Melihat Keunikan Arsitektur Borobudur
Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.
Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.
Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur. Wisata yang menyenangkan dalam mengenal dan melihat seni arsitektur dan desain, serta rancang bangun pembangunan Candi Borobudur.
![]() |
Gapura motif Kala-Makara Salah satu tangga naik Borobudur yang mendaki melalui gapura berbentuk ukiran Kala-Makara Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Arsitektur Borobudur
Arsitektur Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini.
Penelitian pada 1977 menjelaskan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan yaitu swa-serupa dalam rancangan Borobudur. Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna dalam penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.
Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasar berukuran 123×123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 meter (13 ft). Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 meter (23 ft) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 meter (6.6 ft), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan.
Struktur tiga bagian Borobudur Struktur tiga bagian menjelaskan bagian dasar (kaki), tubuh, dan puncak candi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter (115 ft) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter (138 ft).
Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.
Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.
Teknik Pembangunan Borobudur
Chandi Borobudur mempunyai desain yang berbeda dengan bangunan candi pada umumnya, bangunan ini tidak didirikan di atas tanah yang datar, dengan bagian alas mendatar, dan mempunyai suatu ruang didalam untuk penobatan arca. Borobudur merupakan bangunan piramida berundak, yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, dan dimahkotai dengan stupa besar yang berbentuk lonceng.
Penggalian arkeologi di Borobudur pada masa rekonstruksi menunjukkan bahwa penganut agama Hindu atau kepercayaan pra-India sudah mulai membangun bangunan besar di bukit Chandi Borobudur sebelum situs tersebut diambil alih oleh umat Buddha. Fondasinya tidak seperti fondasi tempat suci Hindu atau Budha, dan oleh karena itu, struktur aslinya dianggap lebih asli Jawa daripada Hindu atau Budha.
Chandi Borobudur dibangun dalam bentuk stupa besar tunggal, jika dilihat dari atas berbentuk Mandala Buddha Tantra yang juga melambangkan kosmologi dan alam batin Buddha. Desain Borobudur berbentuk piramida berundak. Dahulu kebudayaan megalitik prasejarah Austronesia yang berkembang di Indonesia dibangun dalam beberapa bentuk seperti gundukan tanah dan struktur piramida berundak yang terbuat dari batu yang disebut punden berundak.
Fondasi aslinya berbentuk persegi, panjang sekitar 118 meter (387 kaki) di setiap sisinya. Bangunan ini mempunyai sembilan tingkat, enam tingkat terbawah berbentuk persegi dan tiga tingkat teratas berbentuk lingkaran. Teras atas mempunyai tujuh puluh dua stupa kecil yang mengelilingi stupa induk terbesar. Setiap stupa berbentuk lonceng dan bertautan dengan banyak lubang dekoratif. Patung Buddha berada di dalam pagar terbuka.
Ketiga bagian candi melambangkan tiga “alam” dalam kosmologi Budha, yaitu Kamadhatu (dunia nafsu), Rupadhatu (dunia wujud), dan terakhir Arupadhatu (dunia tanpa wujud). Makhluk hidup biasa menjalani kehidupannya pada tingkat paling rendah, alam nafsu. Mereka yang telah terbakar habis, melenyapkan segala hasrat untuk terus hidup meninggalkan dunia hasrat dan hidup di dunia hanya dalam bidang bentuk: mereka melihat bentuk namun tidak tertarik padanya. Yang terakhir, para Buddha sepenuhnya melampaui bentuk dan mengalami realitas pada tingkat yang paling murni dan mendasar, yaitu samudra nirwana yang tak berbentuk.
Borobudur adalah sebuah stupa yang dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola yang tersusun atas bujur sangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana – Mahayana.
Struktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu), menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut pendapat de casparis. Sebagai mandala, yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu), menurut Marsis sutopo, 2011.
Chandi Borobudur denah dasarnya berbentuk Mandala. Borobudur Mandala, merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Digambarkan sebagai Dasabodhisatwa Bhumi adalah Sepuluh pelataran Borobudur yang menggambarkan filsafat mazhab Mahayana secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah berbentuk bujur sangkar berukuran sama pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.
Pembebasan dari siklus Samsara di mana jiwa yang tercerahkan tidak lagi melekat pada bentuk-bentuk duniawi sesuai dengan konsep Sunyata yaitu kekosongan total atau ketiadaan diri. Kamadhatu diwakili oleh alasnya, Rupadhatu dengan lima teras persegi (tubuh), dan Arupadhatu dengan tiga teras melingkar dan sebuah stupa puncak yang besar.
Ciri arsitektural antara ketiga tahapan tersebut mempunyai perbedaan metaforis. Misalnya, dekorasi persegi yang jelas di Rupadhatu menghilang ke dalam teras melingkar polos di Arupadhatu untuk mewakili bagaimana dunia bentuk adalah di mana manusia masih terikat pada bentuk dan nama, kemudian berubah menjadi dunia tanpa bentuk. Ketiga tahapan, perbedaan metafora, dekorasi persegi dan detil pada Rupadhatu menghilang menjadi teras melingkar polos di Arupadhatu.
Struktur atasnya jelas dibedakan dengan teras. Terdiri dari tiga platform masuk kembali melingkar, yang masing-masing menopang deretan stupa-stupa berlubang. Melewati deretan stupa yang disusun melingkar konsentris, kubah tengah di atas seluruh monumen menjulang ke angkasa hingga ketinggian hampir 35 m di atas permukaan tanah. Akses serangkaian gerbang, sebuah tangga mengarah langsung ke teras melingkar, melalui koridor teras-teras persegi. Tangga dipasang dari dataran rendah ke dataran tinggi, dan dihubungkan dengan tangga candi.
Pintu masuknya dijaga oleh arca singa, sedangkan arca singa lainnya mengawasi berbagai tingkat piramida, jumlah total 32 patung singa. Di sudut-sudut tingkatan dipasang cerat untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Sejumlah 100 cerat diukir dalam bentuk makara (gargoyle).
Chandi Borobudur dibangun di atas bukit alami yang panjang punggung bukitnya diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi. Bagian utama dataran tinggi menjadi lokasi monumen. Dinding di puncak bukit ini masih utuh. Dataran di bagian utara - barat bukit menjadi lokasi biara.
Dataran tinggi Borobudur berada beberapa 35 meter lebih tinggi dari dataran sekitarnya, puncak bukit menjulang paling tinggi di atas dataran tinggi. Letaknya di atas bukit yang dibangun. Ketinggian puncak bukit tidak cukup untuk dijadikan inti struktur. Teknik bangunan yang digunakan dalam konstruksi candi Borobudur di atas batu. Bahannya tidak dikumpulkan dari tambang, tapi diambil dari sungai tetangga. Batu-batu tersebut dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan diletakkan tanpa mortar.
Batu-batu tersebut dibuat untuk digenggam dengan menggunakan ekor merpati pada sambungan horizontal, dan lekukan pada sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu sisi batu yang dimasukkan ke dalam lubang yang sesuai di sisi berikutnya sering terjadi. Pengaturan ini memberikan fleksibilitas tertentu, sehingga monumen berdiri dengan gerakan ringan tanpa mengalami bahaya keruntuhan. Ketika bangunan selesai, ukiran dan hiasan lainnya ditambahkan. Biasanya dimulai dari atas, tetapi bisa juga ditambahkan secara bersamaan di beberapa bagian.
Tahapan Pembangunan Borobudur
Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.
Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa dan berat stupa raksasa yang luar biasa besar ini sangat membahayakan tubuh dan kaki candi. Arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang.
Menggambarkan perkiraan tahapan pembangunan Borobudur adalah sebagai berikut:
Tahap Pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui secara pasti, kurang lebih diperkirakan sekitar kurun waktu tahun 750 M hingga 850 M.
Rancang bangun tahap pertama Candi Borobudur Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun awal Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Borobudur dibangun diatas bukit alami, pada bagian atas bukit diratakan dan bagian pelataran datar diperluas. Sesungguhnya bangunan ini tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, pada bagian bukit tanah dipadatkan dan kemudian ditutup dengan struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis.
Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
Tahap Kedua dan Ketiga
Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
Rancang bangun tahap kedua dan ketiga Candi Borobudur Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun tahap kedua dan ketiga Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Tahap Keempat
Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran.
Rancang bangun tahap keempat Candi Borobudur Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun tahap keempat Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga.
Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk.
Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.
Tahap Kelima
Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.
Rancang bangun tahap kelima Candi Borobudur Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun akhir Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Sepuluh pelataran Borobudur menggambarkan filsafat mazhab Mahayana secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 meter (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.
Pada tahun 1885, dalam penelitian pada bangunan ini, ditemukan struktur tersembunyi yang berada di kaki Borobudur yang disebut dengan 'Kaki tersembunyi'. Pada kaki candi ini terdapat relief yang berjumlah 160 panil relief, menjelaskan di antaranya adalah relief cerita Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat suatu ukiran atau seperti aksara, tulisan yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat suatu adegan dalam gambar-gambar relief cerita.
Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu-batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, dan fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran pada monumen. Teori lain menjelaskan bahwa penambahan kaki ini disebabkan karena suatu kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, yaitu kitab India mengenai bentuk arsitektur dan tata kota. Alasan penambahan dan pembuatan kaki tambahan, dilakukan secara teliti dan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha, menjelaskan bagian-bagian Borobudur adalah sebagai berikut:
Kamadhatu
Bagian kaki melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi.
Relief Cerita dinding kaki candi Borobudur Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding Kaki Candi Tersembunyi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Pada bagian kaki asli terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara dibuka sehingga dapat dilihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.
Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif.
Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.
Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).
Teras-teras lingkaran Arupadhatu Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang lubang seperti dalam kurungan.
Struktur Bangunan
Tingkatan tertinggi Borobudur yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa bentuk stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa ini digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi Buddha'. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada dan ditemukan patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan dari pemahatnya pada zaman dahulu.
Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna melambangkan kebijaksanaan yang tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat oleh hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Terdapat sekitar 55.000 meter kubik batu andesit yang diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu-batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen.
Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara.
Desain Arsitektur Borobudur
Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.
Di Chandi Borobudur kamadhatu diwakili oleh alas, rupadhatu oleh lima teras persegi, dan arupadhatu diwakili oleh tiga platform melingkar ditambah stupa besar. Rupadhatu dibedakan dari arupadhatu tidak hanya oleh fitur arsitektur, tetapi juga oleh banyaknya dekorasi teras persegi yang kontras dengan dataran platform melingkar.
Akan tetapi, alasnya tidak memberikan bukti yang langsung terlihat mewakili kamadhatu. Hal ini karena itu bukan penyangga asli dari monumen tersebut, tetapi suatu bungkusan yang menyembunyikan dasar yang sebenarnya, dan rangkaian 160 panil reliefnya, dari pandangan pengunjung. Bagian dasar ini, lebih disebut 'kaki tersembunyi', ditemukan pada tahun 1885.
Penemuan itu mengungkapkan, tidak hanya relief, tetapi prasasti pendek yang terukir di banyak panel. Prasasti itu tampaknya adalah instruksi bagi para pematung, yang menunjukkan pemandangan yang akan diukir. Mereka diakui sebagai kata kunci dari naskah suci Buddha Mahakarmavibhangga. Teks ini membahas tentang bekerjanya karma, yaitu hukum sebab akibat, reinkarnasi, di surga dan di neraka.
Relief-relief tersebut menggambarkan moralitas di bumi, menunjukkan bagaimana setiap pikiran, tindakan dan perasaan menghasilkan suatu keadaan bahagia atau kecelakaan yang mengerikan. Hukum sebab dan akibat pada dasarnya didasarkan pada dominasi keinginan. Oleh karena itu sebutan kamadhatu tidak diragukan lagi benar untuk alas dan 'kaki tersembunyi' Chandi Borobudur. Pertanyaan tentu saja mengapa 'kaki' itu terkubur, menyembunyikan semangat dan dedikasi para seniman setia.
Penggunaan 12.750 meter kubik batu untuk membuat bungkus, dan pengorbanan elemen arsitektur dan relief tampaknya sangat menunjukkan bahwa kesehatan monumen dipertaruhkan. Karena sebagian besar fondasi piramid berundak yang secara bertahap dipasang harus bertumpu pada tanah yang terisi, beberapa kemungkinan terjadi geser, dan menjadi perlu untuk membuat dinding di dasarnya. Dengan kata lain, dinding selubung adalah tanggul penahan yang dipasang dan ditempatkan ke sekeliling bangunan untuk mencegah longsor lebih lanjut dan untuk menghindari bencana yang lebih buruk.
Solusi teknis dari sebuah bungkus memiliki kompensasi estetika dan agama tertentu. Platform luas yang disediakan oleh dinding tambahan menghaluskan garis luar. Pada saat yang sama memberikan ruang yang cukup dan memungkinkan peziarah untuk melakukan putaran awal di waktu luang dan merenungkan lagi sebelum memasuki jalan yang sempit dalam agama Buddha.
Karena, berbeda dengan keterbukaan kehidupan duniawi di kamadhatu, jalan menuju keselamatan tertinggi membutuhkan penyempitan penglihatan tubuh dan konsentrasi pikiran; dan galeri sempit rupadhatu membantu mereka yang setia untuk mencapai ini dengan cara yang paling tepat. Rupadhatu pada pandangan pertama membingungkan. Dindingnya penuh dengan relief, begitu pula langkan.
Tidak kurang dari 1.300 panel relief naratif, dengan panjang total 2.500 m, dan selanjutnya 1212 relief dekoratif, mengapit koridor. Di atas relief di dinding, dekorasi berukir terus menerus membentang lebih dari 1500 m, dan cornice di atasnya dihiasi oleh 1416 antefix. Bagian atas dinding (sesuai dengan fasad luar pagar langkan) terdiri dari relung yang diselingi dengan relief dekoratif. Ada 432 relung di sekitar lima teras, masing-masing berisi patung Buddha duduk. Di atas relung, stupa-stupa padat kecil membumbung ke langit. Dan karena dinding di belakang relung merupakan fasad bagian dalam langkan, deretan 1472 stupa pada gilirannya membentuk kaki langit langkan yang agak kasar.
Kelimpahan dalam bentuk yang membingungkan di rupadhatu memiliki pasangannya dalam relief naratif. Biografi Sang Buddha, dari turunnya dari surga sampai pencerahannya, digambarkan di dinding utama galeri pertama. Kisah Sudhana dalam mencari Kebijaksanaan Tertinggi dan Kebenaran Tertinggi diceritakan dalam relief yang menutupi dinding galeri kedua, ketiga dan keempat. Kegigihan tokoh utama rupadhatu dan upaya tak kenal lelah mereka untuk mencapai tujuan akhir, meskipun mereka terlibat dengan kekayaan dan keindahan bentuk yang luar biasa, memberikan model bagi peziarah saat ia berkeliling melalui tahap-tahap yang berurutan dalam teras-teras persegi rupadhatu.
Teras-teras melingkar yang mewakili Alam Tanpa Bentuk adalah polos: tidak ada ukiran, tidak ada ornamen, tidak ada hiasan. Satu-satunya jeda dalam kepolosan yang monoton itu ditawarkan oleh deretan stupa yang mengelilingi kubah pusat yang besar. Didukung oleh bantalan teratai, stupa disusun dalam tiga lingkaran konsentris, sesuai dengan tiga platform melingkar. Semuanya ada 72 stupa: 32 di tingkat terendah atau pertama, 24 di tingkat kedua dan 16 di tingkat ketiga. Masing-masing dari 72 stupa memiliki semacam permukaan.
Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, yang diilhami gagasan dharma dari India yaitu stupa dan mandala. Dipercaya merupakan kelanjutan dari unsur lokal yaitu struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dalam periode prasejarah Indonesia. Perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan pencapaian untuk menuju Nirwana dalam ajaran Buddha.
Dilihat dari stupa teras melingkar, tampak seperti profil orang yang terbaring di lereng gunung. Hidung dan dagunya tergambar dengan jelas. Konon di punggung bukit tersebut terdapat Gunadharma, arsitek Chandi Borobudur, yang menurut tradisi dipercaya menjaga ciptaannya selama berabad-abad.
Legenda Gunadharma adalah cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang sangat mirip bentuknya dan menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
Borobudur Stupa
Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan untuk relik Sang Buddha. Hal ini, sangat mungkin bahwa sisa-sisa tubuh orang suci Buddha terkemuka, yang diabadikan dalam stupa-stupa tersebut. Kadang-kadang suatu stupa didirikan hanya sebagai simbol dari keyakinan dalam agama Buddha.
Chandi terutama dimaksudkan untuk menampung para dewa, tetapi relik adalah sesuatu yang sangat penting sebagai fungsi chandi. Bagian-bagian tertentu dari chandi disisihkan dan dimasukkan dalam kotak relik. Namun relik tersebut bukan berasal dari sisa-sisa tubuh, melainkan bentuk logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang benar-benar dimaksudkan sebagai kenang-kenangan dewa, yang secara simbolis mewakili kekuatan Sang Pencipta.
Tidak ada relik semacam itu, dan juga belum ditemukan di Chandi Borobudur, seperti peninggalan orang suci, atau kenang-kenangan dari dewa. Tidak mungkin sisa-sisa jasad yang ditempatkan dan diabadikan didalam bangunan itu. Untuk tujuan tersebut, jenis stupa lain akan didirikan dan, memang, stupa kecil digali pada awal abad ini.
Teras stupa Borobudur Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Stupa besar tidak hanya menjadi mahkota tetapi monumen itu sendiri, sembilan teras kemudian hanya menjadi dasar bertingkat yang menopangnya. Sangat mungkin sebuah stupa didirikan di atas banyak alas, tetapi tidak sedemikian rupa sehingga seluruhnya dikerdilkan dalam ukuran dan kepentingan oleh dasar itu. Ini sama sekali tidak dapat didamaikan dengan rasa keindahan tertinggi dan kualitas pekerjaan yang terlihat di setiap detail Chandi Borobudur.
Bagaimanapun, konstruksi yang melibatkan tidak kurang dari 55.000 meter kubik batu tidak akan pernah dimulai tanpa terlebih dahulu memiliki desain yang terencana dengan baik. Dengan demikian, kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur adalah candi dan bukan stupa, meskipun berbeda dari candi lain di Indonesia. Pembagian vertikal Chandi Borobudur menjadi dasar, badan dan bangunan atas, membuat stupa besar hanya bagian atas monumen, sangat sesuai dengan gagasan chandi sebagai representasi gunung kosmik.
![]() | |
|
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Tiga bagian yang ditumpangkan mewakili tiga lingkup alam semesta yaitu bhurloka atau Alam Fana, bhuvarloka atau Alam Yang Disucikan, dan svarloka atau Alam Dewa. Chandi juga memiliki simbol internal dari tiga alam. Ditengah-tengah alasnya terdapat lubang, dan dibawahnya ditempatkan kotak penyimpanan ritual. Kotak itu berisi pripih yang terdiri dari beberapa seperti keping logam, batu mulia dan berbagai bentuk biji-bijian, yang melambangkan unsur-unsur duniawi. Diatas lubang, didalam ruangan kuil, terdapat gambar Sang Pencipta yang ditahtakan. Dibagian atas terbuat dari batu padat, suatu ruangan kecil atau bilik disediakan untuk tempat pripih lain yang mewakili unsur-unsur keagamaan.
Selama upacara ritual, dewa turun dari tempat tinggal sementaranya di ruang kecil diatas bangunan ke ruang kuil, dan mengilhami patung itu dengan rohnya. Pada saat yang sama unsur-unsur duniawi dari lubang didasar chandi memberi patung itu tubuh sementara. Lengkap dengan tubuh dan jiwa, patung itu menjadi hidup. Itu bukan lagi benda mati, tetapi Tuhan yang hidup, yang dapat menerima penghormatan dan berkomunikasi dengan pendeta yang memimpin. Karena Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, bangunan ini tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi.
Oleh karena itu dapat dianggap sebagai tempat ziarah dari pada tempat ibadah, sistem tangga dan koridor membimbing peziarah secara bertahap ke platform paling atas melalui perambulation sepanjang teras berturut-turut. Agama Buddha memberikan tekanan khusus pada tahap persiapan mental yang harus dilalui sebelum mencapai tujuan. tujuan akhir, yaitu pembebasan definitif dari semua ikatan duniawi dan pengecualian mutlak dari kelahiran kembali.
Tiga alam Semesta akibatnya ditunjuk dalam istilah yang sama. Lingkup terendah adalah kamadhatu atau Alam Keinginan. Pada tahap ini manusia terikat pada keinginannya. Alam yang lebih tinggi adalah rupadhatu atau Alam Bentuk, di mana manusia telah meninggalkan keinginannya tetapi masih terikat pada nama dan bentuk. Lingkup tertinggi adalah arupadhatu atau Alam Tanpa Bentuk. Dalam lingkup ini tidak ada lagi nama atau bentuk. Manusia sekali dan selamanya dibebaskan dari semua ikatan dengan dunia fenomenal.
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur. Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.







Comments
Post a Comment