Mengenal Candi Borobudur, Warisan Budaya Peninggalan Wangsa Syailendra
Mempelajari budaya Borobudur bersama pemandu wisata merupakan langkah yang tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam perjalanan wisata yang menarik ini dengan memberikan penjelasan-penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk berwisata guna menelusuri secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang terkandung dalam relief serta teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin akan sulit dipahami apabila hanya melihatnya sendiri.
Candi Borobudur dan sekitarnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena bangunan ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Kemegahan dan keindahan warisan budaya ini mempunyai nilai dan makna sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung domestik dan mancanegara.
Candi Borobudur beserta kawasannya menarik minat wisatawan untuk berwisata dan memperdalam wawasan yang luas tentang sejarah, budaya, dan arsitektur seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, keunikan, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menghargai, dan mendukung upaya pelestarian cagar budaya guna menjaga warisan budaya leluhur.
Candi Borobudur
Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, banyak sekali ditemukan situs-situs purbakala peninggalan zaman Hindu-Budha. Salah satu bangunan purbakala terbesar yang berlatar belakang agama Budha adalah Candi Borobudur. Bangunan ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Keberadaan bangunan ini berdekatan dengan dua candi Budha lainnya, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut.
Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan suci agama Budha, dan telah terdaftar dan resmi menjadi situs warisan budaya dunia sejak tahun 1991 sebagaimana ditetapkan oleh UNESCO. Kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur memiliki makna sejarah yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Dengan demikian, candi ini merupakan salah satu warisan yang sangat penting untuk dilestarikan.
Borobudur merupakan candi atau tempat suci Budha berbentuk stupa yang didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Bangunan suci ini dirancang dengan bentuk arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana.
Candi ini terdiri dari enam teras berbentuk bujur sangkar dengan tiga pelataran melingkar di atasnya. Dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Stupa induk terbesar terletak di bagian tengah bangunan ini, dikelilingi oleh tiga baris melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha di tengah duduk bersila dengan sikap tangan Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.
Para peziarah masuk melalui sisi timur mulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, disebutkan bahwa Candi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 akibat melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Jawa serta masuknya pengaruh Islam. Keberadaan Borobudur pertama kali mulai disebutkan sejak ditemukan pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Borobudur mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran, yang terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Candi Borobudur telah terdaftar sebagai situs warisan dunia yang diresmikan oleh UNESCO tahun 1991. Borobudur masuk dalam kriteria Budaya;
(i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius",
(ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan
(vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".
Sekitar Kawasan Borobudur
Menurut legenda di Jawa, dahulu menyebutkan bahwa daerah yang dikenal dengan Dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan selalu dielu-elukan sebagai 'Taman Pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanah.
Menjelaskan keindahan alam dan keberadaan Borobudur, terletak diatas bukit, dibangun di dataran yang dikeliling beberapa gunung dan perbukitan; Gunung Sundoro - Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu - Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utara terdapat bukit Tidar, dan di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta terletak dekat pertemuan dua sungai yakni Progo dan Elo di sebelah timur.
Menyebutkan keberadaan Borobudur dan kawasannya, terdapat beberapa candi - candi Budha yang dibangun hampir berdekatan di sekitarnya. Pada masa penemuan dan pemugaran pada awal abad ke-20, ditemukan dua candi Budha, yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon yang terletak di sebelah timur. Menurut cerita rakyat, dahulu terdapat jalan setapak beralas batu dengan pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan antara ketiga candi (Borobudur, Pawon dan Mendut). Para ahli memperkirakan terdapat suatu hubungan diantara ketiga candi ini, yaitu memiliki kemiripan bentuk arsitektur dan ragam hias. Ketiga candi ini berasal dari periode yang sama yang memperkuat adanya keterkaitan ritual, akan tetapi bagaimanakah proses ritual ziarah keagamaan dilakukan, belum banyak diketahui secara pasti.
Tidak seperti candi - candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Candi Borobudur dibangun di atas bukit dan terletak di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan suatu perkiraan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan terletak di tengah danau.
Pada 1931, seorang pakar arsitektur Hindu Budha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya merupakan suatu danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Menjelaskan bunga teratai dalam berbagai bentuk seperti padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) yang dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Budha, dan seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Budha atau sebagai lapik stupa. Melihat pada arsitektur Borobudur menyerupai bentuk bunga teratai, dan postur Budha di bangunan ini melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemukan dalam naskah - naskah keagamaan Budha mahzab Mahayana. Tiga teras melingkar di puncak Candi Borobudur juga diduga melambangkan bentuk kelopak bunga teratai.
Sekilas Sejarah Borobudur
Borobudur sebagai bangunan suci merupakan candi Budha terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan beragama dan menjadi latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.
Sejarah Awal Borobudur
Tidak ditemukan bukti - bukti tertulis yang menjelaskan tentang siapa yang membangun Candi Borobudur dan apa kegunaannya. Sejarah menjelaskan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tersembunyi Karmawibhangga dengan jenis aksara yang digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9.
Menyebut periode ini sebagai periode antara tahun 760 hingga 830 M, masa puncak kejayaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah, yang pada saat itu masih memiliki pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Pembangunan Candi Borobudur membutuhkan waktu kurang lebih 100 tahun dan telah selesai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825 Masehi.
Terdapat kesimpangsiuran mengenai fakta apakah raja yang memerintah di Jawa itu beragama Hindu atau Budha. Dinasti Sailendra diketahui merupakan penganut agama Budha Mahayana, penemuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada masa itu, berbagai candi Hindu dan Budha dibangun di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja agama Siwa Sanjaya memerintahkan untuk mendirikan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, terletak hanya 10 km sebelah timur dari Borobudur.
Candi Budha Borobudur dibangun hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, namun Borobudur diperkirakan selesai sekitar tahun 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum pembangunan candi Siwa Prambanan yang dimulai pada tahun 850 M.
Pembangunan candi-candi Budha dalam hal ini termasuk Borobudur pada masa itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Budha untuk membangun candi sebagai bentuk rasa hormat kepada mereka. Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (masyarakat Budha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun bertujuan untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi.
Indikasi tersebut dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa zaman dahulu, agama tidak pernah menjadi isu yang dapat menimbulkan konflik, misalnya saja raja-raja yang beragama Hindu dapat mendukung dan mendanai pembangunan candi Budha, begitu pula sebaliknya. Namun diduga terjadi persaingan antara dua dinasti kerajaan saat itu – Dinasti Syailendra yang menganut agama Buddha dan Dinasti Sanjaya yang memuja Siwa – kemudian Dinasti Sanjaya memenangkan pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Nama Borobudur
Menyebutkan bangunan-bangunan kuno yang berasal dari periode Jawa Kuno dalam narasi sejarah Indonesia yang umumnya disebut candi. Mula-mula mereka tidak hanya menyebutkan nama bangunan candi saja, namun juga struktur bangunan serta benda-benda lain seperti bentuk gapura, pintu gerbang dan tempat pemandian bangunan itu berada.
Namun ada pula yang menjelaskan bahwa mereka tetap mempertahankan namanya, selama ini desa-desa tersebut diberi nama sesuai dengan ditemukannya candi tersebut. Boleh diucapkan, namun sulit diketahui apakah nama Candi Borobudur dinarasikan dan berasal dari desa tempat bangunan tersebut berada.
Dalam penjelasan kebanyakan candi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika nama candi hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Candi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan sebuah monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen. Nama kata 'Boro-Budur' sulit dijelaskan. Menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili Kata Lama Kata Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Banyak Buddha memiliki klaim yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya.
Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan berarti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara pernah digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah terjadi. De Casparis menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak bisa lain dari Borobudur itu, dan bahwa perubahan nama yang sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan. Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Penemuan Kembali Borobudur
Borobudur tersembunyi dan telantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga kala itu benar-benar menyerupai bukit.
Alasan sesungguhnya penyebab ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Budha. Meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai penyebab utama diterlantarkannya Borobudur.
Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.
Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.
Pada kurun waktu antara 1811 hingga 1816, Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal di Jawa, memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Aktivitasnya dalam mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah kebudayaan Jawa mengantarkan perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa.
Pada suatu kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, adalah seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini.
Dalam dua bulan, Cornelius bekerja sama dengan penduduk setempat menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali candi ini yang pernah hilang.
Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca budha berada di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.
Kemudian Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang pejabat insinyur bidang teknik, untuk mempelajari bangunan ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang diselesaikan pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, akan tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi bentuk monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian. Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen. Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan.
Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor benda-benda antik dan artefak. Kepala arca Budha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Budha tanpa kepala.
Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Sehingga pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
| Stupa-stupa Borobudur sebelum dipugar. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Pemugaran Borobudur
Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki candi tersebut dibuat pada kurun 1890-1891. Penemuan ini telah mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk segera mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini.
Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, seorang insinyur ahli bidang konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum. Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah.
Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut pada bangunan, terutama memindahkan batu yang dapat membahayakan batu yang lain di sebelahnya, memperkuat dinding pagar langkan pertama, dan memugar kembali beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.
Pemugaran mulai dilakukan pada kurun waktu 1907-1911, dengan menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah disekitar bangunan untuk menemukan kepala budha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak.
Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur. Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih kembali seperti pada saat masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra, bagian atas puncak yang ada di Borobudur dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga tidak pernah dipasang lagi.
Candi Borobudur setelah pemugaran Van Erp Candi Borobudur Pemugaran I (1907-1911) pemugaran pada bagian puncak candi yaitu tiga teras melingkar dan stupa induk. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Proyek pemugaran yang terbesar pada tahun 1973, dengan rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan dan pemugaran menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.
Pondasi diperkukuh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan.
Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit. Candi Borobudur adalah candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.
Image Borobudur
Pemandangan Sekitar Borobudur Lansekap Pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daetah sebagai berikut: Gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.
Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi persawahan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah Hujan, Sawah/tegalan, Kebun dan Hutan. Dalam lingkungan pertanian sawah, bagi masyarakat dalam pengelolaannya dijelaskan bahwa sawah tidak hanya dikelola untuk keperluan pribadi saja, namun juga untuk keperluan menunjang bangunan suci yang diperuntukkan sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah.
Menurut legenda arsitek perancang candi Borobudur bernama Gunadharma, diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa. Legenda Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
Chandi Borobudur adalah merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
![]() |
Deretan stupa teras Arupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Chandi Borobudur benar-benar berbeda dari desain umum struktur seperti itu. Itu bukanlah sebuah bangunan yang didirikan di atas dasar datar dan mendatar, yang menyisakan ruang dalam untuk pentahbisan sebuah patung, melainkan sebuah piramida berundak, yang terdiri dari sembilan teras bertumpuk, dan dimahkotai oleh sebuah stupa besar berbentuk lonceng.
Namun, teknik membangunnya sama dengan yang digunakan dalam konstruksi bangunan candi di batu. Bahan bangunan tidak dikumpulkan dari tambang, tetapi diambil dari sungai tetangga. Batu-batu itu dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan diletakkan tanpa mortar. Batu-batu itu dibuat untuk digenggam dengan cara pas di sambungan horizontal, dan tanda di sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu sisi batu yang cocok dengan lubang yang sesuai di sisi berikutnya juga sangat sering.
Pengaturan ini memungkinkan fleksibilitas tertentu, sehingga monumen dapat berdiri dengan gerakan ringan tanpa mengalami bahaya keruntuhan langsung. Ketika bangunan selesai, ukiran dan hiasan lainnya ditambahkan. Biasanya mereka mulai dari atas, tetapi bisa juga ditambahkan secara bersamaan di beberapa bagian.
![]() |
Struktur Borobudur Struktur bangunan dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
![]() |
| Stupa teras Arupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Stupa utama terbesar, teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Stuktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu) menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut de casparis. Sebagai mandala, yang nyata dan yang ideal menurut Marsis sutopo, kearitekturan candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
Borobudur Mandala Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah [jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kaki candi Kamadhatu Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kamadhatu
Bagian kaki melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah".
![]() |
| Dinding lorong relif Rupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Rupadhatu
Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar.
![]() |
| Teras - teras stupa Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Arupadhatu
Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud), melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam Wawasan Borobudur Bersama Pemandu Wisata.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung atau selesai, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi buddha'. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu.
Arsitektur candi Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Budha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Sebagai Penanda arsitektur candi Borobudur.
![]() |
| Pemandangan Chandi Borobudur dari Bukit Dagi Barabudur atau Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
![]() |
Deretan stupa teras Arupadhatu. Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. Chandi Borobudur or Barabudur is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Chandi Borobudur World Cultural Heritage Site since 1991, one of the views of Borobudur from the northwest. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. photo arisguide. |
![]() |
| Borobudur Chandi Borobudur terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |














Comments
Post a Comment