Menelusuri Candi Borobudur, Sejarah Unik Candi Budha Melalui Prasasti Jawa Kuno
Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan suci agama Budha, kemegahan dan keindahan arsitektur bangunan ini menjadikannya sebagai situs warisan budaya dunia. Borobudur beserta kawasannya memiliki arti luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga seluruh mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Candi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai objek wisata utama, serta menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung domestik dan mancanegara.
Mempelajari budaya Borobudur bersama pemandu wisata merupakan langkah yang tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya candi tersebut. Pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam perjalanan wisata yang menarik ini dengan memberikan penjelasan-penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk berwisata guna menelusuri secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang terkandung dalam relief serta teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin sulit dipahami jika Anda hanya melihatnya sendiri.
Belajar bersama pemandu wisata untuk mengapresiasi nilai-nilai luhur Candi Borobudur dan mendukung upaya pelestarian warisan budaya ini. Candi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mempelajari Borobudur melalui sejarah masa lalunya, kemegahan dan keindahan seni arsitekturnya, sebagai bentuk apresiasi atas pembelajaran dan partisipasi dalam menjaga serta melindungi situs warisan budaya dunia ini. Dengan menyelami narasi sejarah, arsitektur, dan seni rupa warisan budaya leluhur dari periode Jawa Kuno, serta wisata yang menyenangkan untuk mengeksplorasi berbagai narasi tentang Borobudur.
Candi Borobudur
Candi Borobudur sebagai bangunan berlatar belakang agama Budha mempunyai kekayaan keindahan, keunikan dan seni rupa yang luar biasa. Menyebutkan keindahan dan keunikan bangunan ini terletak pada gaya arsitektur piramida berundak yang sering disebut bangunan punden berundak peninggalan budaya leluhur asli Indonesia. Arsitekturnya berbentuk stupa dan dipadukan dengan seni ukiran relief pada dinding bangunan suci candi.
Barabudur atau lebih dikenal Borobudur merupakan candi Budha Mahayana dengan arsitektur piramida berundak, candi Budha berbentuk stupa yang dibangun sebagai tempat suci para penganut agama Budha, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Borobudur memiliki bentuk arsitektur unik, terdiri dari enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga pelataran melingkar, pada puncaknya terdapat stupa terbesar berada di tengah sebagai mahkota, dikelilingi oleh barisan stupa berlubang. Pada dindingnya dihiasi oleh ukiran batu yang indah dengan jumlah panel relief sebanyak 2.672, dan terdapat 504 arca Budha.
Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha. Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, Borobudur terlantar dan ditinggalkan pada abad ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa. Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan candi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
| Sansekerta Bentuk tulisan tertulis di relif Karmawibhangga yang ada pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sekilas Tentang Prasasti Borobudur
Keberadaan candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya memakan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M, antara tahun 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya.
Dokumen tertulis bagaimana tentang awal mula pembangunan Candi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan di atas relief pada 'kaki tersembunyi' monumen candi Borobudur memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Candi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan merupakan masa keemasan Wangsa Syailendra, dan menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.
Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Candi Borobudur.
Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja - raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Buddha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu. Oleh karena itu dapat dijelaskankan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu.
Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.
Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa Wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan Wangsa Sanjaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.
Peran yang dimainkan oleh orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur budaya India, tetapi juga melibatkan kebudayaan aslinya. Asumsi kontak terus menerus, atau setidaknya teratur, akan membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian negara. Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan prasasti, hanya dapat dianggap dalam mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya.
Kenyataannya, prasasti - prasasti itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi. Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki prasasti kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen, Prasasti Dinoyo tahun 760 M.
Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh. Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai periode Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi istilah yang diterima dalam berurusan dengan monumen dan patung dalam sastra.
Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa "Bhumi Sambhara Budhara" dan "Kamulan" adalah bangunan candi Borobudur yang dibangun antara kurun waktu tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur membutuhkan waktu 75 - 100 tahun yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, hal ini dijeaskan melalui temuan prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja yang beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 Masehi.
Pembangunan candi Budha, termasuk Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Budha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Budha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Budha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai Candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban Wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik Wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Borobudur
Candi Borobudur sebagai bangunan yang berlatar belakang agama Budha mempunyai banyak keindahan, keunikan dan serta kecantikan seni rupa yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan keindahan dan keunikan bentuk monumen ini dengan gaya arsitektur seni rupa piramida berundak yang banyak disebut sebagai bangunan punden berundak nenek moyang Indonesia, arsitektur bentuk stupa dan dipadu dengan seni ukir pahatan relif di dinding bangunan suci candi.
Candi Borobudur Arsitektur piramida berundak, candi Budha berbentuk stupa bangunan suci umat Budha Mahayana, tahun 800 Masehi masa pemerintahan Samaratungga Wangsa Syailendra. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Sekilas Asal Nama Borobudur
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).
Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang suatu monumen bernama Borobudur, yang berada di dekat Bumisegoro tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ), kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".
Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Budha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Budha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Salah satu desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari bangunan ini.
Nama kata 'Boro-Budur' memang sulit dijelaskan, dan menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. Kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Budha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Budha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili Kata Lama Kata Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Banyak Budha memiliki klaim yang sama.
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga kurang lebih sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Pramudawardhani. Borobudur dalam pembangunannya diperkirakan membutuhkan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Sri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut Bhumisambhara. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan para leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli dari Borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya.
Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan berarti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara pernah digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah terjadi. De Casparis menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak bisa lain dari Borobudur itu, dan bahwa perubahan nama yang sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Budha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
![]() |
Candi Borobudur Pemandangan alami dari Bukit Dagi sebelah barat laut di pagi hari dengan latar belakang perbukitan menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Nama Borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa sansekerta berarti “candi”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.
Budaya Masyarakat Borobudur
Menurut legenda Jawa, menyebutkan dahulu bahwa daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu merupakan tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung - sanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Menjelaskan relief cerita adalah suatu transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit / nyata. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.
Menjelaskan kehidupan masyarakat Jawa Kuno dengan mengolah lahan sawah secara pertanian. Borobudur dilihat dari persawahan bagian selatan. Selama berabad-abad bangunan suci ini terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alami dataran Kedu. Dahulu menyebutkan kawasan sekitar Borobudur diperkirakan merupakan sebuah danau purba. Relief Candi Borobudur dengan alat interpretasi yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut: (1) Rekonstruksi Proses Budaya, (2) Rekonstruksi Sejarah Budaya, (3) Rekonstruksi Cara Hidup (Savah/sawah, Kbuan/kebun, Tgal/tegal, Gaga/sawah tadah hujan, Renek/rawa).
Kehidupan masyarakat Borobudur Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menurut legenda Jawa, menyebutkan dahulu bahwa daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu merupakan tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung-sanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Kehidupan masyarakat pedesaan
menyebutkan pemandangan/lansekap sekitar Borobudur banyak berkaitan dengan kehidupan pada masyarakat pedesaan yang menjadi latar belakang kehidupan pada masa Jawa Kuno. Disebutkan bahwa bentang alam Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi kawasan seperti diantaranya adalah pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, daerah pemukiman dan rumah adat / tradisional, pembuatan gerabah / tembikar, dan bekas danau purbakala.
Mengeksplorasi kehidupan masyarakat pedesaan dengan menggunakan alat tafsir berupa relief-relief yang terdapat pada Candi Borobudur, lebih banyak berkaitan dengan aktivitas kehidupan masyarakat pedesaan yang menjadi latar belakang kehidupan pada masa Jawa Kuno. Menyebutkan relief-relief beserta arti dan maknanya pada Candi Borobudur yang berkaitan dengan apa yang digambarkan dalam bentuk prasasti dan teks sastra pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam beberapa hal, yaitu meliputi rekonstruksi proses kebudayaan, rekonstruksi sejarah kebudayaan, dan rekonstruksi cara hidup (savah/sawah, kbuan/kebun, tgal/tegal, gaga/sawah tadah hujan, renek/rawa).
Mengeksplorasi lebih jauh tentang kehidupan masyarakat pedesaan dengan alat interpretasi berupa relief-relief yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pedesaan yang menjadi latar belakang kehidupan masyarakat pedesaan mempunyai ciri-ciri lanskap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa kawasan yang lebih spesifik untuk lingkungan pertanian / pengelolaan lahan.
Sekilas lingkungan pertanian Borobudur menjelaskan kehidupan masyarakat pedesaan dengan menggunakan alat tafsir berupa relief yang terdapat pada candi Borobudur yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pedesaan Jawa Kuno sebagai latar belakang kehidupan masyarakat pedesaan, mempunyai ciri-ciri meliputi beberapa bidang yang lebih spesifik pada wilayah di lingkungan pertanian dan kegiatan pengelolaan lahan.
Pada Candi Borobudur terdapat panel-panel relief yang menceritakan tentang masyarakat pedesaan yang berlatar belakang kehidupan dengan cakupan wilayah pada lingkungan pertanian dan pengelolaan lahan, berupa relief pertanian, terpahat pada dinding Candi Borobudur. Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi persawahan seperti: Sawah, Sawah pasang surut, Sawah tadah hujan, Sawah/tegalan, Kebun dan Hutan.
Cerita relief tentang masyarakat pedesaan yang melatarbelakangi kehidupan di lingkungan pertanian berupa relief pertanian, berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sawah. Pada dinding Candi Borobudur, menyebutkan kehidupan masyarakat Jawa kuno dalam lingkungan pertanian yaitu kegiatan lingkungan persawahan. Dijelaskan dalam pengelolaannya, bahwa sawah bagi sebagian besar masyarakat Jawa Kuno pada abad IX-X Masehi tidak hanya dikelola untuk kepentingan pribadi. Akan tetapi juga berperan untuk kebutuhan dalam menunjang bangunan suci yang ditunjuk sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah.
Pengolahan makanan dan minuman pada relief cerita Borobudur berhubungan dengan kehidupan masyarakat pedesaan, salah satunya pada dinding candi yang menyebutkan tentang pengolahan makanan dan minuman. Menjelaskan makanan pokok pada zaman Jawa Kuno, dikatakan bahwa dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih banyak mengolah beras sebagai makanan pokok. Pada masa itu, masyarakat Jawa Kuno abad IX-X Masehi sudah mengenal cara-cara mengolah padi menjadi beras, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang ditutup dalam panci, dyun adalah panci atau kuali (panci) besar yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk menanak sayur atau menanak nasi.
Melihat kehidupan masyarakat pedesaan dalam mengolah makanan dan membuat minuman pada masa Jawa Kuno meliputi beberapa bentuk. Pengolahan makanan seperti pengolahan Dodol. Dodol merupakan salah satu jenis makanan yang dikenal masyarakat Jawa Kuno sejak abad IX-X Masehi. Beberapa jenis olahan disebut dwa-dwal atau dodol. Masakan ini disebutkan dalam Ramayana Jawa Kuno menurut penjelasan Poerbatjaraka. Dalam pengolahan minuman, contohnya adalah pengolahan tebu yang juga dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno sebagai bahan dasar minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu merupakan minuman yang disajikan pada upacara pengukuhan sima, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Sangguran tahun 928 Masehi.
Bentuk rumah pedesaan salah satu gambaran relief yang terpahat pada dinding Borobudur adalah konstruksi rumah pedesaan dengan menggunakan bahan kayu. Relif Karmawibhangga merupakan dinding yang menyimpan ukiran-ukiran dalam pembangunan rumah pedesaan pada masa Jawa Kuno. Berdasarkan penjelasan pada prasasti tersebut, orang-orang yang berprofesi membuat bangunan antara lain, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.
Rumah pedesaan masyarakat Borobudur pada masa Jawa Kuno konon berbentuk bangunan yang terletak di kawasan pemukiman masyarakat adat dan berbentuk rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan komunitas pembuat gerabah/gerabah.
Permukiman masyarakat Borobudur pada masa Jawa Kuna Mataram masa VII–X M disebutkan dalam Prasasti Rukam berangka tahun 907 M. Menjelaskan secara umum kegiatan tradisional masyarakat Jawa Kuno yaitu pekerjaan pembuatan gerabah. Kegiatan ini diceritakan pada relief yang dipahat pada dinding Candi Borobudur.
Sekilas Sejarah Borobudur
Sekilas Danau Borobudur
Beberapa bangunan suci Budha yang sebagian besar terletak di dataran Kedu, didirikan di sekitar dan hampir berdekatan dengan Candi Borobudur. Tempat-tempat suci keagamaan Hindu dan Budha, dapat dikatakan, dikemas bersama berjarak dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan antara dua sungai Kedu. Menengok dari barat ke timur, terdapat bangunan suci Budha yang utama di daerah ini adalah Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan kompleks Candi Ngawen yang terdiri dari lima bangunan.
Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga, meskipun dibangun pada jarak yang cukup jauh antara satu dengan lainnya, garis lurus yang ditarik dari Candi Borobudur ke Candi Mendut melalui Candi Pawon menunjukkan kesatuan perlambang tiga serangkai. Tata letak seperti ini, bagaimanapun tidak ditemukan di Borobudur. Candi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, sedangkan Candi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beralas batu, yang diapit oleh pagar langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa dari jalan berbatu. Komposisi tiga serangkai yang luar biasa ini, telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut.
Candi Borobudur tidak memiliki ruang didalamnya, tidak ada tempat yang digunakan untuk beribadah. Hal ini kemungkinan besar adalah tempat untuk ziarah, dimana umat Budha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong yang berada disekitar bangunan, dan berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk berkeliling dan melakukan ritual. Dipandu oleh deretan relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras menuju ke teras lain dalam kontemplasi hening. Sedangkan Candi Mendut, di sisi yang lain, sepertinya menjadi tempat untuk pemujaan karena mempunyai ruang dalam. Candi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan.
Asumsi bahwa peziarah harus melewati Candi Pawon dalam perjalanannya dari Candi Mendut ke Candi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beralas batu yang mungkin menunjukkan bahwa Candi Pawon adalah semacam tempat persinggahan atau stasiun dalam perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib dan utama di Candi Mendut, Candi Pawon adalah merupakan tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Candi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Menjelaskan tentang keberadaan 'Danau Borobudur', bahwa tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Candi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Budha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Budha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Budha atau sebagai lapik stupa. Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Budha mahzab Mahayana, yaitu aliran Budha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti-bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Suatu penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Ilustrasi Danau Borobudur Arsitektur Borobudur, berada dekat danau kuno didalam naskah keagamaan Budha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Borobudur memiliki bentuk arsitektur yang unik, suatu piramida bertingkat, terdiri dari enam teras bujur sangkar dengan tiga teras melingkar di atasnya. Di puncaknya terdapat stupa utama terbesar yang dikelilingi oleh 72 stupa berlubang, sementara dindingnya dihiasi dengan ukiran batu yang indah dengan total 2.672 panel relief dan 504 patung Budha.
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Candi Borobudur tidak lagi digunakan, atau kapan telah berhenti berfungsi sebagai bangunan untuk memuliakan kebesaran wangsa kerajaan yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Budha.
Asumsi umum adalah bahwa Candi Borobudur tidak digunakan lagi pada saat masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Tetapi hal ini sangatlah masuk akal bahwa banyak ca-monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah bergeser ke Jawa Timur. Jika demikian, Candi Borobudur dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari monumen Jawa Timur. Terlepas dari waktu yang tepat di mana candi kehilangan signifikansinya dalam masyarakat yang berubah, mereka harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang mereka mulai terakumulasi.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan orang-orang. Dalam beberapa hal, masa lalu yang gemilang dan monumen-monumen yang menyaksikannya dikenang, dan terutama oleh penduduk desa yang tinggal di dekatnya. Candi merupakan salah satu bangunan yang masih berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan kepercayaan tentu saja menyebabkan perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap monumen, terbukti dari cara orang mengabaikannya. Namun, ketidakpedulian bukanlah penjelasan utama.
Salah satu kepercayaan takhayul secara bertahap menghubungkan reruntuhan yang tidak jelas dengan nasib buruk dan kesengsaraan. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa) Bukit Borobudur terbukti fatal bagi orang yang berdiri mengunjungi Borobudur pada tahun 1709 M. Dalam cerita Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) menceritakan nasib buruk terjadi pada tahun 1757. Terlepas dari pembatasan yang berlaku untuk mengunjungi Borobudur, patung di salah satu stupa berlubang. Baru pada tahun 1814 Chandi Borobudur muncul, secara nyata dan kiasan, dari masa lalunya yang kelam.
Antara 1811 dan 1816 Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris. Wakil Pemerintah Inggris adalah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan masa lalu Jawa. Pada tahun 1814, dalam suatu perjalanan inspeksi di Semarang, ia diberitahu tentang keberadaan satu bangunan besar, yang disebut Candi Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Dia tidak bisa datang dan mengirim Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang mempumyai keahlian berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki. Cornelius mempekerjakan sekitar 200 orang untuk membersihkan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah di mana lokasi monumen itu dibangun yang sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak beberapa bagian dinding galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Administrator Belanda di wilayah Kedu, Hartmann tertentu, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan tentang arca Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Candi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
Stupa teras atas sebelum pemugaran. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Situs Warisan Dunia
Candi Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan bangunan ini seperti masa kejayaannya. Pemugaran candi ini yang terbesar digelar pada kurun 1973 hingga 1983 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan kerjasam dengan dunia internasional UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Situs Warisan Dunia
Tipe: Budaya, Kriteria: i, ii, vi, Nomor identifikasi: 592, Kawasan: UNESCO Asia Pasifik, Tahun pengukuhan: 1991 (sesi ke15).
Kriteria Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia:
(i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius",
(ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap,
(vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pemandu wisata. Membaca menjadi lebih menarik, menggali narasi lebih detil dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.



Comments
Post a Comment