, dan baris terakhir belum merupakan kesimpulan. Sebab, belum banyak yang diketahui mengenai isi bagian akhir, karena lanjutannya telah hilang, dan pecahan batu di bagian akhir juga belum ditemukan.
Pada bagian pertama prasasti yang disusun dan ditulis dalam bahasa Sansekerta ini memuat informasi tentang Samaratungga yang disebut-sebut sebagai 'permata dinasti Syailendra' dan putrinya bernama 'Pramodawardhani', karena keduanya telah berjasa dalam membangun kuil suci Budha.
Prasasti tersebut juga menyebutkan tanggalnya yaitu tahun 824 M, suatu angka tahun yang erat hubungannya dengan didirikannya patung yang terbuat dari perunggu, karena digambarkan bersinar seperti bagian bulan, dan patung tersebut diabadikan dalam sebuah tempat suci. bangunan yang diberkati oleh para bangsawan.
Lebih lanjut dalam prasasti tersebut juga memuat harapan bagi mereka yang telah berjasa mendirikan bangunan suci agama Buddha bernama 'Venuvana' yang berarti 'Hutan Bambu yang Mulia', agar dapat memperoleh segala pahala dalam mencapai kesugatan kesepuluh, yaitu menjadi Buddha. Bagian penutup berisi seruan kepada keturunannya agar mampu menjaga dan menyelamatkan demi keberlangsungan bangunan suci ini.
Berbeda dengan bagian prasasti sebelumnya, pada prasasti bagian kedua yang berbahasa Jawa Kuno berangka tahun 824 M ini memuat tentang penetapan dan pemberian hibah yang disampaikan oleh Rakai Patapan. Dalam penetapan tersebut dijelaskan bahwa terdapat sejumlah persawahan Sima yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal dalam pemeliharaan kelangsungan bangunan suci tersebut. Penetapan dan pemberian hibah tersebut disertai dengan penjelasan rinci mengenai tanah tersebut dan daftar saksi-saksi beserta hadiah bagi para saksi tersebut. Bagian akhir atau penutup prasasti ini telah hilang sehingga kalimat terakhir mengenai perintah Rakai Patapan tidak banyak diketahui.
Penjelasan terkait keterkaitan pendirian patung dengan perwujudan 'Cri Ghananatha' yang menurut De Casparis berpendapat bahwa pendirian patung tersebut tidak lain adalah perwujudannya dalam bentuk patung. Raja Indra yang telah wafat dan sebagai tempat pemakaman, abunya dikuburkan pada sebuah bangunan suci. yang diperuntukkan khusus untuknya yaitu Ghananatha yang artinya Raja Awan, tak lain menyebut Raja Indra. Raja Indra merupakan raja dari dinasti Syailendra yang mendirikan prasasti Kelurak pada tahun 782 Masehi. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan sebenarnya bertujuan untuk memperingati berdirinya bangunan suci Budha yaitu Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut yang pernah dibangun oleh Samaratungga.
Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan 842 M
Keberadaan bangunan suci Budha Borobudur juga disebutkan dan dijelaskan dalam prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan. Prasasti ini berangka tahun 842 M, dibuat oleh Sri Kahulunan. Menurut De Casparis menjelaskan, dalam prasasti tersebut, Sri Kahulunan diyakini adalah Pramodawardhani, yakni putri Samaratungga.
Dalam narasi sejarah dijelaskan bahwa Pramodawardhani juga disebutkan namanya dalam prasasti Karangtengah. Prasasti ini lebih lanjut menjelaskan bahwa Pramodawardhani bergelar Sri Kahulunan, hal ini juga dijelaskan dalam narasi sejarah prasasti Jawa Kuno. Hal ini menurut pendapat Soekmono dan pendapat Poesponegoro dan Notosusanto.
Prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan pada dasarnya memuat secara rinci pemberian/penetapan nama desa Tri i Tpusan yang menjadi Sima atau disebut dalam arti desa perdikan yang diperuntukkan khusus bagi Kamulan di Bhumisambhara. Tanah perdikan tersebut ditetapkan terdiri dari sawah milik Nayaka, yaitu sejumlah sawah milik seluruh Winka, dan sawah milik kedua orang Wadwa Huma. Pemberian dan penetapan sawah tersebut disampaikan oleh Sri Kahulunan, yang diperintahkan untuk memberikan batas Sima adalah para Darukap, dan beberapa pejabat dari daerah Kayumwungunan, Mantyasih dan Patapan. Prasasti Sri Kahulunan juga menjelaskan isi upacara pengangkatan dan penganugerahan Sima yang dihadiri oleh pejabat desa sekitar.
De Casparis menegaskan berdasarkan pada isi dalam Prasasti Sri Kahulunan, berpendapat bahwa penyebutan nama Kamulan i Bhumisambhara tidak lain adalah untuk menyebutkan bangunan suci yang diartikan sebagai candi Borobudur dan dianggap sebagai bangunan atau candi untuk tempat pemujaan dan cikal bakal keberadaan wangsa Syailendra. De Casparis juga menjelaskan bahwa dalam hal ini Sri Kahulunan bukan yang membangun candi Borobudur, melainkan perannya hanya menghibahkan sebagian tanah miliknya, disebutkan Sima atau tanah perdikan, yang mempunyai tujuan untuk kepentingan dan kelangsungan bangunan suci ini. Hal ini menunjukan bahwa pada waktu itu, bangunan suci yang dimaksudkan tahun 842 M, adalah candi Borobudur telah dibangun.
Chandi Borobudur
Bangunan candi Buddha Borobudur dalam pembangunannya membutuhkan waktu kurang lebih selama 100 tahun, pada masa kejayaan pemerintahan raja Samaratungga dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M.
Terdapat perbedaan pendapat diantara para arkeolog mengenai penjelasaan apakah raja yang berkuasa di Jawa pada waktu itu beragama Hindu atau Buddha. Dalam beberapa sumber narasi sejarah prasasti Jawa kuno, menjelaskan bahwa pada waktu itu wangsa Syailendra mempunyai latar belakang agama Buddha yang beraliran Mahayana, hal ini diketahui dari penemuan prasasti Sojomerto.
Pada saat itu menunjukkan bahwa pada awalnya kemungkinan wangsa Syailendra beragama Hindu Siwa, dan pada kurun waktu tersebut dibangun beberapa bangunan candi-candi yang berlatar belakang Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan narasi prasasti Canggal, yang berangka tahun 732 masehi, disebutkan bahwa raja yang beragama Siwa, yaitu Sanjaya memerintahkan untuk mendirikan bangunan suci, yaitu Shiwalingga yang berada di perbukitan gunung Wukir, letaknya sekitar 10 kilometer sebelah timur dari candi Borobudur.
Dalam hal ini menjelaskan bahwa keberadaan bangunan suci candi Borobudur sebagai candi Buddha, dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang berada di Dataran Prambanan, sebagai kesimpulan, hal ini memungkinkan bahwa bangunan candi Borobudur diperkirakan telah selesai dibangun sekitar tahun 824 Masehi.
Memperhatikan penjelasan mengenai pembangunan beberapa candi-candi Buddha yang termasuk didalamnya yaitu candi Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, yaitu Rakai Panangkaran memberikan izin kepada penganut agama Buddha untuk mendirikan bangunan suci yang bertujuan untuk menunjukkan rasa penghormatannya, kemudian sebagai bukti toleransi tersebut, Panangkaran menganugerahkan yang disebut desa Kalasan kepada Sangha atau komunitas agama Buddha, dengan tujuan untuk pemeliharaan dan pembiayaan candi Kalasan.
Pembangunan candi Kalasan mempunyai tujuan untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi. Penjelasan ini dapat dipahami sebagai petunjuk bahwa masyarakat Jawa Kuno, pada dasarnya terdapat kehidupan toleransi dan agama tidak menjadi permasalahan yang dapat menimbulkan suatu konflik. Hal ini seperti yang dicontohkan, sebagai raja penganut agama Hindu memberikan bantuan dalam pembiayaan dan ikut serta mendanai pembangunan candi Buddha, dan ini terjadi demikian pula sebaliknya.
Dalam penjelasan yang lain mengenai pembangunan Borobudur, bahwa pada waktu itu karena terdapat persaingan diantara dua pemerintahan wangsa kerajaan yang berkuasa pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang berlatar belakang agama Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa. Kemudian pada akhirnya wangsa Sanjaya lebih mendominasi pengaruh kekuasaannya dalam persaingan tersebut pada tahun 856 Masehi di perbukitan Ratu Boko.
Memahami tentang ketidakjelasan yang timbul mengenai candi Lara Jonggrang yang berada di Prambanan, bahwa disebutkan bangunan ini dipercaya didirikan oleh Rakai Pikatan sebagai bentuk jawaban wangsa Sanjaya dalam menyaingi kemegahan Borobudur yang dimiliki oleh wangsa Syailendra, tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat kehidupan toleransi dan kebersamaan yang penuh dengan kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak wangsa Syailendra ikut terlibat dan mempunyai peran dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Bangunan suci keagamaan sebagai tempat untuk peribadatan disebut candi, seperti bangunan suci agama Buddha candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra tahun 824 Masehi.
Kapan bangunan suci Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak digunakan lagi sebagai tempat peribadatan, tidak dapat diketahui dengan pasti, namun beberapa pendapat mengenai hal ini, dihubungkan dengan perpindahan kerajaan Mataram Kuna ke Jawa Timur.
Kajian terhadap beberapa prasasti kerajaan di Jawa Tengah tidak lepas dari peran Balai Konservasi Borobudur. Beberapa tahun terakhir, kegiatan penelitian yang dilakukan adalah kegiatan yang berkaitan dengan keberadaan situs-situs peninggalan purbakala di kawasan sekitar Borobudur yang menjadi tujuan utama. Penelitian ini untuk mengkaji sejarah keberadaan situs-situs Jawa kuno yang merupakan candi-candi yang berlatar belakang Hindu dan Budha. Beberapa situs purbakala dalam penelitian tersebut terdaftar sebagai bagian dari situs kawasan Borobudur dan telah masuk dalam situs cagar budaya nasional.
Beberapa situs peninggalan purbakala yang sebagian besar merupakan situs cagar budaya terletak di sekitar kawasan Borobudur. Selain Borobudur, Pawon dan Mendut juga ditemukan situs-situs peninggalan budaya kuno antara lain: Candi Ngawen, Situs Samberan, Situs Brongsongan, Situs Plandi, Situs Bowongan, Situs Dipan, dan Situs Kerkhoff Mendut.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi dan mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments
Post a Comment