Sekilas Lanskap/Bentang Alam Kawasan Borobudur
Sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Chandi Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Borobudur merupakan bagian dari salah satu situs warisan budaya dunia sejak diresmikan pada tahun 1991. Borobudur dan sekitarnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya karena bangunan ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan menyampaikan narasi dan penjelasannya sebagai apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi masyarakat Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas bagi pengunjung dalam dan luar negeri. Pembukaan kembali Borobudur untuk pariwisata telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini.
Wisata dan kunjungan dengan tujuan mempelajari budaya Borobudur dan sekitarnya merupakan langkah yang tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini dengan lebih baik. Ini akan menjadi kesempatan yang menarik untuk berwisata guna menelusuri secara detail sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang terkandung dalam relief serta teknik arsitektur Borobudur, yang mungkin akan sulit dipahami apabila hanya melihatnya sendiri.
Jelajahi narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa peninggalan budaya leluhur Chandi Borobudur pada masa Jawa Kuno. Ini adalah kesempatan yang menyenangkan untuk berwisata dan memperdalam wawasan yang luas tentang sejarah, budaya, dan arsitektur seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, keunikan, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menghargai, dan mendukung upaya pelestarian cagar budaya guna menjaga warisan budaya leluhur.
Menjelajahi Chandi Borobudur dan sekitarnya dengan menyaksikan tradisi budaya masyarakat pedesaan, dan keindahan alamnya memang merupakan topik yang sangat menarik. Bangunan bersejarah ini terletak di atas bukit yang dikelilingi Pegunungan Menoreh di selatan, Sungai Progo dan Elo di timur, serta Gunung Merapi dan Merbabu di timur laut.
Kawasan Borobudur dan sekitarnya, dengan tradisi budaya yang diwariskan dari masa lalu, masih mempertahankan tradisi leluhur mereka. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, menawarkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pedesaan.
Tradisi budaya masyarakat Borobudur sangat istimewa dan menarik, hal ini lebih berkaitan langsung dengan tradisi budaya upacara keagamaan di candi Borobudur seperti upacara Waisak dan prosesi ritual umat Budha. Nama Borobudur berkaitan langsung dengan cerita sejarah asal usul nama Borobudur dengan nama desa yang berarti keberadaan Borobudur, seperti nama desa Bumisegara, Sabrang Rawa dan juga Tuk Sanga.
Masyarakat di kawasan Borobudur mempunyai tradisi yang berhubungan dengan kehidupan dan budaya sejak dahulu. Tradisi kebudayaan dapat diartikan merupakan peninggalan leluhur nenek moyang yang masih dipelihara sampai saat ini. Ragam budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat merupakan nilai seni yang berbeda-beda. Adanya tradisi budaya tidak terlepas dari sejarah dimasa lalu. Dalam arti umum adalah kebudayaan dengan tradisi kehidupan masyarakat.
Ingatan kita tertuju pada masa lalu dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno yang menyebutkan kepercayaan tentang lingkungan alam. Setiap kejadian mempunyai arti khusus. Hal ini berarti tentang sesuatu yang dianggap mempunyai suatu kekuatan yang berasal dari budaya mada lalu. Rangkaian budaya masyarakat Borobudur lebih pada dimana bangunan ini mempunyai nilai sejarah dan makna simbolis yang berasal dari kebudayaan masa Jawa kuno seperti upacara-upacara khusus.
Borobudur Borobudur, namanya berasal dari kata 'biara - bedudur', berubah menjadi Borobudur, candi Budha Mahayana berbentuk piramida berundak, bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Lanskap Borobudur
Kawasan Borobudur dan sekitarnya, dengan tradisi dan budaya yang diwariskan dari masa lalu, masih mempertahankan tradisi leluhur mereka. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan budaya yang unik, menawarkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pedesaan.
Tradisi dan budaya masyarakat Borobudur sangat istimewa dan menarik, hal ini lebih berkaitan langsung dengan tradisi budaya upacara keagamaan di Borobudur seperti upacara Waisak dan prosesi ritual umat Budha. Nama Borobudur berkaitan langsung dengan cerita sejarah asal usul nama Borobudur dengan nama desa yang berarti keberadaan Borobudur, seperti nama desa Bumisegara, Sabrang Rawa dan juga Tuk Sanga.
Upacara-upacara khusus yang masih dilakukan sampai sekaramg di desa-desa kawasan Borobudur, telah berjalan secara turun-temurun dan dipahami sebagai tradisi kebudayaan Jawa Kuno seperti diantaranya: Upacara Tradisi Daur Hidup, Upacara Tradisi Penanggalan Jawa, Upacara terkait dengan Pekerjaan, Seni Dolanan Tradisional, Pengobatan Tradisional, Ekspresi Ritual, Sesaji dan Olahan Pangan, dan Benda dan Tempat Wingit / Sakral.
Candi Borobudur pemandangan dari bukit Dagi. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam mempelajari lokasi pembangunan Chandi Borobudur, mempelajari lansekap / bentang alam bangunan ini sangatlah bermakna dan memiliki nilai sangat penting. Kita mungkin pernah membayangkan satu bangunan besar dibangun di atas bukit, dan bertanya-tanya bagaimana seorang arsitek perancang akan menemukan ide dan merencanakan lokasi yang sesuai selama pembangunannya.
Ingatan kita tertarik pada masa lalu, dalam kehidupan masyarakat Jawa kuno yang menyebutkan kepercayaan tentang lingkungan alam. Setiap peristiwa memiliki makna khusus. Ini berarti sesuatu dianggap memiliki kekuatan yang berasal dari budaya masa lalu. Rantai budaya masyarakat Borobudur lebih jauh lagi, di mana bangunan ini memiliki nilai sejarah dan makna simbolis yang berasal dari budaya Jawa kuno, seperti upacara-upacara khusus.
Beberapa definisi lanskap menjelaskan pengertian dan ruang lingkup lanskap dalam berbagai pengertian. Lanskap berasal dari bahasa Jerman 'landschaft' yang berarti tata ruang di luar suatu bangunan atau pemandangan alam.
Dalam referensi yang ditemukan pada abad ke-13 dijelaskan dalam bahasa Belanda sebagai 'lantscap' yang berarti suatu wilayah atau lingkungan tertentu. Pemandangan dalam kamus Oxford mempunyai arti suatu bentuk gambar yang menggambarkan suatu pemandangan alam atau suatu aliran dalam lukisan, dan segala sesuatu yang tampak bila kita melihat pada suatu wilayah yang lebih luas, terutama di daerah pedesaan.
Sedangkan kata lanskap dalam kamus Cambridge berarti bentang alam dan ciri-ciri yang berkaitan dengan suatu kawasan tertentu. Lansekap awalnya digunakan untuk merujuk pada perspektif dalam lukisan Renaisans, yang menggambarkan pemandangan di atas kanvas.
Borobudur merupakan bagian dari salah satu situs warisan budaya dunia sejak diresmikan pada tahun 1991. Bangunan ini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan wisata budaya yang memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ranah spiritual yang tinggi. Menjelajahi lansekap / bentang alam Borobudur dan sekitarnya dengan menyaksikan tradisi dan budaya masyarakat pedesaan, dan keindahan alamnya memang merupakan topik yang sangat menarik. Masyarakat pedesaan di kawasan Borobudur mempunyai tradisi yang erat hubungannya dengan kehidupan dan budaya leluhur sejak dahulu. Tradisi dapat diartikan merupakan budaya peninggalan leluhur nenek moyang yang masih dipelihara sampai saat ini. Ragam budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat merupakan nilai seni yang berbeda-beda. Adanya tradisi dan budaya tidak terlepas dari sejarah dimasa lalu. Dalam arti umum adalah kebudayaan dengan tradisi kehidupan masyarakat.
Lanskap / bentang alam Borobudur pada dasarnya berkembang dan menyesuaikan diri dengan bentuk, tema, lokasi dan kondisi wilayah, yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari beberapa komponen. Komponen-komponen eksisting yang digunakan dalam pembangunan Borobudur pada dasarnya memusatkan perhatian pada komponen-komponen utama bentang alam fisik Borobudur yang berkaitan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat dengan tradisi yang ada, dan secara umum mempunyai makna filosofis tertentu.
Kepercayaan yang menjelaskan keberadaan 'danau purbakala Borobudur', hal ini dijelaskan melalui penelitian para ahli dengan penjelasan berupa bukti-bukti ilmiah, penelitian dan kajian yang menjelaskan bahwa danau purbakala mempunyai nilai penting. Lanskap budaya disebutkan secara umum dan membahas tentang penjelasan mengenai makna lanskap budaya dan lanskap budaya dalam konteks warisan dunia.
Bentang alam dan budaya kawasan Borobudur meliputi sungai, sawah, danau purba, rumah, dan lingkungan pedesaan banyak diceritakan dalam relief yang indah. Beberapa ciri khas kawasan pedesaan pada periode Jawa Kuno, termasuk desa - desa di kawasan Borobudur, meliputi sawah, sawah pasang surut / tadah hujan, tegalan, kebun / hutan (alas), pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah adat, serta pembuatan tembikar juga dipahat dengan teliti. Relief dan prasasti digunakan untuk menafsirkan atribut - atribut budaya ini.
Lingkungan Sekitar Borobudur
Menurut cerita, dahulu kala konon pulau Jawa mengapung di samudra, dan harus dipaku ke pusat bumi sebelum dapat dihuni. Paku besar itu adalah sebuah bukit bernama Tidar, yang terletak di pinggiran selatan kota Magelang sekarang. Sekitar lima belas kilometer di selatan bukit Tidar terdapat Chandi Borobudur. Daerah sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal sebagai daerah 'Dataran Kedu', membentuk pusat geografis pulau ini. Kesuburan tanah yang luar biasa, dan penduduk yang sangat ramah dan rajin, menjelaskan mengapa daerah ini sering disebut Taman Jawa.
Memperindah pemandangan sekitar Borobudur, terletak dua gunung adalah Merapi dan Merbabu berada di timur laut, dan Sumbing dan Sindoro berada di barat laut. Di sisi barat dan selatan, dataran tersebut tertutup oleh bukit yang panjang, yaitu Pegunungan Menoreh. Sudut tenggara Dataran Kedu dilintasi oleh dua sungai utama, yaitu Progo dan Elo. Kedua sungai tersebut terletak di sebelah timur bangunan dan mengalir hampir sejajar dari utara ke selatan.
Pada zaman dahulu, daerah di sekitar pertemuan sungai Progo dan Elo merupakan tempat suci yang sangat penting. Sejumlah besar bangunan suci di dataran Kedu dibangun di sini. Candi Hindu dan Budha, dapat dikatakan, berada dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan kedua sungai tersebut. Dari barat ke timur, monumen Budha utama di daerah tersebut adalah: Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawe yang terdiri dari lima bangunan.
Sebagai Situs Warisan Dunia, Chandi Borobudur memiliki atribut yang mendukung statusnya sebagai bangunan suci agama Budha. Atribut ini mencakup penjelasan tentang hubungannya dengan candi - candi di sekitarnya. Di sebelah timur terdapat Chandi Pawon dan Chandi Mendut, keduanya merupakan bangunan suci dengan latar belakang Budha yang sama. Ketiga candi (Borobudur, Pawon, dan Mendut) terhubung sebagai tiga kuil dalam prosesi ibadah Budha. Ketiga candi tersebut melambangkan persatuan dalam prosesi ritual dan berfungsi sebagai koridor imajiner yang menghubungkan ketiga candi tersebut, yang membentang dalam garis lurus.
Tiga kompleks candi tersebut pernah diasumsikan pernah membentuk satu kesatuan; meskipun terletak cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan ketiganya. Namun, tata letak seperti itu tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
Menurut tradisi lisan, ketiga kompleks candi tersebut dulunya terhubung oleh jalan prosesi beraspal, diapit oleh pagar pembatas yang dihias dengan mewah. Beberapa batu berukir yang ditemukan di ladang di sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade lalu diduga merupakan sisa-sisa jalan beraspal tersebut. Komposisi tiga kompleks candi yang luar biasa ini telah menimbulkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon, dan Chandi Mendut.
Ketiga candi dalam rangkaian tersebut (Borobudur, Pawon dan Mendut) umumnya mempunyai keterkaitan dan hubungan sebagai tempat suci pada poros imajiner. Borobudur merupakan candi induk, sedangkan Pawon dan Mendut sama-sama mempunyai kesamaan arah hadap bangunan dengan perbandingan sudut dan unsur arsitektur dengan Borobudur. Beberapa kesamaan lainnya adalah adanya patung singa penjaga pintu gerbang, hiasan jahitan berbentuk bergerigi, terdapat ukiran relief Jataka, dan patung Budha, serta relief Bodhisattva.
Unsur arsitektural dan artistik Borobudur yang indah merupakan nilai seni estetis sebagai mahakarya budaya yang luar biasa sebagai bangunan suci agama Budha. Kemampuan memadukan unsur budaya lama dan unsur budaya baru serta sifat multikultural atau inklusif terdapat pada Borobudur.
Jalan penghubung (Borobudur, Pawon, Mendut) Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus menunjukan kesatuan perlambang sebagai proses ritual keagamaan dan ziarah. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, tidak ada tempat untuk beribadah. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Budha dapat mencari Kebijaksanaan Agung. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang mengarah secara berurutan ke teras atas, jelas dimaksudkan untuk ritual berjalan mengelilingi bangunan. Dipandu dan diinstruksikan oleh relief naratif, para peziarah berjalan dari teras ke teras dalam perenungan yang hening. Chandi Mendut, di sisi lain, dipandang sebagai tempat ibadah. Chandi Pawon yang mungil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Anggapan bahwa para peziarah harus melewati Chandi Pawon ketika berjalan dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur melalui jalan prosesi beraspal mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam stasiun dalam perjalanan panjang; setelah disucikan melalui upacara wajib di Chandi Mendut, Chandi Pawon memungkinkan mereka untuk berhenti dan merenung sebelum melanjutkan ziarah mereka ke Candi Borobudur di mana beberapa rangkaian perjalanan menanti.
Bentang alam dalam geografi secara umum diartikan sebagai bagian permukaan bumi yang terdiri dari berbagai bentukan geografis, misalnya bentang alam yang menjadi ciri khas suatu daerah.
Lanskap Budaya Borobudur
Bentang alam Borobudur terbentuk dalam kurun waktu yang sangat lama, dan hal ini sering disebut dengan 'masa geologi'. Aktivitas alam seperti aktivitas tektonik dan vulkanik, aktivitas transportasi, serta pengendapan / sedimentasi secara bersama-sama membentuk keunikan lanskap fisik Borobudur. Bentang alam utama di Borobudur meliputi dataran danau, pegunungan, gunung berapi, perbukitan terpencil, dan sungai.
Kondisi geografis dalam kawasan Borobudur yang berupa dataran di antara beberapa gunung-gunung dan dilewati oleh sungai-sungai besar telah membentuk suatu lingkungan yang kaya akan air dan mempunyai lahan yang subur, bahkan karena keindahan alamnya disebut sebagai “Taman Jawa atau garden of Java”. Keadaan ini sangat berpengaruh pada budaya masyarakat yang hidup di dalamnya, dan telah membentuk Borobudur menjadi suatu kawasan pertanian dengan karakter pedesaan (rural landscape). Kehidupan agraris di Borobudur, lahan pertanian telah berlangsung sejak masa Mataram Kuno, sekitar abad VIII – X. Hal ini tergambar pada beberapa relief candi Borobudur dan terinskripsi serta tertulis pada beberapa prasasti.
Kondisi geografis kawasan Borobudur yang merupakan dataran di antara beberapa gunung dan dilintasi sungai-sungai besar membentuk lingkungan yang kaya akan air dan mempunyai tanah yang subur, dan terkenal dengan masyarakat yang rajin.
Penyebutan istilah-istilah tanah / lahan untuk pertanian pada prasasti yang mempunyai nama-nama tertentu seperti sawah, gaga / ladang, kebun, dan rawa, menunjukkan bahwa pertanian merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat pada masa itu. Penggunaan istilah-istilah dalam pengolahan sawah yang banyak dijelaskan dalam beberapa prasasti juga masih dijadikan sebagai nama kegiatan hingga saat ini. Kegiatan lain yang berkaitan dengan kehidupan agraris masih tercatat dalam prasasti yang menyebutkan hewan ternak untuk keperluan khusus seperti upacara penetapan sima (daerah atau tempat bebas pajak), misalnya hayam (ayam), hantiga (telur). Ada pula catatan mengenai alat penangkapan ikan seperti jaring, icir, dan wuwu yang masih banyak digunakan oleh para penangkap ikan di sungai.
Menjelajahi Chandi Borobudur dan sekitarnya dengan menyaksikan tradisi budaya masyarakat pedesaan, dan keindahan alamnya memang merupakan topik yang sangat menarik. Bangunan bersejarah ini terletak di atas bukit yang dikelilingi Pegunungan Menoreh di selatan, Sungai Progo dan Elo di timur, serta Gunung Merapi dan Merbabu di timur laut.
Kawasan Borobudur dan sekitarnya, dengan tradisi budaya yang diwariskan dari masa lalu, masih mempertahankan tradisi leluhur mereka. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, menawarkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pedesaan.
Budaya masyarakat Borobudur sangat istimewa dan menarik, hal ini lebih berkaitan langsung dengan tradisi budaya upacara keagamaan di candi Borobudur seperti upacara Waisak dan prosesi ritual umat Budha. Nama Borobudur berkaitan langsung dengan cerita sejarah asal usul nama Borobudur dengan nama desa yang berarti keberadaan Borobudur, seperti nama desa Bumisegara, Sabrang Rawa dan Tuk Sanga. Masyarakat di kawasan Borobudur mempunyai tradisi yang berhubungan dengan kehidupan dan budaya sejak dahulu. Tradisi budaya dapat diartikan merupakan peninggalan leluhur nenek moyang yang masih dipelihara sampai saat ini. Ragam budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat merupakan nilai seni yang berbeda-beda. Adanya tradisi budaya tidak terlepas dari sejarah dimasa lalu. Dalam arti umum adalah kebudayaan dengan tradisi kehidupan masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno yang menyebutkan kepercayaan tentang lingkungan alam. Setiap kejadian mempunyai arti khusus. Hal ini berarti tentang sesuatu yang dianggap mempunyai suatu kekuatan yang berasal dari budaya masa lalu. Rangkaian budaya masyarakat Borobudur lebih pada dimana bangunan ini mempunyai nilai sejarah dan makna simbolis yang berasal dari kebudayaan masa Jawa kuno seperti tradisi upacara sakral.
Konsep Lanskap Borobudur
Chandi Borobudur Sekilas
Meskipun tidak ada catatan pasti tentang siapa yang membangun Chandi Borobudur dan kapan, para sejarawan memperkirakan bahwa bangunan megah ini didirikan pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, yang menganut Buddhisme Mahayana. Pembangunan bangunan suci ini dimulai sekitar tahun 824 M. Putrinya, Pramodhawardhani, melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan candi tersebut. Pembangunan memakan waktu yang cukup lama, diperkirakan sekitar 75-100 tahun.
Lokasi pembangunan Borobudur dipilih dengan sangat cermat dan teliti. Struktur ini dibangun di atas bukit alami di Dataran Kedu, dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Pegunungan Menoreh di sebelah selatan, dan Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah barat. Kawasan ini memiliki makna filosofis yang mendalam, melambangkan posisi Borobudur sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Budha.
Borobudur mewakili puncak pencapaian arsitektur dan teknik yang luar biasa di masa lalu. Struktur ini membutuhkan penggunaan lebih dari 2 juta blok andesit yang diangkut dari sungai dan pegunungan di sekitarnya. Blok-blok batu ini dipasang dan dirakit tanpa menggunakan semen atau perekat, tetapi dengan sistem pasak dan kunci yang presisi.
Chandi Borobudur memiliki arsitektur yang unik dan megah, mencerminkan kecanggihan teknik konstruksi pada saat itu. Secara dimensi, bangunan ini memiliki denah lantai yang berbentuk menyerupai mandala, diagram suci dalam Buddhisme. Alasnya berukuran 123 x 123 meter dan tinggi total 35 meter. Struktur bangunan terdiri dari 10 tingkat, yang melambangkan tahapan kehidupan manusia dalam perjalanan menuju pencerahan dalam ajaran Budha.
Borobudur terbagi menjadi tiga bagian utama, yang melambangkan tiga alam dalam kosmologi Buddha. Tiga tingkatan alam spiritual tersebut adalah: Kamadhatu (alam keinginan), bagian dasar candi, melamba]ngkan dunia manusia yang masih terikat oleh keinginan dan nafsu duniawi. Rupadhatu (alam bentuk), bagian tengah candi, terdiri dari lima teras persegi. Ini melambangkan dunia di mana manusia telah terbebas dari keinginan tetapi masih terikat oleh bentuk dan penampilan. Arupadhatu (alam tanpa bentuk), bagian atas candi, terdiri dari tiga teras melingkar dan stupa utama di puncaknya. Ini melambangkan dunia tanpa bentuk dan keinginan, tempat para Buddha dan Bodhisattva bersemaya8!!m.
Keunikan arsitektur Borobudur terlihat jelas dalam desainnya yang sangat artistik. 2.672 panel relief berukir indah menghiasi dinding dan pagar. Relief-relief ini menggambarkan kisah-kisah Budha, ajaran moral, dan kehidupan masyarakat Jawa kuno. Bangunan ini memiliki 72 stupa berlubang yang tersebar di tiga teras melingkar di puncaknya. Setiap stupa berisi patung Budha. Sebanyak 504 patung Budha menghiasi seluruh kompleks. Setiap patung memiliki posisi tangan (mudra) yang berbeda, melambangkan ajaran Budha yang berbeda. Secara teknis, bangunan ini dilengkapi dengan sistem drainase yang sangat canggih untuk masa itu, terdiri dari 100 air mancur berbentuk makara (makhluk mitologis) yang tersebar di sepanjang sisi bangunan.
Arsitektur keseluruhan Chandi Borobudur tidak hanya berfungsi sebagai bangunan tetapi juga sebagai "buku tiga dimensi" yang mengajarkan filsafat Budha kepada para peziarah. Setiap elemen arsitektur memiliki makna simbolis yang sangat dalam, menjadikan Borobudur sebagai mahakarya arsitektur keagamaan yang tak tertandingi.
Chandi Borobudur merupakan pusat ziarah dan pembelajaran Budha yang sangat penting. Namun, seiring waktu, bangunan ini secara bertahap ditinggalkan. Beberapa teori menyebutkan hal ini disebabkan oleh pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, letusan Gunung Merapi yang dahsyat, atau konversi masyarakat ke agama Islam. Bangunan itu terlupakan selama berabad-abad, tertutup abu vulkanik dan vegetasi hutan tropis. Baru pada tahun 1814, ketika Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles mengetahui keberadaan monumen besar ini. Ia kemudian mengirim tim untuk membersihkan dan memeriksa Candi Borobudur, menandai awal era penemuan kembali dan upaya pelestarian.
Makna Filosofis Borobudur
Makna filosofis dan simbolisme Borobudur bukan sekadar struktur yang megah, melainkan representasi visual dari ajaran Buddhisme yang kompleks. Setiap elemen arsitektur dan ornamen bangunan ini mengandung makna dan simbolisme filosofis yang mendalam, mencerminkan pandangan kosmologis Buddha tentang alam semesta dan perjalanan spiritual manusia.
Chandi Borobudur memiliki beberapa aspek makna dan simbolisme filosofis yang tertanam dalam bangunan ini, sebagai berikut: struktur bertingkat sepuluh Borobudur melambangkan Dasabodhisattvabhumi, sepuluh tahapan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai Kebuddhaan. Tiga bagian utama dari alam spiritual (Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu) mewakili tiga alam eksistensi dalam kosmologi Buddha. Sebagai tempat suci, denah bangunan menyerupai mandala, diagram suci yang melambangkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Perjalanan peziarah mengelilingi kuil dari bawah ke atas melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Relief di setiap dinding bangunan ini dipenuhi dengan kisah-kisah yang menceritakan kehidupan dan ajaran - ajaran Gautama Budha. Relief Karmawibhangga di dasar kuil, yang sekarang ditutup, menggambarkan hukum sebab dan akibat (karma). Relief Lalitavistara menggambarkan kehidupan Budha dari lahir hingga pencerahan. Relief Jataka dan Avadana menceritakan kisah kehidupan masa lalu Budha.
Terdapat 504 patung Budha yang tersebar di seluruh bagian luar bangunan, masing-masing dengan mudra (posisi tangan) yang berbeda. Lima mudra tersebut mewakili lima arah mata angin dan lima makna kebijaksanaan Budha. Tersusun secara konsentris di tiga teras melingkar, 72 stupa di teras atas mewakili Nirvana, keadaan kesadaran tertinggi dalam Buddhisme. Stupa utama di puncak, yang berfungsi sebagai mahkota, melambangkan kebijaksanaan tertinggi dan tak terbatas. Bangunan ini memiliki makna numerik; beberapa relief dan patung Budha memiliki makna - makna numerologi dalam tradisi Budha. Sebagai contoh, 72 stupa berlubang tersebut melambangkan 72 jenis kebijaksanaan dalam Buddhisme.
Desain keseluruhan Chandi Borobudur dimaksudkan untuk membimbing para peziarah dalam perjalanan spiritual mereka. Dimulai dari dasar candi, yang melambangkan dunia keinginan, para peziarah secara bertahap naik melalui tingkatan yang melambangkan pembebasan dari keterikatan duniawi, hingga akhirnya mencapai puncak, yang melambangkan kekosongan dan pencerahan sempurna.
Dengan memahami makna filosofis dan simbolisme Chandi Borobudur, kita dapat lebih menghargai kedalaman pemikiran dan spiritualitas yang mendasari pembangunan monumen megah ini. Borobudur bukan hanya struktur fisik, tetapi juga 'kitab suci batu' yang mengajarkan kebijaksanaan Budha melalui bahasa visual yang kaya dan kompleks.
Bentang alam Borobudur Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudour arisguide. Foto arisguide. |
Konsep Lanskap Borobudur
Borobudur adalah warisan budaya yang menarik perhatian karena signifikansi historis, arkeologis, dan spiritualnya yang tinggi. Di masa lalu, kehidupan masyarakat Jawa kuno menyebutkan kepercayaan tentang lingkungan alam. Setiap peristiwa memiliki makna khusus. Ini berarti bahwa sesuatu dianggap memiliki kekuatan yang berasal dari budaya masa lalu. Rantai budaya yang mengelilingi Borobudur meluas lebih jauh lagi, di mana bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan makna simbolis yang berasal dari budaya Jawa kuno, seperti upacara khusus/sakral.
Definisi lanskap menjelaskan makna dan cakupan lanskap dalam berbagai pengertian. Lanskap berasal dari kata Jerman "landschaft," yang berarti pengaturan spasial di luar bangunan atau pemandangan alam. Dalam bahasa Belanda, itu adalah "lantscap," yang berarti area atau lingkungan tertentu. Lanskap dapat didefinisikan sebagai bentuk bergambar yang menggambarkan pemandangan alam atau genre dalam lukisan, dan segala sesuatu yang tampak ketika dilihat dari area yang lebih luas, terutama di daerah pedesaan. Kata "lanskap" dalam Kamus Cambridge berarti lanskap alam dan karakteristik yang terkait dengan area tertentu.
Interpretasi makna budaya lanskap Borobudur akan dimulai dengan pembahasan kosmologi dalam kepercayaan Buddha. Sederhananya, kosmos dipahami sebagai dunia/alam semesta dan tatanannya. Kosmologi Hindu-Buddha meyakini adanya paralelisme antara makrokosmos dan mikrokosmos, yaitu antara alam semesta dan kehidupan manusia. Konsep Buddha tentang alam semesta ini harus diwujudkan dalam skala yang lebih kecil dalam kehidupan manusia (mikrokosmos) untuk mencapai harmoni. Dalam konteks Candi Borobudur sebagai bangunan suci Buddha, penerapan kosmologi ini tidak dapat dihindari, baik dalam pemilihan lokasi atau wilayah maupun pembangunan monumen. Desain dan arsitektur keseluruhan Candi Borobudur diyakini mewakili bentuk mandala. Mandala tidak hanya dilihat sebagai bentuk geometris dalam arsitektur bangunan suci, tetapi juga sebagai "jalan" bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan (pencerahan).
Makrokosmos, tatanan alam semesta dalam Buddhisme, digambarkan dalam sistem struktur yang berpusat pada gunung suci Meru, yang memiliki kekuatan kosmik. Gunung Meru dikelilingi oleh tujuh pegunungan, masing-masing dipisahkan oleh tujuh cincin samudra. Pegunungan terluar membentangkan samudra yang luas, di atasnya terdapat empat daratan di empat titik mata angin. Daratan di selatan Gunung Meru adalah Jambudvipa, tempat tinggal manusia. Dalam sistem ini, alam semesta juga dikelilingi oleh tembok batu besar, Chakravala.
Mandala tidak hanya dilihat sebagai bentuk geometri dalam arsitektur suci, tetapi juga sebagai "jalan" bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan (pencerahan). Konsep mandala di monumen Candi Borobudur diulang dalam lanskap yang lebih luas. Kosmologi Buddha tentang alam semesta juga diterapkan dalam pemilihan lokasi bangunan suci ini. Perhitungan yang cermat dalam perencanaan, desain spasial, struktur, dan arsitektur merupakan faktor penting dalam menentukan lokasi candi. Aturan untuk membangun bangunan suci Hindu-Buddha dapat ditemukan dalam beberapa buku tentang arsitektur India kuno, termasuk Manasara-Silpasastra dan agama Buddha.
Kitab Manasara-Silpasastra (Manasastra) merinci pertimbangan yang harus diperhatikan oleh arsitek keagamaan dan arsitek perencana ketika memilih lokasi untuk bangunan suci. Kitab ini juga menguraikan empat komponen arsitektur, yang dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori: lahan, bangunan utama dan pendukung, infrastruktur transportasi, dan tempat tidur. Lahan adalah komponen terpenting dalam pembangunan bangunan suci, sehingga lokasinya harus dipilih dengan cermat.
Unsur-unsur lanskap penting dalam kosmologi alam semesta, seperti gunung, daratan, dan air, harus dipertimbangkan ketika menentukan lokasi sebuah kuil. Gambaran makrokosmos dapat ditemukan di area Borobudur.
Menurut Weda dari India Hindu kuno, konsep asli Meru adalah sebagai pilar dunia, pusat kosmos. Beberapa gunung suci lainnya berdiri di sekitarnya, khususnya di empat titik mata angin, masing-masing diperintah oleh para dewa. Terkait dengan Meru adalah Danau Nirvana, yang airnya adalah air keabadian. Dari Meru mengalir Sungai Gangga, dan kehidupan penduduk Nirvana bergantung pada Meru.
Candi Borobudur terletak di Lembah Kedu, yang secara geografis terletak hampir di tengah Pulau Jawa. Daerah Borobudur dikelilingi oleh beberapa gunung, bukit, dan pegunungan. Ini termasuk Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Tidar, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Sungai-sungai besar seperti sungai Progo, Elo, dan Sileng mengalir melalui daerah ini, serta Danau Borobudur. Konfigurasi ini menggambarkan Candi Borobudur sebagai Meru, seperti yang dijelaskan oleh Tanudirjo (2013).
Kemunculan lingkungan alam di kawasan Borobudur dikatakan analog dengan sistem kosmik Buddha. Candi Borobudur melambangkan Gunung Meru (gunung kosmik), sementara pegunungan di sekitar kawasan Borobudur dapat dilihat sebagai simbol serangkaian gunung suci yang dikuasai para dewa. Danau Nirvana Anavatapta diwakili oleh Danau Borobudur Kuno, dan sungai-sungai yang mengalir melalui kawasan Borobudur (Sungai Progo, Sungai Elo, Sungai Sileng, dan lainnya) melambangkan Sungai Gangga dan samudra (badan air).
Menurut Soekmono (1976), daerah sekitar pertemuan Sungai Progo dan Elo dianggap sebagai tempat suci di masa lalu, sehingga banyak bangunan suci Hindu dan Buddha berada dalam radius kurang dari 3 km dari pertemuan kedua sungai tersebut.
Meru melambangkan mandala. Dalam tiga dimensi, Meru menembus langit, melampaui batas ruang dan waktu. Meru berfungsi sebagai semacam sarana magis untuk mencapai nirwana. Meru adalah pilar yang menghubungkan makrokosmos dengan mikrokosmos, para dewa dengan manusia, dan hamsatupa dengan keberadaan mereka, semuanya menuju kesempurnaan. Buddhisme menguraikan setiap detail Meru ke dalam tahapan perjalanan spiritual (Mabbet, 1983).
Candi Borobudur, sebagai mandala, pada dasarnya dibangun untuk mewakili kesatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos, sebagai salah satu upaya umat manusia untuk mencapai kesempurnaan.
Studi tentang pembentukan lahan, baik disengaja maupun tidak disengaja, melibatkan proses atau pengelolaan spasial, atau transformasi lahan untuk tujuan tertentu, yang terkait dengan makna religius, ekonomi, sosial, politik, budaya, atau simbolis. Studi ini juga meneliti konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang tidak disengaja, peran dan kandungan simbolis lanskap dalam berbagai konteks, peran lanskap dalam membangun mitos dan sejarah, serta perilaku dan tindakan manusia dalam membentuk lanskap.
Lanskap budaya menggambarkan hubungan yang telah lama terjalin antara masyarakat dan lingkungan alam mereka. Lanskap budaya dapat mencerminkan teknik penggunaan lahan tertentu yang memastikan dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Lanskap budaya juga dapat terkait erat dengan gagasan, kepercayaan, praktik artistik, adat istiadat, dan hubungan spiritual yang kuat antara manusia dan alam.Lanskap budaya memegang nilai penting dalam kehidupan manusia. Lanskap budaya arsitektur modern yang luar biasa dan peran pentingnya dalam pengembangan identitas menunjukkan hubungan antara manusia dan alam, menjelaskan asal usul domestikasi tanaman, yang mengarah pada pengembangan ide-ide yang memungkinkan munculnya peradaban di suatu wilayah tertentu.
Danau Kuno Borobudur
Lanskap Borobudur, dengan tradisi desa yang mengesankan dari zaman Jawa Kuno, sangat mengakar. Ada kepercayaan tentang danau kuno tersebut bahwa Borobudur melambangkan kelopak teratai dalam filsafat Buddha, yang menunjukkan bahwa bangunan itu dibangun atau mengapung di permukaan danau kuno.
Keberadaan danau atau kolam yang mengelilingi Candi Borobudur pertama kali dikemukakan oleh Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp pada tahun 1933. Candi Borobudur, yang terletak di atas bukit, menggambarkan bunga teratai yang mengapung di tengah kolam. Bunga teratai hampir selalu ditemukan dalam seni Buddha. Arsitektur Candi Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, simbol Buddhisme Mahayana.
Keberadaan lingkungan rawa/danau di masa lalu dibuktikan dengan penemuan endapan rawa pada kedalaman yang bervariasi, antara 10 dan 20 meter. Keberadaan lapisan tanah liat hitam yang mengandung bahan organik sangat mendukung kesimpulan bahwa Danau Borobudur benar-benar ada.
Toponimi dalam beberapa nama desa atau dusun yang disebutkan berkaitan dengan lingkungan perairan, seperti nama Dusun Sabrangrowo (sabrang berarti seberang, dan rowo berarti rawa), Desa Bumisegoro (dari kata bumi yang berarti daratan, segoro yang berarti laut), Dusun Gopalan (Go adalah singkatan dari nganggo yang berarti memakai, dan palan yang berarti kapal atau kano), Desa Tanjung (tanjung adalah daratan yang menjorok ke danau), dan Dusun Teluk (teluk adalah perairan yang masuk ke daratan).
Penjelasan tentang air yang diartikan sebagai kolam, telaga, dan atau danau, disebutkan dalam kitab Mānāsāra - Śilpaśāstra, yang menjelaskan bahwa pada dasarnya bangunan suci harus dibangun di dekat air (tirtha) baik itu air sungai (terutama di dekat pertemuan dua sungai), danau, laut, bahkan jika unsur ini tidak ada dan tidak dapat ditemukan, kolam buatan harus dibuat di halaman bangunan suci atau vas berisi air harus diletakkan di dekat pintu masuk bangunan suci.
Arti dan makna lansekap Borobudur akan dimulai dengan pembahasan tentang kosmologi dalam keyakinan agama Buddha.
Dalam kitab Mānāsāra-Śilpaśāstra bahwa bangunan suci sebaiknya didirikan dekat dengan air atau tirtha baik itu air sungai terutama di dekat pertemuan dua sungai, danau, laut, bahkan jika unsur ini tidak ada harus dibuatkan kolam buatan di halaman bangunan suci atau diletakkan jambangan berisi air di dekat pintu masuk bangunan suci tersebut makna lansekap Borobudur akan dimulai dengan pembahasan tentang kosmologi dalam keyakinan agama Buddha.
Lingkungan yang sesuai untuk bangunan suci adalah kolam yang mengelilingi sisi selatan, yang mewakili badan air. Dalam konteks Borobudur, ini diwakili oleh danau kuno yang hampir berbentuk lingkaran di selatan candi, dalam konsep lanskap Borobudur. Selain persyaratan fisik untuk sebuah kolam, Manasara-Silpaśāstra juga menekankan estetika sebagai prasyarat untuk lokasi bangunan suci.
Lanskap hijau yang menenangkan membangkitkan lanskap pedesaan dengan suasana yang tenang dan damai. Keberadaan danau kuno, yang hampir mengelilingi seluruh kompleks candi, memperkuat citra Candi Borobudur yang menyerupai "bunga teratai di dalam kolam."
Dalam eskatologi Budha, bunga teratai disebutkan, terkait erat dengan Borobudur, yang dibangun langsung di atas atau mengapung di danau. Bunga ini melambangkan Maitreya, Bodhisattva yang akan datang di masa depan dan menjadi Buddha bernama Tathagata Maitreya. Penggambaran Candi Borobudur sebagai bunga teratai bahkan menjadi salah satu kriteria untuk penetapan Kompleks Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia.
Kompleks Candi Borobudur merupakan kesatuan dari tiga candi: Borobudur, Pawon, dan Mendut, beserta lanskap sekitarnya. Ketiga candi tersebut, yang dibangun berderet dan dalam garis lurus dari timur ke barat, tentu saja diposisikan berdasarkan konsep keagamaan tertentu.
Di masa lalu, diyakini bahwa umat Buddha mungkin telah melakukan prosesi ritual yang dimulai dari Candi Mendut dan kemudian Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur (Soekmono, 1976).
Rangkaian prosesi ritual dapat dibayangkan sebagai perjalanan melalui lingkaran daratan dan laut yang bergantian mengelilingi Gunung Meru, yang dilambangkan dalam kosmologi Buddha.
Keberadaan Danau Borobudur memperkuat kesamaan antara lanskap Kompleks Candi Borobudur dan kosmologi Buddha. Danau kuno Borobudur mewakili salah satu unsur alam semesta dalam kosmologi Buddha, danau nirwana Anavatapta.
Menurut para ahli yang telah menjelaskan Candi Borobudur, struktur suci ini berbeda dari candi-candi lain, yang umumnya dibangun di tanah datar. Candi Borobudur terletak di atas bukit setinggi 265 meter (869 kaki) di atas permukaan laut dan 15 meter (49 kaki) di atas dasar danau kuno yang telah mengering. Keberadaan danau kuno ini telah menjadi subjek perdebatan, memicu penelitian lebih lanjut di antara banyak arkeolog sepanjang abad ke-20, yang akhirnya mengarah pada dugaan bahwa Candi Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Hal ini mendapat tanggapan serius dengan pendapat dari seorang ahli arsitektur Hindu-Budha, yaitu W.O.J. Nieuwenkamp, yang mengemukakan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah suatu danau, dan Borobudur dibangun untuk melambangkan bunga teratai yang mengapung di permukaan danau. Dalam menerjemahkan bunga teratai, disebutkan bahwa bunga tersebut berbentuk padma atau teratai merah, utpala atau teratai biru, dan kumuda atau teratai putih. Bunga teratai dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni religius Budha, yang sering dipegang oleh Bodhisattva sebagai laksana atau simbol kebesaran, dan berfungsi sebagai tempat duduk singgasana Budha atau sebagai dasar stupa.
![]() Ilustrasi Danau Borobudur
|
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.


Comments
Post a Comment