Jelajah Sekilas Makna Relief Borobudur
Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan untuk menyaksikan satu kemegahan dan keindahan Chandi Borobudur, sebagai tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Bangunan ini telah menjadi Situs Warisan Dunia sejak diresmikan pada tahun 1991. Borobudur menarik wisatawan yang ingin menjelajahi dan memperdalam pengetahuan tentang sejarah, budaya, dan seni rupa arsitektur bangunan ini.
Pembukaan kembali Borobudur menarik minat wisatawan untuk berwisata dan memperdalam wawasan yang luas tentang sejarah, budaya, dan arsitektur dengan lebih baik. Bangunan ini memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan secara nyata. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan sekitarnya sebagai tujuan utama dan kunjungan wisata super prioritas bagi pengunjung domestik dan internasional.
Pemandu wisata yang ramah akan memberikan narasi dan penjelasan sebagai cara untuk menghargai dan mengapresiasi warisan budaya leluhur yang mengagumkan. Menikmati pembelajaran sejarah, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menghargai, dan mendukung upaya pelestarian cagar budaya guna menjaga warisan budaya leluhur.
Selamat Datang di Candi Borobudur Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menjelajahi narasi sejarah, dan seni arsitektur Borobudur, yang berasal dari era Jawa Kuno, memberikan kesempatan untuk mempelajari sejarah awal struktur ini. Kemegahan dan keunikan Borobudur menjadikannya tujuan wisata utama di Indonesia, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Mempelajari budaya Borobudur memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang warisan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Perjalanan untuk menjelajahi narasi dan penjelasan Borobudur menunjukkan apresiasi dan dukungan terhadap pelestarian warisan leluhur.
Relief Chandi Borobudur
Mempelajari Borobudur merupakan langkah berharga untuk memahami lebih dalam warisan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Berwisata untuk menjelajahi narasi dan penjelasan tentang Borobudur menunjukkan apresiasi dan dukungan terhadap pelestarian warisan leluhur. Mengenal bangunan ini lebih dekat dengan mempelajari sejarahnya dan mengagumi kemegahan serta keindahan seni arsitekturnya, sebagai bentuk apresiasi atas pembelajaran dan partisipasi dalam menjaga serta melindungi situs warisan budaya yang ada di Indonesia.
Chandi Borobudur sungguh luar biasa, menyebutkan dibalik struktur megah bangunan ini terdapat ribuan panel relief yang menggambarkan kisah spiritual, etika, sejarah, bahkan penggambaran kehidupan masyarakat kuno. Relief-relief Borobudur bukan sekadar pahatan, melainkan juga teks visual yang menggambarkan ajaran Budha. Tak heran jika Chandi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Chandi Borobudur, satu mahakarya monumental bangsa Indonesia, tetap melegenda hingga kini. Reputasinya diakui baik secara nasional maupun internasional. Sebagai situs warisan budaya yang sakral, bangunan ini menyimpan banyak relief yang tak ternilai harganya, baik untuk kajian ilmiah maupun wawasan budaya.
Relief-relief ini sangat eksotis, menggambarkan kehidupan Budha Gautama. Relief-relief ini juga menggambarkan pemandangan alam yang indah, perahu cadik, bangunan tradisional, kehidupan sosial dan budaya, dan diyakini memiliki koleksi relief Budha terlengkap dan terbanyak.
Relief-relief ini dapat ditemukan di hampir semua tingkat dinding candi, kecuali di tingkat stupa teratas. Ukiran relief pada dinding Borobudur dianggap sebagai seni murni, artinya dibuat semata-mata untuk dinikmati keindahan dan keunikannya. Candi Borobudur unik karena memiliki 2.672 panel relief. Dari jumlah tersebut, 1.460 panel relief naratif dan 1.212 panel relief dekoratif. Relief naratif terdiri dari lima kelompok relief. Kelompok-kelompok relief ini saling terkait, menyampaikan ajaran moral yang menjadi pedoman hidup manusia.
Pada dasarnya, relief adalah ukiran atau ukiran tiga dimensi di atas batu. Relief biasanya ditemukan pada candi, monumen, atau prasasti. Ukiran pada relief memiliki makna yang mendalam. Relief-relief tersebut dengan indah menggambarkan kisah-kisah sejarah dari masa lalu, menyampaikan pelajaran hidup.
Relief Borobudur merupakan rangkaian panel dan hiasan naratif yang dipahat pada dinding candi, menggambarkan ajaran Budha dan kehidupan sehari-hari pada masa itu. Terdapat dua jenis relief: naratif, yang menceritakan kisah-kisah dalam agama Budha, seperti kehidupan Sang Budha (Lalitavistara, Jataka, Avadana, Gandawyuha) dan hukum sebab akibat (Karmawibhangga). Relief yang berfungsi sebagai ornamen ini tidak hanya bernilai seni tinggi tetapi juga mengandung pesan moral dan filosofis yang relevan dengan masa kini. Sementara itu, relief dekoratif merupakan ornamen dan hiasan yang memperindah candi, seperti sulur, motif geometris, dan motif lainnya.
Relief pada kaki dinding candi menceritakan kisah Karmawibhangga, yang menggambarkan kehidupan, perilaku, dan lingkungan manusia. Sementara itu, relief Jataka di tingkat atas candi menceritakan kisah kehidupan Budha sebelum menjadi dewa, kemudian menggambarkan manusia dalam berbagai profesi dan hewan. Kemudian, terdapat satu set 120 relief di platform dinding pertama, yaitu Lalitavistara, yang menceritakan kehidupan Pangeran Siddharta dari lahir hingga mencapai pencerahan.
Chandi Borobudur adalah mahakarya warisan leluhur kita. Sebagai monumen suci Budha, candi ini memiliki banyak relief yang elegan dan indah, berharga untuk studi ilmiah dan wawasan budaya. Relief-relief ini diukir di hampir setiap tingkat dinding candi, kecuali stupa teratas. Salah satu relief yang paling eksotis menceritakan kehidupan Budha Gautama. Relief lainnya juga beragam menggambarkan pemandangan alam yang indah, perahu cadik, bangunan tradisional, kehidupan sosial dan budaya, dan banyak lagi.
Relief Borobudur dibedakan oleh 2.672 panel reliefnya. Dari jumlah tersebut, 1.460 bersifat naratif dan 1.212 bersifat dekoratif. Relief pada dasarnya adalah patung tiga dimensi atau ukiran di atas batu. Relief biasanya ditemukan pada candi, monumen, atau prasasti. Ukiran dan ukiran pada relief memiliki makna yang mendalam. Relief-relief tersebut diukir dengan indah dengan narasi sejarah dari masa lalu, menyampaikan pelajaran hidup.
Salah satu relief di Candi Borobudur adalah Relief Avadana, yang menceritakan kisah Raja Rudrayana menyambut para pedagang dari Kerajaan Rajagraha. Relief Avadana unik karena terdiri dari 120 panel di lantai tiga dan 100 panel di lantai empat. Relief Avadana berisi kisah-kisah moral yang dapat dijadikan pelajaran hidup, seperti kisah Maitrakanyaka dan Rudrayana.
Kisah Raja Rudrayana
Relief Avadana mengandung banyak kisah menarik. Salah satunya berjudul "Raja Rudrayana". Menariknya, kisah ini ditulis semasa hidup Sang Buddha. Kisah ini menceritakan kisah Raja Bimbisara yang memerintah Kerajaan Rajagraha, sangat dihormati rakyatnya. Sementara itu, di negeri yang jauh, Raja Rudrayana memerintah Kerajaan Roruka. Kebijaksanaan raja dalam memerintah kerajaan begitu dihormati rakyatnya sehingga tersohor di seluruh negeri.
Ketenaran Kerajaan Roruka menarik banyak pedagang asing, termasuk dari Rajagraha, untuk berkunjung ke kerajaan tersebut. Kedua negara saling bertukar hadiah, sebuah praktik adat untuk mempererat persaudaraan. Pertukaran hadiah terakhir melibatkan Raja Bimbisara yang memberikan lukisan Buddha dengan beberapa ajaran yang tergambar di dalamnya.
Raja Rudrayana sangat terkesan dengan ajaran Sang Budha, bahkan melalui lukisan tersebut. Ia akhirnya memohon kepada Sang Budha untuk mengajarkan pelajaran moral kepada para abdi - abdinya. Sang Budha mengabulkan permintaannya dan kemudian mengutus Bhikhu Mahakatyayana untuk mengajar para abdi - abdinya. Sementara itu, khusus untuk kerabat kerajaan sang putri, Budha mengutus biarawati Saila. Selama pembelajaran moral ini, Raja Rudrayana mempelajari makna hidup yang sebenarnya dan ingin menjadi pengikut Budha serta mencapai kesempurnaan sebagai seorang biksu. Dengan tekad bulat, ia dengan rela menyerahkan kekuasaannya kepada putranya, Sikhandi. Selain itu baginda menunjuk dua orang kepercayaannya juga yaitu, Hiru dan Bhiru, menjadi penasihat kerajaan.
Mendengar situasi kacau di kerajaannya yang terbengkalai, Rudrayana, yang telah ditahbiskan sebagai biksu, memutuskan untuk kembali ke Roruka. Sebelum mencapai Roruka, Biksu Rudrayana terbunuh dalam perjalanan oleh tentara yang dikirim oleh Raja Sikkandi, yang tidak ingin ayahnya kembali ke kerajaan.
Perbuatan jahat Raja Sikkandi meresahkan para dewa. Tak lama kemudian, kerajaan itu hancur, ditelan bumi, tak menyisakan apa pun. Sementara itu, keluarga kerajaan yang tetap setia kepada mendiang Raja Rudrayana diselamatkan. Mereka melarikan diri melalui laut dengan kapal. Termasuk Haru dan Bhiru, yang telah dipercaya oleh Raja Rudrayana, serta Biksu Mahakatyayana. Dengan berpihak pada kebajikan, mereka dapat melarikan diri dan menemukan kebahagiaan seumur hidup.
Moral dari kisah ini, yang dapat diibaratkan seperti cermin, adalah bahwa tindakan kejam akan menuai hasilnya. Mereka yang senantiasa berbuat baik akan mencapai keselamatan abadi. Di samping itu, kesediaan Raja Rudrayana untuk meninggalkan kehidupan duniawi setelah memperoleh pencerahan dari Sang Budha, menunjukkan bahwa manusia harus menyadari jati dirinya dalam menjalankan darma di dunia ini.
Kisah yang diuraikan di atas merupakan sebagian kecil dari narasi yang terkandung dalam relief Borobudur. Penting untuk memahami maknanya secara detail melalui seni membaca relief, dengan harapan bangunan bersejarah ini tidak akan pernah habis maknanya dan kedalamannya akan dipahami sepenuhnya.
Makna Relief Borobudur
Chandi Borobudur adalah mahakarya warisan leluhur kita. Sebagai monumen suci Buddha, candi ini memiliki banyak relief yang elegan dan indah, berharga untuk studi ilmiah dan wawasan budaya. Relief-relief ini diukir di hampir setiap tingkat dinding candi, kecuali stupa teratas. Salah satu relief merupakan perjalanan spiritual yang menggambarkan kehidupan Budha Gautama. Relief lainnya juga menggambarkan pemandangan alam yang indah, perahu cadik, bangunan tradisional, kehidupan sosial dan budaya, dan banyak lagi.
Relief pada dasarnya adalah gambar tiga dimensi atau ukiran di atas batu. Relief biasanya ditemukan pada candi, monumen, atau prasasti. Ukiran dan ukiran pada relief memiliki makna yang mendalam. Relief-relief tersebut diukir dengan indah dengan narasi sejarah dari masa lalu, menyampaikan pelajaran hidup.
Borobudur memiliki banyak relief yang berkaitan dengan deskripsi dalam prasasti dan naskah sastra dari periode Jawa Kuno. Relief-relief ini dapat dijelaskan melalui beberapa cara seperti rekonstruksi proses budaya, sejarah, dan cara hidup. Dalam menggambarkan lanskap pedesaan di Borobudur, kriteria digunakan dengan atribut yang mencakup area seperti pegunungan dan perbukitan, lahan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta produksi tembikar.
Chandi Borobudur memiliki banyak daya tarik yang memikat wisatawan, salah satunya adalah relief yang mengelilingi bangunan ini. Struktur Borobudur vertikal dan terbagi menjadi tiga ranah spiritual, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Menurut informasi dari Balai Konservasi Borobudur, candi Budha ini memiliki relief yang dibedakan oleh 2.672 panel. Dari jumlah tersebut, 1.460 bersifat naratif dan 1.212 bersifat dekoratif. Relief-relief ini terletak di tingkat Kamadhatu dan Rapadhatu. Di sisi lain, tingkat Arupadhatu tidak memiliki relief atau dekorasi lain, yang mencerminkan kemurniannya yang tertinggi.
Relief-relief Borobudur menyampaikan makna dan kisah yang menarik sehingga dengan memahami makna relief-relief tersebut, wisatawan dapat menikmati kisah tersebut selama kunjungan mereka. Tingkat Kamadhatu terdiri dari 160 panel yang menjelaskan Sutra Karmawibhangga, hukum sebab akibat. Relief ini menggambarkan hakikat dan keinginan manusia duniawi. Selanjutnya, tingkat Rupadhatu menggambarkan dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang telah mulai meninggalkan keinginan duniawi. Tingkat ini berisi 1.300 panel relief yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha. Berikut penjelasan singkat makna masing-masing relief.
Relief Mahakarmawibhangga;
Relief ini meliputi ajaran tentang alam semesta dan fenomena kehidupan setelah mati. Relief ini menggambarkan hukum sebab-akibat atau karma. Panel-panel ini menunjukkan berbagai perbuatan baik dan buruk serta konsekuensi yang dihasilkannya. Ini termasuk berbagai penggambaran surga dan neraka serta siklus kelahiran kembali (samsara). Relief ini berada di bagian tersembunyi dari candi, mencerminkan pandangan kosmologis dan ajaran moral Budha. Relief ini berada di bagian dasar candi yang tersembunyi dan mengajarkan pentingnya berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Relief Lalitavistara;
Relief ini menggambarkan kisah hidup Siddhartha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha. Lalitavistara terdiri dari 120 panel yang menceritakan mulai dari kelahirannya di Taman Lumbini. Kemudian masa kecilnya sebagai pangeran di Kapilavastu, hingga saat dia mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi.
Salah satu panel terkenal menggambarkan kelahiran Siddhartha dari rahim Ratu Maya, di mana ia langsung berjalan tujuh langkah dan mengeluarkan teratai di setiap langkahnya.
Relief Jataka dan Avadana;
Relief yang menceritakan tentang kisah - kisah kelahiran kembali Budha dalam berbagai bentuk hewan dan manusia sebelum mencapai pencerahan.
Jataka adalah cerita kehidupan lampau Budha yang menggambarkan berbagai kebajikan seperti kemurahan hati, kesabaran, dan pengorbanan diri.
Sementara itu, Avadana adalah cerita serupa tetapi lebih menekankan pada perbuatan kebajikan dari orang-orang biasa. Panel-panel ini mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang mendalam.
Relief Gandavyuha;
Relief ini menceritakan perjalanan Sudhana dalam mencari kebijaksanaan tertinggi. Dalam perjalanannya, Sudhana bertemu dengan 53 guru berbeda yang memberikan berbagai ajaran spiritual. Relief ini mengajarkan pentingnya ketekunan dalam mencari pengetahuan dan kebijaksanaan serta menggambarkan konsep kesatuan semua makhluk. Gandavyuha merupakan bagian dari teks Mahayana yang sangat dihormati dalam tradisi Budha.
Relief Bhadracari
Relief Bhadracari menceritakan perjalanan spiritual seorang Bodhisattva yang melakukan berbagai tindakan kebajikan sebagai bagian dari latihan menuju pencerahan.
Bhadracari menggambarkan ajaran moral dan etika, serta menunjukkan bagaimana seseorang dapat menjalani kehidupan yang penuh kebajikan.
Relief ini menekankan pentingnya welas asih, kemurahan hati, dan pengorbanan diri untuk kesejahteraan semua makhluk.
Relief Sailendra
Selain cerita-cerita Budha, beberapa relief di Borobudur juga menggambarkan kehidupan sehari-hari pada masa dinasti Sailendra yang membangun candi ini. Relief ini memberikan wawasan tentang kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Jawa kuno, termasuk kegiatan perdagangan, pertanian, dan upacara keagamaan.
Relief-relief di Chandi Borobudur bukan hanya karya seni yang indah tetapi juga media pendidikan yang mengajarkan ajaran Budha dan nilai-nilai moral kepada generasi-generasi yang berkunjung ke candi ini. Dengan memahami setiap panel relief, pengunjung dapat mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang kehidupan Budha, ajaran-ajaran agama Budha, dan kehidupan masyarakat Jawa kuno pada masa itu.
Desain rumah pedesaan Model bangunan desain rumah Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Relief Jawa Kuno
Menjelajahi tradisi budaya yang terpahat pada relief cerita dan mengagumi keindahan arsitektur Borobudur sungguh merupakan pengalaman yang memukau. Relief cerita Borobudur, beserta tradisi budayanya, merupakan peninggalan masa lalu, dan masih memegang teguh tradisi leluhur hingga saat ini. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang khas, terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Tradisi budaya ini unik dan memukau, berkaitan langsung dengan tradisi budaya upacara keagamaan di Borobudur, seperti upacara Waisak dan ritual Budha. Bahkan asal usul nama Borobudur pun terkait dengan nama desa tersebut, yang menandakan keberadaan Borobudur.
Banyak relief Borobudur berkaitan dengan penjelasan dalam prasasti dan naskah sastra dari periode Jawa Kuno. Penjelasan ini dapat dilakukan melalui beberapa hal, yaitu rekonstruksi proses budaya dan rekonstruksi sejarah, serta rekonstruksi cara hidup. Dalam menjelaskan lanskap pedesaan di Borobudur, terdapat kriteria dengan atribut yang mencakup area seperti pegunungan dan perbukitan, area di lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar.
Masyarakat di kawasan Borobudur memiliki tradisi yang melekat dengan kehidupan dan budaya mereka sejak zaman dahulu. Tradisi budaya dapat diartikan sebagai warisan leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Keragaman budaya, sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, merepresentasikan beragam nilai seni. Keberadaan tradisi budaya tidak dapat dipisahkan dari sejarah masa lalu. Secara umum, budaya berkaitan erat dengan tradisi kehidupan bermasyarakat.
Dilihat dari makna relief Borobudur yang terpahat dengan elok, relief - relief tersebut merepresentasikan nilai seni budaya Jawa yang dipadukan dengan makna simbolis dalam agama Budha. Bahkan, Borobudur penuh dengan ukiran yang menggambarkan kisah/cerita yang dipahat mulai dari dinding lantai dasar hingga lantai lima. Relief Borobudur dipahat dengan sangat halus dan estetika tinggi, berjumlah 1.460 panel naratif, dan 1.212 panel relief dekoratif yang tersusun dalam 11 baris mengelilingi bangunan di setiap lorong, kecuali teras melingkar di bagian atas. Panel relief ini sebagian besar merupakan serangkaian relief yang memiliki cerita dengan bentuk gambar seperti dewa, manusia, hewan, pohon, rumah, dan sebagainya.
Menjelajahi tradisi budaya yang terpahat dalam relief cerita dan mengagumi keindahan arsitektur Borobudur sungguh merupakan pengalaman yang memikat. Relief cerita Borobudur, beserta tradisi budayanya, merupakan peninggalan masa lalu, dan masih menjunjung tinggi tradisi leluhur hingga saat ini. Borobudur dan desa-desa di sekitarnya memiliki tradisi dan upacara yang unik, terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Tradisi budaya ini unik dan menarik, berkaitan langsung dengan upacara keagamaan di Borobudur, seperti upacara Waisak dan prosesi ritual Buddha. Bahkan asal usul nama Borobudur pun terkait dengan nama desa tersebut, yang menandakan keberadaan Borobudur.
Relief-relief Borobudur sangat indah dan menyampaikan nilai estetika harmoni budaya serta suasana yang istimewa, layaknya kumpulan teks suci. Keindahan relief Borobudur juga mengabadikan secara visual isi teks suci tersebut, mulai dari kaki candi hingga dinding lorong-lorong di lantai satu hingga empat. Gambar-gambar pahatan pada relief Karmawibhangga diambil dari kisah-kisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Relief Karmawibhangga, yang terletak di kaki Candi Borobudur, mengandung narasi dan kekayaan makna, makna penting, serta informasi, termasuk informasi tentang berbagai flora dan fauna, lingkungan alam, status sosial, berbagai gaya dan bentuk pakaian serta perlengkapan, musik, instrumen upacara adat, mata pencaharian, peran perempuan, dan masih banyak lagi.
Bentang alam dan budaya kawasan Borobudur meliputi sungai, sawah, danau purba, rumah, dan lingkungan pedesaan banyak diceritakan dalam relief yang indah. Beberapa ciri khas kawasan pedesaan pada periode Jawa Kuno, termasuk desa - desa di kawasan Borobudur, meliputi sawah, sawah pasang surut / tadah hujan, tegalan, kebun / hutan (alas), pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah adat, serta pembuatan tembikar juga dipahat dengan teliti. Relief dan prasasti digunakan untuk menafsirkan atribut - atribut budaya ini.
Borobudur kaya akan ukiran relief yang terpahat di dinding setiap koridor, beberapa di antaranya menggambarkan beragam tumbuhan dan vegetasi. Tumbuhan dan relief dikategorikan berdasarkan berbagai konteks dan spesiesnya. Dalam konteks ini, lokasi tumbuhan dan jenisnya digambarkan sesuai dengan kondisi yang tumbuh di kawasan Borobudur. Berbagai konteks dan jenis tumbuhan dalam relief Borobudur mencakup penyebutan tumbuhan yang ditemukan di berbagai lokasi, seperti permukiman, danau, tempat ibadah, vihara, sawah, tegalan, dan hutan. Beberapa tumbuhan yang ditemukan antara lain: biola indah, jambu biji, kamboja, keben, kelapa, keluwih, ketapang, lontar, mangga, manggis, nangka, nyamplung, padi sawah, sirih, pisang, pelepah pohon, rumput gajah, sukun, tanjung, teratai, dan masih banyak lagi.
Menurut Setyawan, tumbuhan pada relief Lalitavistara memiliki konteks yang serupa dengan tumbuhan pada relief Chandi Borobudur, antara lain: konteks tumbuhan di hutan, Istana Dewa, tumbuhan di istana, taman, danau, asrama, pertapaan, daerah aliran sungai, dan tempat ibadah. Tumbuhan tersebut antara lain: pohon Bodhi, jambu biji, jarak pagar, keben, ketapang, mangga, nagasari, nangka, nyamplung, pisang, rumput gajah, sukun, kembang sepatu, dan masih banyak lagi.
Tanaman pangan yang disebutkan dalam prasasti dan naskah sastra Jawa Kuno meliputi berbagai jenis padi, termasuk sega lalab, veas kukus, skul dakdannan, skul dinyun, dan skul matiman, jagung, kacang kedelai, singkong, kacang panjang, gadun, suweg, dan tales, yang merupakan jenis umbi-umbian yang dikenal masyarakat Jawa Kuno.
Tumbuhan buah-buahan digambarkan sebagai sunkun (kacang gula), lebih umum dikenal sebagai sukun (kacang gula), jruk (buah), limo (kacang jeruk), dan mayang (jeruk dalam bahasa Indonesia). Banyak nama lain untuk jenis buah-buahan lainnya, sebagaimana disebutkan dalam teks Ramayana Jawa Kuno dan beberapa prasasti, antara lain jambu biji, mangga, manggis, rambutan, pisang, kelapa, nangka, langsat (duku), dan duwet (duwet).
Menurut sumber berita Tiongkok dari Dinasti Sung (960-1279 M), tumbuhan penghasil serat menyebutkan bahwa pada masa itu, masyarakat Jawa kuno sudah mengenal budidaya ulat sutra untuk dijadikan sutra. Mereka mampu menghasilkan sutra tipis, sutra kuning, dan bahkan membuat pakaian dari katun. Kain sutra, sebagaimana disebutkan dalam laporan berita Tiongkok, tampaknya menjadi komoditas perdagangan, karena pakaian merupakan kebutuhan sekunder setelah makanan.
Berdasarkan data prasasti Jawa Kuno dari abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, jenis pakaian dan kain yang dikenal pada masa itu antara lain kain atau ken. Tanaman pewarna adalah tumbuhan yang berfungsi sebagai pewarna. Masyarakat Jawa Kuno dikenal dengan beberapa profesi atau pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan pewarnaan. Prasasti tersebut juga menjelaskan perkembangan zat pewarna, seperti Wungkudu (pewarna merah), dan nila (pewarna biru atau hitam). Kedua jenis tumbuhan ini digunakan sebagai pewarna.
Menjelaskan dalam pengolahan makanan / kuliner Masyarakat Jawa Kuno pada abad ke-9-10 Masehi sudah mengenal cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang ditutupi dalam periuk, dyun adalah periuk atau kuali (belanga) besar terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau memasak nasi. Dalam Prasasti Panggumulan 902 M disebutkan bahwa Lontar digunakan sebagai alas untuk memakan nasi tim dengan lauk asin dan dendeng kakap. Beberapa prasasti Jawa Kuno menyebutkan alat untuk memasak nasi, yaitu penanak nasi berupa kukusan besar dari logam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada cara memasak nasi dengan menggunakan kukusan.
Selain diolah sebagai makanan pokok, beras juga digunakan sebagai bahan dalam minuman beralkohol. Istilah "brem" mengacu pada sejenis minuman keras yang terbuat dari beras. Dodol, sejenis makanan yang dikenal masyarakat Jawa Kuno pada abad ke-9 - 10 Masehi, disebut dodol. Dodol adalah sejenis makanan dari masa Jawa Kuno yang terbuat dari beras atau ketan yang dicampur dengan buah dan gula.
Dalam pengolahan minuman, masyarakat Jawa Kuno juga telah menggunakan tebu sebagai bahan dasar minuman beralkohol yang disebut siddhu. Siddhu atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara sima, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Sangguran, 928 Masehi. Catatan Tiongkok dari Dinasti Tang dan Sung menyebutkan bahwa minuman yang populer adalah minuman beralkohol yang terbuat dari kelapa atau bunga lontar.
Pengolahan minyak, yang dikenal sebagai lenga, digambarkan dalam beberapa prasasti sebagai minyak yang terbuat dari tumbuhan. Dalam hal ini, minyak kelapa merupakan salah satu jenis minyak yang dimaksud. Minyak kelapa digunakan untuk memasak dan penerangan. Menurut Sarkar (1972), lenga dapat dibuat dari biji wijen, yang digunakan dalam pengolahan makanan. Lenga, sebagai produk olahan tumbuhan, juga merupakan komoditas yang dijual bebas dan dikenakan pajak.
Selain relief tumbuhan yang indah yang terpahat di dinding dan langkan Borobudur, terdapat pula relief hewan yang menggambarkan berbagai spesies hewan, termasuk burung, ikan, kura-kura, gajah, monyet, kuda, kelinci, rusa, ular, labirin, kambing, dan masih banyak lagi.
Relief alat transportasi di Borobudur menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno telah mengenal cara membawa dan mengangkut barang. Berbagai alat transportasi laut dan darat tergambar dalam relief Candi Borobudur. Transportasi laut digambarkan dalam bentuk sampan, perahu, atau kapal cadik yang lebih besar, khas Indonesia. Kapal cadik dahulu digunakan untuk transportasi laut, baik untuk perdagangan maupun pengangkutan hasil pertanian. Sementara itu, relief transportasi darat menggambarkan kereta api atau hewan yang menungganginya.
Aktivitas masyarakat Jawa kuno sangat beragam. Aktivitas yang umum dan sering dijumpai antara lain bercocok tanam, mengolah ternak atau ikan, memasak dan menyajikan makanan, menari, bermain musik, dan bersenda gurau. Pembuatan gerabah juga merupakan aktivitas yang umum di kalangan masyarakat Jawa kuno. Di kawasan Borobudur, beberapa desa masih menekuni pembuatan gerabah, menenun, dan kegiatan terkait kesehatan seperti pijat dan pembuatan jamu.Potensi Borobudur dijelaskan melalui beberapa topik, termasuk flora, fauna, dan pengelolaan lahan: pertanian tradisional (relief sawah, sawah, pembajakan), rempah-rempah (herbal seperti jamu dan pijat spa), kerajinan (tembikar, seni kuliner), musik, dan tari.
Potensi wisata interpretatif sebagian besar berkaitan dengan penceritaan yang menarik antara Borobudur dan potensi daya tariknya. Tema / pola perjalanan mencakup topik - topik terkait seperti menikmati Borobudur tanpa memanjat struktur candi, upacara spiritual / keagamaan, penceritaan yang berkaitan dengan garis imajiner Mendut - Pawon - Borobudur, Budha di atas bunga teratai, Sungai Gangga / Yamuna (Progo - Elo), Borobudur sebagai Meru; meditasi, dan sebagainya.
Topik lain yang berkaitan dengan kesehatan / kebahagiaan / ketenangan meliputi pengolahan tanaman pangan / hewan secara tradisional (kuliner, kelas memasak). Kesehatan / tubuh dan jiwa / rempah - rempah / jamu / pijat / spa / yoga / meditasi. Berisi nama-nama desa atau lokasi di area tersebut yang dapat dikaitkan dengan sejarah Chandi Borobudur. Olahraga (jemparing dan sebagainya). Potensi wisata interpretatif berbasis lanskap / geologi. Konstelasi Astrologi. Maritim (transportasi, perikanan). Perjalanan Batu ke Chandi Borobudur (Batu Journey). Kisah cinta (Love Stories). Kerajaan - kerajaan kuno, dan lainnya.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Nikmati bacaan dalam bahasa Inggris, namun tetap memikat dan diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan lancar. Temukan bacaan mendetail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi dan kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengeklik tautan detail di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Pelajari lebih lanjut tentang Chandi Borobudur di Barabudur, atau Borobudur, Candi Buddha Warisan Budaya Indonesia.
Untuk bacaan yang lebih menyenangkan, jelajahi narasi tematik lebih detail di Wawasan Borobudur bersama Pemandu Wisata.
Menurut legenda, diceritakan tentang arsitek perancang Chandi Borobudur bernama Gunadharma, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa. Legenda Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
![]() |
Stupa dengan pemandangan bukit Menoreh Legenda Gunadharma, cerita rakyat tentang perbukitan Menoreh yang menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal yang menceritakan Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Mandala Borobudur Denah dasarnya, merupakan lambang alam semesta kosmologi Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Chandi Borobudur adalah mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Budha di Jawa.



Comments
Post a Comment