Melihat Sekilas Tradisi Budaya Masyarakat Borobudur


Borobudur, destinasi wisata utama merupakan salah satu situs warisan budaya dunia sejak diresmikan pada tahun 1991. Mempelajari budaya Borobudur bersama pemandu wisata merupakan langkah tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Berwisata mendalami narasi dan penjelasan tentang Borobudur sebagai apresiasi dalam menghargai dan mendukung upaya pelestarian warisan leluhur.

Chandi Borobudur dan sekitarnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena bangunan ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Kemegahan dan keindahan warisan budaya ini mempunyai nilai dan makna sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung domestik dan mancanegara.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani Anda dalam perjalanan wisata yang menarik ini dengan memberikan penjelasan-penjelasan untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk berwisata guna menelusuri secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang terkandung dalam relief serta teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin akan sulit dipahami apabila hanya melihatnya sendiri.

Masyarakat Pedesaan (Sawah).
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan menjelajahi berbagai narasinya, dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah, budaya, dan seni bangunan tersebut. Hal ini berfungsi sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan dan melindungi Borobudur, situs warisan budaya yang ada di Indonesia.

Tradisi Budaya Sekitar Borobudur

Menjelajahi Chandi Borobudur dan sekitarnya dengan menyaksikan tradisi budaya masyarakat pedesaan, dan keindahan alamnya memang merupakan topik yang sangat menarik. Secara administratif, Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan bersejarah ini terletak di atas bukit yang dikelilingi Pegunungan Menoreh di selatan, Sungai Progo dan Elo di timur, serta Gunung Merapi dan Merbabu di timur laut.

Kawasan Borobudur dan sekitarnya, dengan tradisi budaya yang diwariskan dari masa lalu, masih mempertahankan tradisi leluhur mereka. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, menawarkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pedesaan.

Tradisi budaya masyarakat Borobudur sangat istimewa dan menarik, hal ini lebih berkaitan langsung dengan tradisi budaya upacara keagamaan di candi Borobudur seperti upacara Waisak dan prosesi ritual umat Budha. Nama Borobudur berkaitan langsung dengan cerita sejarah asal usul nama Borobudur dengan nama desa yang berarti keberadaan Borobudur, seperti nama desa Bumisegara, Sabrang Rawa dan juga Tuk Sanga.

Masyarakat di kawasan Borobudur mempunyai tradisi yang berhubungan dengan kehidupan dan budaya sejak dahulu. Tradisi kebudayaan dapat diartikan merupakan peninggalan leluhur nenek moyang yang masih dipelihara sampai saat ini. Ragam budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat merupakan nilai seni yang berbeda-beda. Adanya tradisi budaya tidak terlepas dari sejarah dimasa lalu. Dalam arti umum adalah kebudayaan dengan tradisi kehidupan masyarakat.

Ingatan kita tertuju pada masa lalu dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno yang menyebutkan kepercayaan tentang lingkungan alam. Setiap kejadian mempunyai arti khusus. Hal ini berarti tentang sesuatu yang dianggap mempunyai suatu kekuatan yang berasal dari budaya mada lalu. Rangkaian budaya masyarakat Borobudur lebih pada dimana bangunan ini mempunyai nilai sejarah dan makna simbolis yang berasal dari kebudayaan masa Jawa kuno seperti upacara-upacara khusus.

Upacara-upacara khusus yang masih dilakukan sampai sekaramg di desa-desa kawasan Borobudur, telah berjalan secara turun-temurun dan dipahami sebagai tradisi kebudayaan Jawa Kuno seperti diantaranya: Upacara Tradisi Daur Hidup, Upacara Tradisi Penanggalan Jawa, Upacara terkait dengan Pekerjaan, Seni Dolanan Tradisional, Pengobatan Tradisional, Ekspresi Ritual, Sesaji dan Olahan Pangan, dan Benda dan Tempat Wingit / Sakral.


Borobudur
Borobudur, namanya berasal dari kata 'biara - bedudur', berubah menjadi Borobudur, candi Budha Mahayana berbentuk piramida berundak, bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Menjelaskan tradisi budaya adalah suatu kepercayaan, adat istiadat, dan juga kebiasaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu masyarakat, yang berfungsi sebagai identitas dan landasan nilai-nilai kelompok tersebut. Tradisi budaya mencakup berbagai aspek seperti seni, musik, tari, upacara, bahasa, dan juga kuliner.

Chandi Borobudur dan sekitarnya menawarkan wisata budaya dengan tradisi yang unik dan menarik serta spiritualitas yang mendalam. Tradisi dan budaya yang luar biasa ini telah memikat setiap orang, mendorong mereka untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan tradisional masyarakat Borobudur. Melalui narasi budaya Borobudur, kita mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai tradisi leluhur kita. Mempelajari Borobudur merupakan bentuk apresiasi dan dukungan terhadap upaya pelestarian warisan budaya leluhur.

Tradisi budaya Borobudur sangat kaya, memadukan spiritualitas Budha dengan kearifan lokal Jawa. Tradisi ini mencakup ritual keagamaan seperti ritual Pradaksina pada hari Waisak, upacara penyucian seperti Ruwat Rawat, dan pertunjukan seni rakyat seperti Jathilan, Topeng Ireng, dan Wayang Kulit. Semua tradisi ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya dan menjaga hubungan yang harmonis dengan candi sebagai situs suci dan sumber peradaban.

Berikut beberapa tradisi budaya masyarakat pedesaan disekitar Borobudur yang masih sering dilakukan adalah sebagai berikut:

Tradisi Religius dan Spiritual:
Pradaksina: Upacara dan ritual mengelilingi Chandi Borobudur searah jarum jam, yang diikuti oleh para biksu dan umat Budha selama berlangsung upacara Waisak, memiliki arti sebagai simbol penyucian diri untuk menuju pencerahan.
Ruwatan Bumi dan Ruwat Rawat:
Salah satu ritual khusus untuk menyucikan candi dan sekitarnya, yang melibatkan upacara adat seperti pengambilan air suci dan penebaran benih ikan, sebagai bentuk perawatan dan permohonan perlindungan.
Kirab Saparan dan Merti Desa:
Merupakan tradisi tahunan di mana warga berdoa untuk memohon keselamatan dengan cara mengarak tumpeng mengelilingi candi, yang berpuncak diakhiri pada pertunjukan wayang kulit.

Kesenian dan Pertunjukan Lokal:
Tarian Rakyat: Beberapa pertunjukan kesenian rakyat seperti Ndolalak, Ndayakan, Topeng Ireng, Jathilan, Kuda Lumping, Gatoloco, dan Lengger, sering ditampilkan untuk memeriahkan acara gelar budaya.
Grebeg Gunungan: Merupakan parade budaya yang menampilkan bentuk gunungan berupa hasil bumi sebagai simbol kemakmuran, yang menarik kunjungan wisatawan.
Kidung Karmawibangga: Atraksi utama yang digelar dalam beberapa acara, untuk menunjukkan nilai-nilai moral dan spiritual.

Filsafat dan Arsitektur:
Harmoni Budha-Jawa: Arsitektur candi memadukan seni Budha India dengan motif-motif lokal, yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno.
Simbolisme Borobudur: Struktur persegi dan lingkaran melambangkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju pembebasan spiritual (nirwana).

Aktivitas Wisata:
Menikmati Matahari Terbit: Pengalaman klasik menyaksikan matahari terbit dari puncak candi.
Menjelajahi Relief: Mempelajari kisah-kisah yang terpahat di dinding candi. Tradisi-tradisi ini akan menunjukkan bagaimana Chandi Borobudur bukan hanya sebagai situs bersejarah, tetapi juga merupakan pusat kehidupan budaya dan spiritual bagi masyarakat sekitar dan umat Budha di seluruh dunia, yang terus dilestarikan dan diintegrasikan ke dalam kehidupan modern.

Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi
Dibangun abad ke-8 - 9 M, disebutkan dalam prasasti Karangtengah 824 M dan Sri Kahulunan 842 M, oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra. Nama Borobudur berasal dari kata 'biara - bedudur', candi Budha Mahayana berbentuk piramida berundak, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Budaya Masyarakat Pedesaan

Menjelajahi kawasan Chandi Borobudur dengan menyaksikan tradisi budaya masyarakat pedesaan, dan keindahan alamnya memang merupakan topik yang menarik. Chandi Borobudur berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Borobudur terletak di atas bukit yang dikelilingi Pegunungan Menoreh di selatan, Sungai Progo dan Elo di timur, serta Gunung Merapi dan Merbabu di timur laut. Keberadaannya digambarkan dalam sebuah prasasti Jawa Kuno dari abad ke-8, yang berlatar belakang Budha.

Kawasan Borobudur dan sekitarnya, dengan tradisi budaya yang diwariskan dari masa lalu, masih mempertahankan tradisi leluhur mereka. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, menawarkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pedesaan. Masyarakat di kawasan Borobudur mempunyai tradisi yang berhubungan dengan kehidupan dan budaya sejak dahulu.

Tradisi kebudayaan dapat diartikan merupakan peninggalan leluhur nenek moyang yang masih dipelihara sampai saat ini. Ragam budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat merupakan nilai seni yang berbeda-beda. Adanya tradisi budaya tidak terlepas dari sejarah dimasa lalu. Dalam arti umum adalah kebudayaan dengan tradisi kehidupan masyarakat.

Tradisi Budaya di Relief Borobudur

Banyak relief Chandi Borobudur berkaitan dengan penjelasan dalam prasasti dan naskah sastra dari periode Jawa Kuno, yang dapat dijelaskan melalui beberapa hal, yaitu rekonstruksi proses budaya dan rekonstruksi sejarah, serta rekonstruksi cara hidup. Dalam menjelaskan lanskap pedesaan di Borobudur, terdapat kriteria dengan atribut yang mencakup area seperti pegunungan dan perbukitan, area di lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar.

Relief - relief Chandi Borobudur banyak yang berhubungan dengan penjelasan dalam keterangan yang ditulis pada prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna, dapat dijelaskan melalui beberapa hal yaitu rekonstruksi proses Budaya dan rekonstruksi sejarah, serta rekonstruksi tentang cara hidup. Dalam menjelaskan lansekap pedesaan pada Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daerah-daerah seperti gunung dan bukit, daerah pada lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar.

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu dan bagi seniman itu sendiri dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi didalam suatu cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh, tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita serta bentuk - bentuk tertentu seperti rumah, pohon, sungai, dan beberapa hal-hal lainnya adalah sebagai suatu petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya suatu peristiwa yang diharapkan.

Menjelajahi tradisi budaya yang terpahat pada relief cerita dan mengagumi keindahan arsitektur Borobudur sungguh merupakan pengalaman yang memukau. Relief cerita Borobudur, beserta tradisi budayanya, merupakan peninggalan masa lalu, dan masih memegang teguh tradisi leluhur hingga saat ini. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Tradisi budaya ini unik dan menarik, berkaitan langsung dengan upacara keagamaan di Chandi Borobudur, seperti upacara Waisak dan prosesi ritual Budha. Bahkan asal usul nama Borobudur pun terkait dengan nama desa tersebut, yang menandakan keberadaan Borobudur.

Masyarakat di kawasan Borobudur memiliki tradisi yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan budaya mereka. Tradisi budaya dapat diartikan sebagai warisan leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Keberagaman budaya, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, merepresentasikan nilai-nilai seni yang beragam. Keberadaan tradisi budaya tidak dapat dipisahkan dari sejarah masa lalu. Secara umum, budaya dan tradisi kehidupan masyarakat saling terkait.

Lansekap pedesaan dapat meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah atau tempat, seperti daerah pada lingkungan pertanian dan pengelolaan lahan. Pada Chandi Borobudur terdapat panil relief yang menunjukkan tentang pertanian dan pengolahan lahan. Lingkungan pertanian meliputi daerah lingkungan persawahan seperti sawah, sawah pasang surut, sawah tadah hujan, ladang / tegalan, kebun dan Hutan.

Lingkungan pertanian yang berada pada daerah lingkungan sawah dijelaskan bahwa dalam mengelola sawah bagi masyarakat, sawah tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga dikelola untuk kebutuhan dalam menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima atau sawah perdikan. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.

Membahas tentang makanan pokok pada masa Jawa Kuno menyebutkan dalam lingkungan pertanian bahwa pada masa itu lebih mengutamakan pada pengolahan padi sebagai bahan makanan pokok. Pada saat itu masyarakat telah mengenal bagaimana cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Mengolah nasi dengan cara diliwet adalah memasak dengan alat periuk, belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang sering digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi. Dalam cara yang lain menyebutkan nasi yang dimasak dengan cara di-tim disebut nasi tim. Dalam Prasasti Panggumulan I dan II tahun 902 dan 903 M disebutkan, bagaimana menggunakan daun sebagai alas makan nasi tim dengan lauk pauk yang asin-asin seperti dendeng kakap.

Dalam pengolahan makanan dan pembuatan minuman pada masa Jawa Kuno meliputi beberapa bentuk seperti pembuatan Dodol. Dodol adalah salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat dengan nama dwa-dwal atau dodol. Sedangkan dalam pengolahan minuman, disebutkan yaitu bagaimana mengolah tanaman tebu yang oleh masyarakat juga dikenal sebagai bahan dasar untuk pembuatan minuman beralkohol yang disebut dengan nama tuak dan siddhu. Siddhu atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara khusus dalam penetapan sima atau tanah perdikan.

Desain rumah pedesaan Jawa Kuno
Mendirikan bangunan rumah dengan desain rumah Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Hal ini merujuk kembali ke masa lalu, mencerminkan satu kepercayaan masyarakat Jawa kuno yang menekankan pentingnya lingkungan alam. Setiap peristiwa memiliki makna khusus. Hal ini menyiratkan bahwa sesuatu dianggap memiliki kekuatan yang berasal dari budaya kuno. Struktur budaya masyarakat Borobudur lebih berfokus pada nilai historis dan makna simbolis bangunan ini, yang berakar pada budaya Jawa kuno, seperti upacara-upacara khusus.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Budha Mahayana, dibangun pada abad ke-9, masa pemerintahan Dinasti Sailendra, dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli pemujaan leluhur Indonesia dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur

Chandi Borobudur merupakan Situs Warisan Dunia dengan makna sejarah dan budaya yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia, memikat setiap pengunjung dengan kemegahan dan keindahannya. Borobudur merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah, spiritual, dan estetika, serta telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Borobudur memiliki struktur yang megah dibangun pada masa Dinasti Syailendra, sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, dan berfungsi sebagai pusat peribadatan umat Budha di seluruh dunia. Bangunan ini berada di atas bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung, yaitu Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, Bukit Tidar di utara, dan Pegunungan Menoreh di selatan. Borobudur terletak di dekat pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo, di timur.

Nama Borobudur, atau Barabudur, berasal dari dua kata: "bara", yang berasal dari kata "biara", yang berarti tempat ibadah Budha atau candi, dan "budur", yang berasal dari kata Bali "beduhur", yang berarti "di atas" atau "bukit". Kemudian, arti "biara" dan "beduhur" berkembang menjadi "Bara Budur", seiring dengan perubahan bunyinya menjadi "Borobudur", yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Borobudur adalah candi Budha Mahayana yang terdiri dari enam teras persegi yang diatapi oleh tiga teras melingkar. Dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Stupa utama terbesar terletak di tengah dan menjadi mahkota bangunan ini, dikelilingi oleh tiga baris melingkar yang terdiri dari 72 stupa berlubang. Di dalamnya terdapat arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra Dharmachakra (memutar roda dharma).

Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk membimbing umat manusia agar beranjak dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha. Bangunan ini dibangun dengan gaya arsitektur Jawa-Budha, yaitu perpaduan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dengan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.

Sebagai situs ziarah bagi umat Budha, memasuki bangunan dari sisi timur mengawali ritual di kaki candi, berjalan searah jarum jam mengelilingi bangunan suci, naik ke tingkat berikutnya melalui tiga tingkatan alam dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan ini adalah Kamadhatu (alam keinginan), Rupadhatu (alam rupa), dan Arupadhatu (alam ketiadaan rupa). Sepanjang perjalanan, para peziarah menyusuri serangkaian koridor dan tangga, mengagumi tak kurang dari 1.460 panel relief yang diukir indah di dinding dan langkan.

Secara historis, Chandi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 karena pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Jawa melemah dan masuknya Islam. Dunia baru menyadari keberadaannya setelah ditemukan pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris untuk Jawa.

Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.

Legenda Gunadharma tentang perbukitan Menoreh
Legenda arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Cagar Budaya Borobudur

Chandi Borobudur merupakan situs warisan budaya yang memiliki nilai spiritual yang tinggi, sehingga bangunan ini menjadi tempat peribadatan dan ziarah bagi umat Budha. Keindahan relief, arsitektur, serta susunan stupa dan arcanya menghadirkan nilai estetika yang menunjukkan keterampilan para pemahat di masa lampau. Seni arsitekturnya memberikan gambaran kemegahan bangunan dan kekokohan struktur batu andesitnya.

Pencapaian estetika dan keahlian teknik arsitektur yang ditampilkan Borobudur, serta ukurannya yang luar biasa, menjadi bukti keagungan masa lalu, dan telah membangkitkan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana peran Angkor Wat untuk Kamboja. Borobudur telah menjadi simbol yang kuat bagi Indonesia yaitu sebagai saksi kejayaan masa lalu.

Chandi Borobudur memiliki 2.672 panel relief yang menggambarkan kisah-kisah spiritual dan dekoratif yang terpahat indah di dinding, serta terdapat 504 arca Budha. Hiasan 1.460 panel relief menggambarkan banyak cerita - cerita sejarah tentang kisah - kisah seperti kehidupan Budha, Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka-Avadana, dan Gandavyuha. Relief-relief tersebut juga berfungsi sebagai media pembelajaran tentang ajaran dan sejarah Budha.

Chandi Borobudur adalah situs warisan budaya yang terletak di Jawa, monumen dan tempat ziarah terbesar bagi umat Budha. Peninggalan Dinasti Sailendra ini dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, sebagaimana disebutkan dalam dua prasasti: Karangtengah, bertanggal 824 Masehi, dan Sri Kahulunan, bertanggal 842 Masehi. Candi ini dibangun oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Sailendra, yang memerintah sekitar tahun 782 hingga 812 Masehi. Bangunan ini merupakan candi Budha Mahayana, yang berfungsi sebagai bangunan suci untuk pemujaan dan ritual.

Secara dimensi, Candi Borobudur memiliki denah persegi panjang, berukuran 121,66 m x 121,38 m. Tingginya, tidak termasuk puncak chatra, adalah 35,40 meter. Terdiri dari batu andesit, Candi Borobudur terdiri dari 10 lantai, dengan stupa utama di puncaknya, yang terbesar, dikelilingi oleh deretan 72 stupa berlubang bertingkat tiga, masing-masing berisi arca Buddha.

Terdiri dari 55.000 meter kubik batu andesit (2.000.000 keping batu), dinding koridor batu menampilkan 1.460 panel relief yang menggambarkan cerita: 160 panel menggambarkan cerita Karmawibhangga, 1.300 panel menggambarkan cerita Lalitavistara, cerita Jataka Avadana, dan cerita Gandawyuha. Terdapat juga 1.212 panel relief dekoratif.

Bangunan suci umat Budha Candi Borobudur pernah mengalami masa “terabaikan”, bangunan dan dinding mengalami runtuh, rusak dan tidak terurus. Akibat bencana alam dan letusan gunung Merapi bangunan candi Borobudur tertutup abu dan tanah yang mengakibatkan pemeluk agama Buddha yang tinggal di daerah bangunan tersebut meninggalkan Borobudur, sebagaimana sejarah yang disebutkan dalam buku “Babad Tanah Jawi” tahun 1709 dan “Babad Tanah Mataram” tahun 1757.

Pada tahun 1814, masyarakat Bumisegoro sekitar Borobudur menyebutkan dan menginformasikan adanya sebuah candi atau bangunan suci yang terkubur dan tertutup tanah, yang berada di dalam bukit, sehingga menarik perhatian untuk diselidiki. Candi Borobudur mendapat perhatian serius dan penyelidikan dimulai oleh Thomas Stanford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggris yang berada di Pulau Jawa.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Raffles adalah orang pertama yang menemukan Candi Borobudur. Upaya peresmian bangunan yang dilakukan Raffles merupakan momentum penting untuk memperkenalkan Candi Borobudur ke dunia internasional. Kemudian oleh seorang insinyur Belanda H.C Cornelius yang dibantu sekitar 200 orang selama 45 hari membersihkan semak-semak yang menutupi bukit Candi Borobudur.

Upaya pembersihan selanjutnya dilakukan pada tahun 1835 yang dipimpin oleh Hartman, seorang Residen Kedu. Pada era ini, deskripsi Candi Borobudur juga dilakukan oleh Brumun dan sketsanya dilakukan oleh Wilson. Pada tahun 1885, Jan Willem Ijzerman, seorang insinyur yang saat itu menjabat sebagai presiden pertama Archeologische Vereniging Yogyakarta – Sarekat Arkeologi, bersama timnya melakukan penggalian dan menemukan dasar Borobudur berupa rangkaian relief panjang yang dikenal dengan nama relief Karmawibhangga. Saat itu, fotografer pribumi, Kassian Cephas, diminta memotret seluruh 160 panil relief yang tampak dari hasil penggalian. Setelah itu rangkaian panel relief ditutup kembali.

Chandi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia – Unesco World Heritage 1991.

Chandi Borobudur
Terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.
Chandi Borobudur mengalami bangunan runtuh dan akibat bencana alam serta letusan gunung berapi, bangunan ini terbengkalai dan terkubur di dalam bukit. Stupa-stupa di teras Arupadhatu tertutup tanah. Semak dan pohon-pohon besar tumbuh di halaman sekitar candi. Tanah penutup candi dibuang ke sekeliling bukit. Reruntuhan batu bertumpuk di sekitar kaki candi.

Pelestarian Borobudur

Chandi Borobudur merupakan salah satu dari beberapa Situs Warisan Budaya (WB) di Indonesia, yang terdiri dari struktur candi terbesar. Borobudur telah menjadi Situs Warisan Dunia sejak tahun 1991. Dibangun pada abad ke-9, candi ini terinspirasi oleh Buddhisme Mahayana pada masa kejayaan Dinasti Syailendra. Candi ini terletak di atas bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua pasang gunung: Gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Gunung Merbabu-Merapi di timur laut. Candi ini juga terletak di dekat pertemuan dua sungai, Sungai Progo dan Sungai Elo, di timur.

Chandi Borobudur, situs warisan budaya di Indonesia, merupakan struktur bangunan candi. Selama beberapa dekade terakhir, setelah pemugaran Borobudur oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, upaya konservasi Borobudur telah dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur (BKB) di Indonesia, dengan keterlibatan internasional, termasuk UNESCO. Peran yang penting dalam pemeliharaan dan melindungi Borobudur sebagai destinasi wisata yang unik di Indonesia, yang mencakup beberapa aspek, termasuk mitigasi bencana alam yang disebabkan oleh letusan gunung berapi, yang paling menonjol adalah Gunung Merapi, gunung berapi paling aktif di Jawa.

Sebagai monumen Budha terbesar, yang terdiri dari 55.000 meter kubik batu dan tanah lereng yang labil, Borobudur membutuhkan perawatan dan perlindungan. Perlindungan dari runtuhnya susunan batu candi, tanah lereng yang labil yang dapat menyebabkan tanah longsor, serta ancaman lumut dan kerak merupakan masalah serius. Peninjauan lebih dekat pada beberapa aspek struktur Borobudur yang rusak mencakup stupa-stupa di teras Arupadhatu, yang tertutup debu dan tanah. Semak-semak dan pepohonan besar tumbuh di halaman sekitar bangunan. Sebagian besar tanah yang menutupi bangunan telah disingkirkan dan dipindahkan ke lereng bukit di sekitarnya. Reruntuhan batu dari bangunan tersebut ditempatkan di sekitar kaki candi.

Secara keseluruhan, setelah restorasi besar-besaran pada tahun 1973, Pemerintah Indonesia dan UNESCO telah secara serius mempelajari dan mengidentifikasi tiga isu kunci terkait dengan rehabilitasi Borobudur, yaitu vandalisme atau kerusakan oleh pengunjung, kondisi tanah yang labil yang menyebabkan erosi tanah di bagian tenggara situs, serta analisis dan restorasi bagian-bagian yang hilang.

Beberapa faktor, seperti tanah gembur, gempa bumi yang berulang, dan hujan lebat, dapat mengguncang struktur candi. Gempa bumi merupakan faktor yang paling serius, karena tidak hanya batuan yang dapat runtuh dan lengkungan candi runtuh, tetapi tanah itu sendiri juga bergerak dalam gelombang, yang dapat merusak struktur candi. Tanah liat berada pada curah hujan yang tinggi menjadi gembur, akibat beberapa kali gempa bumi, dan curah hujan dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi akibat letusan gunung berapi adalah faktor yang berdampak paling parah, karena tidak saja batu-batu dapat jatuh dan pintu gerbang pelengkung ambruk, tanah yang bergerak dan bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan.

Tradisi kebudayaan yang berhubungan dengan masyarakat Jawa bahwa tujuan untuk mendapatkan keberuntungan dengan menyentuh batu Borobudur telah meningkatkan popularitas salah satu stupa yang berada di tingkat atas yang berbentuk lingkaran, dengan tradisi menyentuh arca Buddha didalamnya telah menarik banyak pengunjung yang sebagian besar adalah untuk mendapatkan keberuntungan. Papan pengumuman tentang apa yang dilakukan selama berkunjung dan berada di bangunan.

Borobudur telah memberikan tulisan yang terdapat di beberapa teras banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, hal-hal yang berhubungan dengan vandalisme seperti pengrusakan dan pencorat-coretan relif dan arca masih banyak terjadi, hal ini jelas akan merusak bangunan situs bersejarah ini.

Pada 27 Mei 2006, telah terjadi gempa yang berkekuatan 6,2 skala rikhter mengguncang pesisir pantai selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini telah menghancurkan beberapa wilayah sebelah selatan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, bencana tersebut tidak banyak berpengaruh pada candi Borobudur.

Pada 28 Agustus 2006, simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, hadir pada acara tersebut perwakilan dari UNESCO dan negara - negara yang mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Candi Borobudur terkena dampak parah akibat letusan Gunung Merapi pada tahun 2010, abu vulkanik menutupi bangunan dan mencapai ketebalan sekitar 25 sentimeter (10 in) menutupi bangunan candi pada saat letusan tanggal 3–5 November 2010. Debu vulkanik juga merusak dan membunuh tanaman di dekatnya, dan para ahli khawatir abu vulkanik secara kimiawi bersifat asam, sehingga dapat merusak bebatuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November 2010 untuk menghilangkan lapisan debu.

Pembersihan candi dari endapan abu vulkanik akan memakan waktu kurang lebih 6 bulan, kemudian melakukan penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem air dan drainase yang tersumbat oleh campuran abu vulkanik bercampur air hujan. Pemugaran berakhir pada November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Pada Januari 2012, dua ahli konservasi batu Jerman menghabiskan sepuluh hari di lokasi untuk menganalisis candi dan membuat rekomendasi untuk memastikan pelestarian jangka panjangnya. Pada bulan Juni, Jerman setuju untuk memberikan kontribusi $130.000 kepada UNESCO untuk rehabilitasi tahap kedua, di mana enam ahli konservasi batu, mikrobiologi, teknik struktur dan teknik kimia akan menghabiskan waktu seminggu di candi Borobudur pada bulan Juni kemudian kembali untuk kunjungan lagi pada bulan September atau Oktober. Misi ini akan meluncurkan kegiatan pelestarian yang direkomendasikan dalam laporan bulan Januari dan akan mencakup kegiatan peningkatan kapasitas untuk meningkatkan kemampuan pelestarian staf pemerintah dan ahli konservasi muda.

Pada tanggal 14 Februari 2014, tempat-tempat wisata utama di Yogyakarta dan Jawa Tengah, termasuk candi Borobudur, candi Prambanan dan candi Ratu Boko, ditutup untuk pengunjung, setelah terkena dampak parah dari abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, yang terletak di sekitar 200 kilometer timur dari Yogyakarta. Para pekerja menutupi stupa ikonik dan patung Borobudur untuk melindungi struktur dari abu vulkanik.

Pada Agustus 2014, Balai Konservasi Chandi Borobudur melaporkan adanya abrasi parah pada tangga batu yang disebabkan oleh gesekan alas kaki pengunjung. Otoritas konservasi berencana memasang tangga kayu untuk menutupi dan melindungi tangga batu asli, seperti yang dipasang di Angkor Wat.

Rehabilitasi Borobudur
Pembersihan, pembongkaran dan pemasangan drenase saluran pipa air. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO.

Borobudur di Masa Pemugaran

Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata sebagai bagian benda kuno. Kepala arca Budha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena itu kini di Borobudur banyak ditemukan arca Budha tanpa kepala. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.

Borobudur kembali menarik perhatian pada tahun 1885, saat penggalian oleh Yzerman, yang menemukan kaki tersembunyi. Hasil penggalian berupa foto-foto yang memperlihatkan seluruh relief pada dinding kaki candi yang dibuat pada periode 1890-1891. Hasil penemuan tersebut mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah selanjutnya dalam melestarikan Borobudur.

Dilihat dari komposisinya, batu-batu Borobudur merupakan material yang terletak di lingkungan terbuka yang sangat rentan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Pembersihan batu-batu bangunan dari lapisan tanah, semak-semak dan pepohonan mengakibatkan struktur dan susunan batu-batu tersebut tersingkap dan hal ini berinteraksi langsung dengan perubahan kondisi lingkungan.

Selain perubahan suhu, lingkungan, dan kelembapan, ancaman lainnya adalah interaksi dan pengaruh air. Air yang masuk dan menempel pada pori-pori batuan andesit akan menyebabkan kelembaban meningkat dan dapat mempercepat laju pelapukan. Selain material batuan, air yang masuk dan terperangkap di dalam tanah juga menyebabkan tanah menjadi jenuh dan mengakibatkan daya dukungnya menurun. Hal ini akan memicu terjadinya longsor dan kestabilan daya dukung tanah, mengingat letak struktur batu Borobudur yang berada di atas bukit.

Selain berbagai faktor alam yang menyebabkan kerusakan pada struktur batunya, Borobudur juga mengalami kerusakan akibat pembongkaran bangunan batu untuk mendapatkan barang antik yang mengakibatkan kondisi struktur batu tersebut hilang. Sebagaimana diketahui, stupa induk Borobudur pernah dibuka dengan tujuan untuk mencari kemungkinan ditemukannya benda-benda berharga di dalam stupa tersebut. Ternyata itu bukanlah sebuah benda berharga atau sejenis perhiasan, melainkan sebuah patung Buddha yang belum selesai atau tidak sempurna, yang berada di dalam stupa induk.

Beberapa upaya konservasi telah dilakukan seperti pembersihan gula dan akar pohon yang tumbuh di permukaan batuan dan sela-sela formasi batuan dengan menggunakan bahan kimia. Upaya untuk menduplikasi relief dengan cara teknik abklats juga pernah dilakukan, dengan menggunakan semen, pembuatannya sesuai pada relief dinding candi, dengan semen dan bahan kimia.

Selanjutnya observasi, dokumentasi dan upaya konservasi dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1900 dengan membentuk komisi yang terdiri dari tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, seorang insinyur konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.

Pada tahun 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga tahap rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang ada harus diatasi dengan menata ulang sudut-sudut bangunan, dengan membuang dan membuang batu-batu yang membahayakan batu-batu lain di sebelahnya, serta memperkuat langkan pertama, dan memulihkan beberapa relung, lengkungan, stupa, dan restorasi bangunan stupa utama.

Kedua, memagari pekarangan candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, seluruh batu yang lepas harus disingkirkan, tugu dibersihkan hingga langkan pertama, pecahan batu disingkirkan, dan stupa induk dipugar. Total biaya yang dibutuhkan saat itu diperkirakan sekitar 48.800 Gulden.

Catatan Singkat Pemugaran Borobudur
Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.

Stupa-stupa teras Arupadhatu
Deretan tiga tingkat stupa berlubang dengan jumlah 72 stupa dan didalamnya terdapat arca Buddha Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pemugaran Van Erp
Theodor Van Erp merupakan salah satu sosok yang tidak lepas dari perjalanan panjang Candi Borobudur hingga saat ini. Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Van Erp ini merupakan pelopor pemugaran Candi Borobudur pertama pada tahun 1907 – 1911. Van Erp yang lahir di Ambon pada tanggal 26 Maret 1874 ini tidak hanya dikenal di dunia kepurbakalaan dan arkeologi, namun masyarakat luas juga mengenal sosok ini. Latar Belakang Van Erp sendiri adalah seorang militer yang bertugas dan menghabiskan sebagian besar waktunya menyelamatkan Candi Borobudur.

Pelopor pertama dalam pembukaan batu-batu Borobudur setelah untuk waktu yang lama tertutup semak dan debu vulkanik, sehingga bangunan ini terbengkalai. Borobudur mendapat perhatian serius oleh Van Erp dengan melaksanakan pemugaran. Kemudian pada tahun 1907 pemugaran dimulai oleh Van Erp dengan waktu penyelesaian kurang lebih 4 tahun.

Proses restorasi yang dilakukan oleh Van Erp dirinci dengan perkiraan biaya dan menggunakan alur yang sistematis. Pemugaran dilakukan dari tahun 1907 hingga 1911 dengan menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin oleh Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala Buddha dan panel batu yang hilang. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga platform lingkaran atas dan stupa.

Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; dia mengajukan proposal lain, yang disetujui dengan tambahan biaya sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, dengan hati-hati memasang kembali chattra (payung yang terbuat dari tiga tumpukan batu), yang merupakan mahkota di puncak Borobudur. Sekilas, Borobudur telah pulih ke masa kejayaannya. Namun, instalasi chattra tidak dapat dianggap sebagai bentuk aslinya, sehingga Van Erp membongkar kembali bagian chattra.

Chatra Pinnacle stupa induk Borobudur
Chattra (payung batu tiga tingkat) yang menjadi mahkota puncak Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Meneliti masalah teknis yang terjadi pada pemugaran Van Erp adalah deformasi air dan keberadaan tanah bukit tempat bangunan ini dibangun. Masalah air ini sangat terlihat berdampak cukup besar terhadap tingkat pelapukan batu-batu penyusun bangunan ini, terutama pada batu dinding-dinding relief. Posisi dan letak batu-batu yang berada di dinding akan berinteraksi langsung dengan lapisan tanah perbukitan yang sangat rentan terhadap rembesan air tanah bukit. Kemudian rembesan air yang keluar melalui celah-celah batu dapat mengakibatkan penggaraman.

Hal ini merupakan salah satu upaya penanggulangan dalam mengatasi masalah rembesan air dan merupakan tujuan utama dalam pemugaran Van Erp. Maka pekerjaan awal dalam pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp adalah upaya mengembalikan letak batu-batu ke tempat semula. Dalam proses pencocokan batu-batu ini Van Erp menggunakan metode Anastilosis, yaitu proses pencocokan batu dalam metode anastilosis dengan aktifitas tidak memperbolehkan interpretasi bentuk struktur batu-batu tanpa menemukan sambungan pada material batu aslinya. Perbandingan tersebut didasarkan pada struktur dan susunan batu yang ada.

Pemugaran pada zaman Van Erp dengan metode anastilosis merupakan upaya untuk mengembalikan komponen struktur dan arsitektural Borobudur dengan tetap menjaga prinsip keaslian dan keutuhan sehingga saat ini kita dapat melihat keutuhan dan kemegahan aspek struktur dan arsitekturalnya. Upaya pemasangan mortar pada bagian celah batu dimaksudkan untuk mengurangi volume air yang masuk ke dalam struktur tanah bukit candi. Kondisi kelebihan air yang masuk ke dalam struktur tanah perbukitan akan menyebabkan tanah menjadi penuh, jenuh air dan daya dukungnya menurun, sehingga rawan longsor. Upaya meminimalisasi dampak air terhadap kondisi pemeliharaan dan ancaman terhadap struktur candi juga diterapkan pada selasar dan undakan.

Beberapa hal yang dilakukan dalam pemugaran Van Erp antara lain penguatan struktur pada anak tangga dan jalan setapak, serta dinding dan lantai teras atas (dataran tinggi). Lantai teras yang miring dan cekung ditutup dengan lantai khusus baru, dan dinding teras yang cekung diratakan dengan semen mortar. Lantai lorong yang tenggelam ditutupi dengan lantai baru khusus. Pada celah batu di lantai lorong yang tidak pecah, ditutup dengan adukan semen.

Chandi Borobudur
Pemugaran I (1907-1911) pemugaran pada bagian puncak candi yaitu tiga teras melingkar dan stupa induknya. Candi Borobudur setelah pemugaran Van Erp. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun hingga saat ini, hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp bertahan hingga saat ini, terutama pada bagian lorong dan lantai dataran tinggi. Hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp merupakan bentuk tanggap darurat untuk menyelamatkan sisa-sisa masa lampau yang memiliki nilai universal yang luar biasa.

Upaya pemugaran komponen struktur dan arsitektural Candi Borobudur cukup berhasil dan bertahan hingga saat ini. Prinsip pengembalian bentuk sesuai desain asli dan minim intervensi penggunaan material baru telah diterapkan pada era Van Erp, dan ini merupakan tonggak pertama bagaimana prinsip restorasi warisan budaya di Indonesia dipelajari dan diterapkan.

Restorasi Van Erp juga menjadi titik awal pengenalan dan penerapan metode pencocokan batu yang disebut metode Anastilosis. Dimulai dari tahap persiapan, perencanaan awal yang dilakukan dengan skema yang detail, pemugaran Van Erp sudah diperhitungkan dengan matang dan detail. Prinsip mempertahankan bentuk asli merupakan hal utama yang mendasari segala penanganan dan rekonstruksi Candi Borobudur.

Restorasi Pemerintah Indonesia dan UNESCO
Renovasi dan restorasi skala kecil telah dilakukan sejak saat itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang lengkap terhadap Borobudur. Dari beberapa catatan disebutkan bahwa sebelum pemugaran Borobudur yang kedua, telah dilakukan penelitian dan penggalian arkeologi untuk lebih mengetahui aktivitas-aktifitas tentang keagamaan yang pernah dilakukan di sekitar Borobudur. Dalam penggalian di sekitar candi, menemukan sisa-sisa batu bata dan berbagai artefak penting. Menurut para ahli menjelaskan bahwa dahulu terdapat bangunan vihara yang berada dekat dengan Borobudur.

Mencermati pemugaran pertama oleh Van Erp, sebenarnya masih terdapat beberapa kekurangan seperti dinding miring dan penanganan masalah air. Pada dasarnya pemugaran ini bertujuan untuk mengatasi kerusakan pada bagian kaki candi atau bagian Kamadhatu dan pada bagian atap atau tingkat Arupadhatu. Sedangkan bagian tubuh atau tingkat Rupadhatu tidak sepenuhnya dapat dipulihkan.

Pemerintah memiliki perhatian serius terhadap Candi Borobudur pada masa pemerintahan Sukarno yang memiliki rencana untuk memperbaiki dan pemugaran Borobudur. Pada tahun 1960, dirintis gagasan untuk mengatasi masalah air dan merancang saluran air dengan membuat aliran satu arah. Pada akhir tahun 1963, beberapa persiapan seperti pembuatan gambar dan sketsa, mulai dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan pada Borobudur.

Pada akhir 1967, pemerintah Indonesia menyampaikan kepada internasional tentang beberapa permasalahan yang ada di Borobudur, untuk membantu Indonesia dalam upaya penyelamatan dan pemugaran guna melindungi monumen ini. Permintaan secara internasional untuk menggelar proyek pemugaran Borobudur yang dilaksanakan pada tahun 1973, untuk membuat rencana induk pemugaran Borobudur. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk memperbaiki total monumen ini dalam proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.

Fondasi diperkuat dan 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar kelima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menyematkan saluran air ke dalam bangunan. Filter dan lapisan kedap air ditambahkan.
 
Sistem drenase pada restorasi Borobudur

Penanaman beton dan pipa PVC, system drainase pada pemugaran tahun 1973. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.


Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Buddha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Chandi Borobudur
Situs Warisan Budaya Dunia sejak tahun 1991, salah satu pemandangan Borobudur dari barat laut. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.

Chandi Borobudur, candi megah dan kurang dikenal - gunung kebajikan - pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments

Popular Posts